Indonesia yang maju, bermartabat, berdaulat, berakhlak mulia, berilmu, mandiri, berani, dan kreatif, hanya bisa terwujud jika pendidikan diberi tempat utama. Jika pendidikan menjadi lokomotif pembangunan bangsa. Siapa pun yang menjadi pemimpin pemerintahan RI nanti, jika mereka mengabaikan hal ini, sebagian cita-cita dan janji mereka tidak akan terlaksana!

Perintah pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW, ‘Iqra!’, adalah perintah untuk mengarungi samudra ilmu pengetahuan. Perintah untuk melaksanakan pendidikan. Karena, pendidikan adalah pintu bagi peradaban. Dan, peradaban adalah penentu kualitas kebudayaan sebuah bangsa. Kualitas umat manusia: makhluk yang diciptakan Allah dari tanah dan paling sempurna, yang di dalamnya terpatri peri Ketuhanan Yang Maha Esa, dan derajatnya lebih tinggi dari malaikat yang terbuat dari cahaya dan dari jin yang terbuat dari api.

Untuk menjaga kemuliaan manusia, Tuhan pun menurunkan Muhammad sebagai nabi terakhir, dan Islam sebagai penyempurna semua agama, dengan Alquran sebagai hukum tertulis yang kukuh dan mulia. Dan, Islam yang dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia adalah agama yang hanya bisa dipahami dan dijalankan sebagaimana ditegaskan berulang-ulang di dalam Alquran oleh orang-orang yang ‘mengerti’, berakal, dan berpikir.
Intinya, sesungguhnya agama Islam hanyalah untuk mereka yang mau menuntut ilmu, terdidik, dan terpelajar.

Di sisi lain, Islam hanya untuk mereka yang ikhlas melaksanakan kerja sebagai ibadah, dan bertebaran di muka bumi untuk mencari rezeki yang telah Allah sediakan. Artinya, agama Islam tidak untuk orang yang malas dan duduk terpuruk di dalam kemiskinan. Islam hanya untuk mereka yang mau berlari sa’i dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah selama tujuh kali seperti dilakukan Siti Hajar–untuk mendapatkan air zamzam.

Maka, sesungguhnya umat Islam di sini harus berani bertanya kepada diri sendiri, apakah keunggulannya dalam besaran jumlah pemeluk berbanding lurus dengan kualitas umat sebagaimana dituntut oleh agama Islam sendiri? Jika jawabannya ‘tidak’, berarti ada yang salah secara fundamental di dalam sistem penyelenggaraan pendidikan di sini.

Harus pula disadari, di dalam kemayoritasan, terdapat amanah yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat. Jika di sebuah negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tetapi di situ terdapat kemiskinan, kebodohan, dan kemerosotan akhlak yang luas, sang mayoritas harus berani memikul dan menangkal aibnya. Dengan kalimat lain, jika sang mayoritas mengalami kebodohan, kemiskinan, dan kemerosotan akhlak, itu adalah tanggung jawab para pemimpinnya yang telah mempermalukan agama Islam dan menelantarkan umatnya dengan begitu rupa. Jadi, pemimpin umat di sini tidak hanya berhenti pada satu posisi: jika demokrasi melalui pemilu gagal dilangsungkan dengan baik, agama Islam (Indonesia) dipermalukan. Yang lebih esensial dari itu adalah jika kualitas manusia Indonesia gagal ditingkatkan, sesungguhnya agama Islam jauh lebih dipermalukan lagi!

Konon, PKS mau melanjutkan koalisinya dengan pemerintahan SBY karena, antara lain, mengincar kedudukan Menteri Pendidikan Nasional. Jika kabar itu betul, itu merupakan langkah yang benar. Jika PKS ingin menegakkan kepentingan agama dan umat Islam Indonesia yang mayoritas dan bukan untuk kepentingan yang lain dari itu–maka itu adalah langkah strategis yang harus dilakukan dan didukung.

Tetapi, jika hanya untuk memelihara status quo negatif yang selama ini melekat pada Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional yang gagal menegakkan akhlak mulia, tetapi sukses mengukuhkan diri sebagai simbol mega-korupsi, maka segenap umat Islam harus berani melawannya. Cukup sudah umat dan agama Islam dilecehkan dunia sebagai periah peradaban! Sebab, Islam diturunkan Allah SWT sebagai agama paripurna.

Sekali lagi, semua perubahan itu, hanya bisa dan harus dimulai dari sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang tidak menganggap murid sebagai peserta didik pasif, patuh, dan pengekor. Ubah paradigma yang memerosotkan fitrah manusia itu dengan paradigma baru: yang menempatkan murid sebagai tokoh utama, aktif, dan pionir pencari ilmu dan jati diri. Harus dibangun sistem pendidikan yang Islami, sejak dari usia dini.

Yakni, sistem yang benar (menjaga dan meningkatkan kualitas manusia sebagai ciptaan yang memiliki segenap fitrah Allah); tepat (memotivasi dan membangun seluruh potensi anak didik melalui otak kiri dan otak kanan serta seluruh fungsi motoriknya–sesuai dengan tahap usia perkembangan anak tanpa menyuruh, melarang, dan menghukum); dan terpadu (dengan keterlibatan penuh dan kerja sama antara anak-orang tua-guru-lingkungan).

Hanya dengan sistem pendidikan seperti itu, kita bisa melahirkan generasi baru Islam Indonesia yang maju, bermartabat, berdaulat, berakhlak mulia, berilmu, mandiri, berani, dan kreatif. Jika itu dilakukan mulai tahun ajaran 2009/2010, insya Allah, pada 2020, generasi baru itu akan menjadi generasi penerus bangsa yang mau berterima kasih kepada kita para orang tua, guru, dan pemimpin umat, karena telah dibukakan jalan baru. Dan, bukan menjadi generasi yang terzalimi karena telah menjadi penerus para pendahulu mereka yang tamak, tidak peduli pada kepentingan agama dan umatnya, dan hanya cinta kepada dunia hari ini!

Sumber: Harian Republika, Sabtu 11 Juli 2009