Pendidikan yang baik adalah dasar kemajuan suatu. Tetapi, pendidikan di Indonesia sama sekali belum sepenuhnya tersentuh oleh tangan-tangan pemerintah. Output yang dikeluarkan pun tidak seperti apa yang telah menjadi tujuan pendidikan.

Ada tiga macam lembaga pendidikan yang terdapat di Indonesia yaitu sekolah umum, madrasah, dan pesantren. Antara madrasah dan sekolah umum tidak banyak perbedaannya. Akan tetapi, lembaga yang satunya yaitu pesantren adalah lembaga yang jauh berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan yang lain.

Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang memanusiakan manusia. Artinya, penyelenggaraan pendidikan harus diarahkan pada pembentukan perilaku yang baik. Karena itulah di hampir seluruh lembaga pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia ini terdapat muatan materi tentang akhlak. Diharapkan, output yang dihasilkan nantinya di samping berintelektual tinggi juga mempunyai budi pekerti yang baik. Dalam sejarahnya, pesantren telah eksis sejak penyebarannya pada zaman penjajahan Belanda yang didirikan oleh para Wali Songo. Penyelenggaraannya pun sangat baik untuk membentuk manusia yang mempunyai kepribadian (saleh pribadi dan sosial). Jika para pemimpin negeri tercinta ini memiliki kepribadian yang baik, tindak korupsi pun minimal akan berkurang. Inilah yang diharapkan dari penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.

Pembelajaran yang ada di pesantren sangat menarik untuk dicermati. Sebab, dalam penyelenggaraannya, pembelajaran berlangsung selama 24 jam. Santri sebagai sebutan siswa di pesantren harus tinggal di pesantren tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama. Ada yang nyantri (belajar di pesantren) selama 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun bahkan ada yang nyantri di pesantren mulai dari kecil sampai dewasa.

Hal inilah yang kemudian menjadi kelebihan tersendiri dari pesantren. Kelebihan itu tidak dapat kita lihat dari lembaga lainnya. Mayoritas lembaga pendidikan selain pesantren belum menerapkan sistem seperti ini. Kalaupun ada, itu pun belum semaksimal yang telah berlangsung seperti di pesantren.

Metode yang digunakan dalam pembelajaran di pesantren adalah metode musyawarah, ceramah, bandongan, dan metode yang sangat urgen yaitu conditioning operant. Hal ini senada dengan tujuan awal didirikannya lembaga ini. Serta tujuan umum dari pendidikan yang memprioritaskan aspek psikomotor dari akhlaqul karimah. Sebagaimana tujuan Rasulullah diutus di bumi sebagai mahaguru dalam dunia pendidikan, yaitu untuk membenahi akhlak. Dalam sabdanya disebutkan, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

Metode conditioning operant atau operant conditioning adalah metode yang digunakan dalam pembelajaran dengan cara membiasakan peserta didiknya mempraktikkan materi-materi yang telah diberikan selama proses pembelajaran. Ini dilakukan supaya nantinya peserta didik tidak kaku dan canggung dalam mengimplementasikan ilmu yang telah didapatkannya.

Jadi, dalam pembelajaran di pesantren telah terdapat tiga ranah pembelajaran sebagaimana teorinya bloom, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik (Suharsimi: 2002). Kognitif adalah pembelajaran pada ranah pengetahuan, pemberian informasi. Afektif adalah ranah pembelajaran yang mengedepankan sikap dari pengetahuan yang telah didapat dan atau diberikan oleh gurunya. Sedangkan psikomotorik yaitu pembelajaran pada ranah perilaku seseorang dari apa yang telah dipahami. Ranah inilah yang selama ini sebenarnya ingin dicapai oleh pendidikan di Indonesia.

Selama ini pendidikan di Indonesia sangat mengidolakan pendidikan yang berbasis reflektif. Diharapkan, penyelenggaraan pendidikan dapat mencakup ketiga ranah di atas. Akan tetapi, harapan tersebut sampai sekarang masih saja hanya sebatas harapan.

Walaupun pesantren bukan termasuk lembaga pendidikan yang formal, tetapi bukan berarti pesantren tidak mampu mencetak manusia intelektual. Banyak tokoh yang digandrungi seperti sekarang ini lahir dari rahim pesantren. Susilo Bambang Yudhoyono, Gus Dur, Hasyim Muzadi, Ulil Abshor Abdalla dan sederetan nama-nama yang lain juga lahir dari rahim pesantren.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang sampai sekarang masih terus eksis. Ini membuktikan bahwa pesantren mempunyai kualitas yang tak dapat dipandang sebelah mata.

Hal yang patut ditiru dalam pendidikan di pesantren adalah metode pengondisian pembelajaran, metode yang selama ini sangat sulit diterapkan di lembaga-lembaga formal. Ternyata, jika ditelisik, metode itu sudah diterapkan di lembaga pesantren sejak zaman Wali Songo.

Tetapi, sejauh ini pesantren belum mendapatkan perhatian maksimal dari pemerintah. Pesantren yang menjadi lembaga mandiri (tidak bergantung pada campur tangan dari pihak mana pun) tidak mengalami kesulitan untuk tetap eksis di tengah percaturan lembaga pendidikan.

Sekarang ini pesantren telah mengembangkan sayap pendidikannya untuk mencetak intelektual muslim yang tidak sekadar pandai dalam ilmu agama saja, tetapi juga pandai dalam teknologi yang memang berpotensi untuk lebih cepat menyebarkan informasi. Hal ini telah dilakukan di berbagai lembaga pesantren seperti Pesantren Darul Falah Jekulo yang membekali para santrinya dengan berbagai soft skill.

Mengingat moral bangsa yang makin hari makin terkikis, maka pendidikan berbasis pesantren perlu dipertimbangkan. Sistem conditioning operant yang diterapkan di pesantren layak untuk direkomendasikan menjai metode yang mutlak harus ada dalam lembaga pendidikan agar mampu mencetak manusia yang berintelektual sekaligus berakhlak mulia.

Apalagi Indonesia termasuk negara yang minim kejujuran, sehingga perlu mencanangkan untuk melatih para anak didiknya berbuat jujur dengan mendirikan kantin kejujuran. Hal ini bertujuan untuk membiasakan anak didik berbuat jujur. Padahal, metode itu telah dipakai oleh pesantren sejak zaman kolonial. Di samping pembelajaran kejujuran, pembelajaran untuk berbuat baik terhadap sesama, tidak iri, toleran dan berakhlak baik juga dibiasakan dalam pesantren. Inilah yang harus ditiru dalam pendidikan di Indonesia.

sumber:suara karya online