Jakarta (Ansor Online): Akhir-akhir ini banyak kalangan menilai, strategi pemurtadan bisa terjadi akibat sistem yang diterapkan pemimpin negeri ini. Yaitu melalui pinjaman luar negeri yang akan menimbulkan kemiskinan untuk masyarakat sendiri.

Aset-aset ekonomi bangsa pun lama-kelamaan akan dijual untuk membayar utang. Jelas ini dapat menyengsarakan masyarakat, dan dengan mudah dihasut untuk pindah agama. Maka, untuk membentengi akhlak serta moral generasi bangsa dari pengaruh budaya Barat, diperlukan peningkatan pelajaran agama Islam, baik dalam pendidikan sekolah formal maupun non-formal. Terutama, untuk pencerdasan dan pemahaman agama sejak dini.

Masalah bahaya pemurtadan itu, terungkap dalam Seminar Anti-Pemurtadan yang digelar Ikatan Keluarga Masjid Al-Muta’allimin FT Untirta Cilegon, di aula kampus setempat, belum lama ini. Ketua panitia pelaksana Erik Muttaqin mengungkapkan, angka pemurtadan di Indonesia tergolong tinggi. Selain lemahnya pengetahuan tentang Islam, kondisi ekonomi masyarakat juga diduga kuat sebagai penyebab pindahnya agama seseorang.

“Kami berupaya memberikan pemahaman tentang nilai-nilai ajaran Islam serta strategi mempertahankan keimanan umat Islam khususnya remaja di Cilegon-Banten. Ini kami lakukan untuk mencegah pemurtadan yang kerap terjadi akibat iming-iming sembako kepada masyarakat kurang mampu. Kondisi ini kerap kami jumpai di beberapa daerah,” kata Erik seraya menjelaskan, dalam seminar pihaknya mengundang Ketua Forum Anti Kristenisasi Indonesia (FAKTA) Abu Deedat Syihab.

Dalam paparannya, Abu Deedat Syihab mengatakan, pemurtadan di kalangan remaja bisanya terjadi ketika menjalin hubungan atau berpacaran dengan lawan jenis yang berbeda agama.

Terkait masalah tersebut, tokoh pengamal Tarekat Sadziliyah Jakarta, KH Luqman Hakim mengingatkan, Nabi Muhammad SAW, pemimpin besar umat Islam, tidak pernah berperang karena masalah beda agama. Peperangan dengan orang-orang kafir pada masa Nabi tidak terjadi atas dasar agama, namun karena mereka telah menebar fitnah sehingga menimbulkan chaos di kalangan masyarakat.

“Illat atau penyebab peperangannya adalah karena mereka telah menebar fitnah yang menimbulkan chaos di kalangan masyarakat, bukan karena masalah beda agama,” kata dalam sebuah pengajian di Jakarta.

Pimpinan umum majalah Sufi itu menyitir ayat 193 surat Al-Baqarah, “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi”. Menurutnya, ayat ini sering disalahfahami oleh sekelompok umat Islam garis keras.

Fitnah yang dimaksudkan sebenarnya adalah perbuatan-perbutan yang menimbulkan kekacauan, seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka dan menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama.

Pada masa pemerintahan Sahabat Abu Bakar, tentara Islam juga memerangi kelompok orang-orang yang murtad atau keluar dari Islam. Namun peperangan itu sebenarnya bukan karena mereka keluar dari Islam tetapi karena mereka tidak membacayar zakat.

Waktu itu seorang sahabat yang vokal yakni Umar bin Khattab memprotes Abu Bakar, “Kenapa engkau melakukan apa yang tidak Nabi lakukan?” Abu Bakar menjawab, “Aku perangi mereka karena tidak mau mematuhi tatanan yang telah ditetapkan pada masa Nabi masih hidup (membayar zakat) dan pasti akan menimbulkan fitnah sosial,” katanya.

Dalam pengajian bertajuk “Sufisme Islam untuk Perdamaian Dunia” pakar tasawuf itu berpesan bahwa upaya menempuh perdamaian itu pada saatnya akan berhadapan dengan kekerasan.