Kata peradaban (al-hadharat, civilisation) sering diidentikkan dengan kata kebudayaan (al-tsaqafah, culture). Meski sementara kalangan membedakan pengertian kedua kata tersebut, argumentasi yang mengidentikkan keduanya cukup kuat. Komprominya ialah bahwa pada suatu saat pembedaan itu absah, dan pada saat yang lain pengidentikan juga absah.

Selain disebut al-hadharat, peradaban juga disebut dengan al-tamaddun. Karena itu, tidaklah mengherankan apabila masyarakat madani kemudian diterjemahkan menjadi masyarakat beradab atau civil society. Dalam pengertiannya yang paling luas, peradaban mencakup aspek material maupun imaterial.

Tentang siklus peradaban, Arnold Toenbee berkata bahwa peradaban suatu bangsa berawal dari lahir, kemudian berkembang, maju, merosot, dan pada akhirnya ia akan tenggelam. Pendapat itu benar melihat realitas yang terjadi pada umat Islam sekarang. Islam saat ini benar-benar telah dilanda krisis peradaban.

Jika dilihat secara historis, umat Islam telah melampaui tiga siklus peradaban di atas. Lahirnya peradaban Islam dimulai pada zaman Nabi Muhammad SAW. Ketika itu masyarakat jahiliah mengalami krisis moral dan ilmu pengetahuan. Kekerasan terjadi di mana-mana, yang kaya melecehkan yang miskin, yang kuat menindas yang lemah. Nilai-nilai kemanusiaan tidak lagi diperhatikan.

Kemudian datanglah Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW. Ini suatu ajaran yang membawa nilai-nilai moralitas, tauhid, dan menjunjung tinggi kehormatan manusia serta memperjuangkan hak asasi manusia (HAM). Sebelum Islam datang, masyarakat jahiliah mempunyai budaya biadab, yaitu mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Mereka merasa malu jika anak yang lahir adalah anak perempuan. Kemudian Islam datang dan memberantas itu semua.

Di sinilah Islam mulai membangun sebuah peradaban yang benar-benar membawa nilai-nilai universal. Setelah itu Islam terus dikembangkan hingga menguasai dua peradaban besar Arab, yaitu Romawi dan Persia. Kekuasaan Islam terus berkembang seiring dengan perjalanan zaman dari Arab, Eropa hingga ke China yang saat itu China merupakan sebuah negara yang maju dalam bidang ilmu pengetahuan.

Banyak ilmuwan lain yang muncul pada era keemasan Islam, seperti Al-Gazali yang terkenal dengan tasawuf dan filsafatnya dengan karyanya yang terkenal, Ihya’ Ulumuddin. Ada lagi Ibnu Rusyd, seorang dokter dan juga tokoh filsafat. Demikian pula Ibnu Khaldun, yang dikenal sebagai “bapak sosiologi”, adalah seorang sosiolog yang telah menulis sebuah karya monumental yang berjudul Muqaddimah.

Saat itu Islam telah mengalami kemajuan di berbagai bidang, lebih-lebih di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kejayaan peradaban Islam ini terus berlangsung sampai akhirnya Mongol menyerang dunia timur Islam, yang berpuncak pada serangan terhadap Baghdad. Di dunia Barat, peradaban Islam mulai ambruk semenjak satu demi satu wilayah Islam ditaklukkan oleh Eropa. Akhirnya, Kordova pun tinggal kenangan belaka.

Runtuhnya Kesultanan Turki Utsmaniyyah tercatat telah mencabik-cabik persatuan umat Islam sehingga Eropa pun makin kuat mencengkeramkan kuku-kuku imperialismenya di negara-negara muslim. Peradaban Islam mengakhiri kejayaannya bersamaan dengan tercerahkannya Eropa pada masa Renaisans.

Mengapa saat ini Islam mengalami kemunduran, khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi? Ada beberapa hal penting yang perlu diperbaiki dari umat Islam saat ini. Di antaranya, pertama, umat Islam saat ini tidak mempunyai semangat belajar seperti semangat ilmuwan muslim terdahulu.

Padahal, ajaran Islam telah mewajibkan seluruh pemeluknya untuk menuntut ilmu. Kebanyakan umat Islam saat ini lebih sibuk mempermasalahkan hal-hal yang sifatnya khilafiah seperti perbedaan kunut, tahlilan dan lainnya. Dengan demikian, konsentrasi untuk mencari ilmu pengetahuan terpecah dan bahkan hilang.

Kedua, kurangnya keinginan umat Islam untuk memahami dan mendalami ilmu pengetahuan yang ada di dalam Al-Qur’an secara komprehensif. Jika ditelaah secara saksama, di dalam Al-Qur’an kita akan banyak menemukan ayat-ayat yang berbicara tentang ilmu pengetahuan serta ajakan-ajakan untuk mendalami ilmu pengetahuan itu sendiri.

Contohnya adalah ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang fungsi kulit, yaitu, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat Kami kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka, setiap kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab.” (QS An-Nisaa: 56)

Mengapa Allah menggunakan kata “kulit” untuk merasakan azab? Ternyata setelah diteliti oleh Prof Tejatat Tejasen (nonmuslim) di Thailand, kulit adalah indra perasa yang paling sensitif. Akhirnya setelah mendengar ayat tersebut, profesor itu memeluk agama Islam. Mengapa malah orang nonmuslim yang mau menyelami lautan ilmu Al-Qur’an?

Ketiga, umat Islam terjebak dalam masalah politik (kekuasaan) khususnya di Indonesia. Bukan berarti Islam melarang untuk berpolitik praktis, melainkan umat Islam lebih cenderung mengikuti egoisme masing-masing, yaitu untuk mendapatkan kekuasaan.

Di Indonesia, partai-partai yang bernapaskan Islam sangat banyak. Anehnya, satu partai dengan partai yang lain saling mengedepankan ego masing-masing. Hal ini sungguh akan mengantarkan umat Islam pada kemunduran. Mengapa umat Islam saat ini mundur? Akar permasalahannya adalah mental umat Islam saat ini sangat lemah, terutama mental untuk melawan peradaban Barat, mental untuk menuntut ilmu, dan mental untuk bersatu. Untuk mengembalikan peradaban Islam, mental umat Islam itu sendiri harus diperbaiki.

Untuk mengembalikan mental tersebut diperlukan perbaikan kesadaran seluruh umat Islam, khususnya bagi mereka yang menjadi tokoh di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin. Untuk membangun kesadaran tersebut, diperlukan suntikan-suntikan semangat quraniyah yang ada di dalam kitab suci Al-Qur’an sendiri. Sebab, di dalam Al-Qur’an sudah banyak ajakan terhadap umat Islam untuk maju dan mengembangkan potensi diri dan masyarakat. Umat Islam benar-benar dituntut untuk memahami Al-Qur’an dan hadits Nabi secara komprehensif atau kontekstual, tidak sebatas pada makna tekstualnya saja.

sumber:suara karya online