Rabu 8 Juli 2009, menjadi hari penting dalam sejarah Indonesia. 176 juta rakyat yang tercatat di DPT, plus warga yang memegang KTP memilih presiden dan wakilnya untuk masa bakti lima tahun ke depan. Meski kisruh DPT sudah dicarikan solusi oleh MK lewat KTP, semoga pilpres bisa berlangsung damai dan tidak terjadi kekisruhan.

Sudah banyak hal terkait pilpres diulas di media. Tapi, satu hal yang amat penting agak dilupakan, yakni bagaimana kita “legawa” menerima kekalahan. Ini penting diketengahkan meskipun ketiga capres-cawapres sudah berjanji menerima hasil apa pun dan tak akan bersengketa (Jawa Pos 7 Juli 2009).

Sejarah Tak Mau Kalah

Sejarah sudah mengingatkan, dari para raja Nusantara di masa lalu hingga para pemimpin saat ini ternyata tidak pernah siap untuk kalah. Pramoedya Ananta Toer sudah mendokumentasikan dari Kerajaan Singasari hingga Mei 1998, selalu ada darah tertumpah akibat pergantian kekuasaan. Para korban keris Mpu Gandring, korban 1965 atau korban Mei 1998 adalah saksinya.

Konyolnya, dalam keseharian, orang lebih menonjolkan kemenangan atau kesuksesan. Lalu kekalahan dicampakkan dan dianggap sebagai kutukan. Lihat, sistem pendidikan kita juga terlalu menghargai anak-anak yang bisa meraih angka atau nilai bagus, tetapi tidak becus dalam kehidupan. Olahraga kita juga menjadi cermin buruk, karena banyak konflik kekerasan dipicu oleh sikap tidak mau menerima kekalahan.

Kekalahan dianggap sebagai cela. Seolah kekalahan adalah noda hitam yang layak disesali seumur hidup. Padahal, ajaran yang terlalu mengagungkan kemenangan jelas bukan merupakan ajaran yang holistik atau utuh.

Kehidupan kita masing-masing adalah cermin. Betapa tidak ada kehidupan yang mulus 100 persen atau hanya terdiri atas kemenangan. Sebaliknya, tidak ada kehidupan yang hanya dipenuhi kekalahan.

Lalu, bagaimana kekalahan harus dihayati? Kekalahan tentu saja tidak pernah menjadi cita-cita kita. Tentu hanya orang bodoh yang menginginkannya. Lihat, setiap capres-cawapres yang berkompetisi di ajang pilpres pasti hanya mengharapkan sebuah kemenangan. Maka setiap capres cawapres memiliki tim sukses. Tidak ada tim gagal atau kalah. Walau para capres-cawapres ada yang kalah, tim suksesnya dijamin tidak pernah kalah. Maklum, mereka sudah mendapatkan bayaran sepadan.

Oleh sebab itu, segenap rakyat Indonesia jangan hanya memberi tepukan atau pujian kepada capres cawapres yang berhasil keluar sebagai pemenang. Kita juga perlu memberikan apresiasi atau penghargaan kepada capres cawapres yang kalah. Sebab, tanpa keberanian dari capres-cawapres yang kalah, Pilpres 8 Juli tidak akan menjadi lengkap.

Lewat biaya dan tenaga mereka, pesta demokrasi kita kali ini menjadi lebih kompetitif. Bahkan, roda ekonomi bisa bergerak karena banyaknya belanja iklan di media. Coba, apa tidak lucu kalau hanya ada satu capres cawapres yang maju dalam Pilpres 8 Juli?

Sedangkan capres cawapres yang tengah di atas angin kemenangan seharusnya menyalami pihak yang kalah. Jangan menunggu pihak yang kalah menyalami pihak yang menang. Sebab, kemenangan tidak bisa diraih, kalau tidak ada yang kalah atau ada pihak yang mau menerima kekalahan dengan “legawa”.

Gore dan Ramalan Joyoboyo

Bagi capres-cawapres yang kalah dalam Pilpres 8 Juli, kekalahan itu semoga bukan berarti akhir bagi pengabdian pada nusa dan bangsa. Kekalahan yang diterima dengan sikap ksatria atau kenegarawanan jelas bisa memberi nilai tersendiri. Untuk itu para pendukung atau konstituen juga perlu diberi penjelasan bahwa kekalahan bukan berarti harus “mutung”. Negeri ini tidak akan bisa meraih impiannya jika ada anak bangsa yang tak mau berkarya lagi.

Kita bisa belajar dari Al Gore yang mau mengalah dengan George W. Bush dalam Pilpres 2004. Gore menjadi pahlawan penyelamat lingkungan hidup dunia dan dianugerahi Nobel Perdamaian 2008.

Sudah banyak contoh, gara-gara pemilu, konflik atau kerusuhan justru meledak. Contoh teraktual adalah Iran. Kasus pilgub di Maluku Utara juga bisa menjadi pelajaran. Terlebih belakangan ini, cukup banyak pertanyaan ditujukan kepada penulis terkait bakal terpenuhinya ramalan Joyoboyo ketujuh, yakni “Tikus pithi anoto baris”. Maknanya, akan muncul barisan pemberontakan rakyat Nusantara dari berbagai penjuru. Konon keenam ramalan Joyoboyo lainnya sudah terjadi atau terpenuhi.

Penulis tidak percaya kepada ramalan. Tapi, apa salahnya kita mengantisipasi hal satu ini agar tidak terjadi dan Indonesia tetap damai? Sebab, tanpa ramalan seperti itu pun, sudah banyak kasus, seperti disebutkan di atas, bahwa pascapemilu merupakan saat-saat yang rawan dan rentan konflik atau kekerasan. Mempertimbangkan kondisi itu, penulis merasa perlu kita mau menerima kekalahan atau syukur-syukur mau memuliakannya.

Confucius menulis: “Kemulian hidup bukan karena kita tak pernah kalah atau jatuh. Namun, bagaimana kita bisa segera bangkit setelah kalah atau jatuh”.

Kita juga perlu menyamakan persepsi, pilpres bukan tujuan utama bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pilpres hanyalah sarana demokratis guna mencari pemimpin yang bisa membawa kesejahteraan dan kejayaan. Karena itu, proses pilpres, khususnya mulai Hari H hingga pengumuman hasilnya, jangan sampai mengorbankan apa yang baik yang telah kita capai bersama. Menjaga Indonesia tetap damai adalah tugas mulia bagi setiap anak bangsa, baik yang jagonya menang atau kalah dalam pilpres. (*)

sumber:kompas