SEMUA misi agama-agama besar, khususnya Islam, menekankan pada pengembangan moralitas luhur dalam kehidupan. Agama-agama dihadirkan untuk pengentasan manusia dari kebiadaban, menuju pencerahan dalam arti senyatanya.

Melalui agama, manusia dituntut untuk membangun komunikasi secara vertikal dan horizontal dalam kerangka nilai-nilai moralitas luhur tersebut. Misal, interaksi antar sesama perlu dikembangkan dalam kerangka kesetaraan, kasih sayang, keadilan, dan solidaritas kukuh. Nilai-nilai sejenis juga menjadi perhatian utama agama dalam menuntun manusia untuk mengolah alam dan kehidupan secara arif.

Realitas Kontemporer

Jika kita mau jujur, misi luhur tersebut dewasa ini nyaris terkelupas dari agama. Gejala keberagamaan yang berkembang kuat adalah keberagamaan yang kering dari nuansa moral spiritual. Implikasinya, agama tidak mampu lagi menyejukkan hati manusia, apalagi mendewasakannya, terutama dalam menyelesaikan persoalan kehidupan dan kemanusiaan. Alih-alih, klaim kebenaran sepihak dan dogma-dogma dikotomis yang hitam putih menjadi karakteristik utama.

Fenomena model keberagamaan itu -sampai batas tertentu- tidak bisa dilepaskan dari sikap dan perilaku sebagian pemuka agama yang menghadirkan agama tak lebih sebagai memedi untuk menakut-nakuti manusia. Untuk itu, tafsir-tafsir agama yang sarat dengan ancaman neraka serta hukum halal-haram mengenai beragam persoalan atau yang serupa dengan itu menjadi isu dominan dari waktu ke waktu. Doktrin agama dogmatik yang mengerikan diangkat secara parsial dan lebih dikedepankan daripada kearifan keagamaan yang memperbincangkan serta menyentuh akar dan seluk-beluk di balik persoalan.

Dampaknya adalah menguatnya formalisme agama. Di sembarang tempat dan ranah publik bertebaran simbol-simbol agama yang kaku dan eksklusif. Keberagamaan itu juga cenderung melakukan othering yang rentan memicu kekerasan. Nyaris tidak ada satu celah pun di ruang publik yang terlepas dari cengkeraman simbol agama semacam itu. Namun, di saat yang sama, kebejatan moral, mulai korupsi hingga kekerasan yang mengatasnamakan agama, terus membayang-bayangi kehidupan, khususnya di bumi pertiwi ini.

Agama sebagai memedi berpeluang lebih menguat pada saat-saat tertentu ketika sangat “diperlukan” untuk justifikasi. Saat ini, ketika kampanye pilpres dihelat, agama bisa dijadikan alat untuk memaksa masyarakat agar memilih pasangan capres-cawapres tertentu, sebagaimana pula dapat dijadikan sebagai media untuk menakut-nakuti masyarakat supaya tidak memilih pasangan capres-cawapres lain. Semua itu sekadar bertujuan mendulang suara dan meraih kekuasaan sesaat.

Pengembangan Agama

Merajalelanya formalisme keberagamaan semacam itu tidak hanya akan meminggirkan peran luhur agama dalam kehidupan, tapi sekaligus memberikan peluang lebih besar bagi meruyaknya kekerasan yang diatasnamakan agama. Agama tidak akan berperan lagi dalam mengembangkan kehidupan yang lebih beradab dan manusiawi. Karena itu, tugas seluruh umat beragama, terutama kalangan elite dan pemuka, untuk mengembalikan agama kepada substansi holistisitas nilai-nilai yang dikandung.

Untuk itu, para elite agama perlu mengakui secara jujur esensi pesan agama yang dianut, yang seutuhnya bersifat moral. Moralitas paling utama tentu kebenaran agama itu sendiri. Dari kebenaran agama tersebut, lahir moralitas agung lain, seperti keadilan dengan segala turunannya, ketulusan, kesejahteraan, serta kedamaian. Nilai-nilai moralitas tersebut menjadi kembaran kebenaran agama karena merepresentasikan kebaikan perenial yang merupakan sisi lain lembaran yang sama.

Pengembalian agama kepada misi yang genuine sangat signifikan. Sebab, tanpa itu, agama akan menjadi sekadar pembenar bagi paham, ideologi, fatwa, atau tindakan yang belum tentu memiliki kebenaran sesuai dengan nilai agama serta belum tentu membawa kemaslahatan bersama.

Dalam konteks Islam, hal tersebut meniscayakan rekonstruksi hubungan teologi sebagai sumber moral dengan syariat atau fikih sebagai norma dalam kehidupan. Memodifikasi penjelasan David L. Johnston dalam Epistemology and Hermeneutics of Muslim Theologies of Human Rights (2007:154), interdependensi antara teologi dan fikih perlu dipertajam sekaligus dilabuhkan dalam kehidupan.

Dengan demikian, keberagamaan tidak hanya akan terpaku pada pandangan dikotomis hitam putih, melainkan sanggup menyelami akar persoalan manusia dan kehidupan serta dapat memberikan tawaran-tawaran solutif yang tidak rigid maupun sepotong-sepotong. Selain itu, agama diharapkan tidak dijadikan alat pembenaran kepentingan-kepentingan tertentu yang sektarian dan sejenisnya.

Melalui itu, keberagamaan yang berkembang bukan lagi sekadar memedi untuk menakut-nakuti anak kecil. Agama bakal lebih eksis sebagai rujukan dan pedoman yang menyejukkan serta mencerahkan, bukan hanya bagi penganut agama masing-masing, tapi juga bangsa dan umat manusia. (*)

*). Abd A’la, pembantu rektor 1, guru besar IAIN Sunan Ampel, Surabaya

sumber: jawa pos