MASA kampanye presiden sedang berlangsung. Pada masa ini, masing-masing kandidat dan timnya mengeluarkan kekuatan terbaik guna mencapai tujuan, yaitu memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan presiden yang diselenggarakan 8 Juli nanti.

Terdapat sejumlah hal yang mewarnai pemilihan menuju kursi presiden dan wakil presiden ini. Pertama, para kandidat menyampaikan visi dan misi melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Meski mengeluarkan dana yang tidak sedikit, langkah ini dilakukan guna memperkenalkan visi dan misi tersebut kepada rakyat yang berpotensi memilihnya.

Kedua, masa ini ditandai dengan sikap para kandidat yang mengunggulkan diri dibandingkan kandidat lain.Tentu hal ini wajar dalam berpolitik, guna mengesankan dirinya lebih baik dibanding kandidat lain di mata rakyat.Ketiga,masa ini ditandai pula dengan saling kritik antarkandidat. Kelemahan seorang kandidat merupakan titik tolak munculnya saling kritik ini.

Namun, menjadi parah bila mengarah pada personalitas kandidat.Bila ini terjadi, persaingan sudah tidak sehat lagi. Padahal,bila dicermati,para kandidat capres diisi oleh putra-putri terbaik bangsa.Mereka adalah tokoh-tokoh yang sangat dihargai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,meski tak luput dari kelemahan.

Susilo Bambang Yudyonono adalah presiden RI keenam,sementara Jusuf Kalla masih menjadi wakil presiden sampai saat ini.Megawati juga orang yang dihormati karena pernah menempati posisi presiden RI yang kelima. Melihat pengalaman dalam pemerintahan, tentu tidak diragukan lagi kapabilitas dan komitmen mereka dalam melanjutkan kepemimpinan dan pembangunan bangsa ini sampai tahun 2014.

Hanya, tetap akan dipilih kandidat yang terbaik,yang merupakan pilihan rakyat Indonesia. Agar rakyat bisa menentukan pilihan dengan baik dan benar,tentu diperlukan perbandingan antarkandidat,sehingga dapat muncul keputusan objektif dari rakyat dalam menentukan pilihan terbaik mereka.

Karena itu,kapabilitas dan komitmen para kandidat untuk membangun negeri ini harus diwujudkan dalam rencana program-program konkret yang dipublikasikan ke tengah masyarakat luas. Selain itu, bila masing-masing kandidat memublikasikan program-program konkretnya di berbagai bidang,akan muncul ruang-ruang untuk melakukan kritik antarkandidat.

Antara satu dengan kandidat lain bisa saling kritik dengan menunjukkan kelemahan dari program yang ditawarkan kandidat pesaing, bukan lagi dalam ranah personalitas. Bila program seorang kandidat dikritik dari pesaing, maka kandidat tersebut harus melihat ulang program yang dibuatnya, lalu menjawab kritik dari pesaing, bahkan lebih baik bila melakukan kritik balik terhadap program yang ditawarkan pesaingnya di bidang yang sama.

Bila proses ini berlangsung, ada satu keuntungan yang utama, yakni para kandidat akan berhati-hati dalam menyampaikan program yang kelihatannya sangat baik,tapi pencapaian sulit bahkan tidak realistis.

Hal itu karena khawatir akan dikritik oleh kandidat lain,apalagi bila kandidat lain bisa menawarkan program yang lebih realistis implementasi nya dan membawa kemaslahatan bagi rakyat banyak. Dengan demikian, para kandidat akan berusaha keras menyusun program-program terbaik dan realistis untuk dicapai.Kondisi inilah yang ditunggu.(*)

sumber:koran sindo