Neoliberalisme, biasa disingkat neolib saja, berasal dari dua kata, yaitu neo dan liberal, yang kemudian mendapat imbuhan /-isme/. Neo, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti ‘baru’ atau ‘sesuatu yang diperbarui’, sedanglan liberal berarti ‘bersifat bebas’ atau “berpandangan bebas” (luas dan terbuka)’. Sedangkan /-isme/ dapat diterjemahkan sebagai ‘paham’. Jadi, kalau diterjemahkan secara harfiah, neoliberalisme atau neolib berarti “suatu paham atau pandangan bebas yang baru” atau “suatu paham atau pandangan yang diperbarui”.

Tentu saja belum bisa dipahami dengan hanya mengerti arti masing-masing kata yang membentuk neoliberalisme seperti itu. Pasalnya, neoliberalisme berkaitan dengan paham kelompok atau pemikir yang berkenaan dengan ketatanegaraan, yang belakangan lebih dikenal pada pandangan atau paham yang berkenaan dengan sistem ekonomi, yaitu liberalisme atau neoliberalisme.

Dalam KBBI, kata liberal berarti ‘aliran ketatanegaraan dan ekonomi yang menghendaki demokrasi dan kebebasan pribadi untuk berusaha dan berniaga (pemerintah tidak boleh turut campur); usaha perjuangan menuju kebebasan. Orangnya disebut liberalis, penganut liberalisme.

Saat ini kita tertarik membahas arti kata ini karena kata neoliberal atau neoliberalisme menjadi kata favorit, terutama berkaitan dengan pemilu presiden yang diselenggarakan sebentar lagi, khususnya–entah kenapa–berkenaan dengan munculnya calon wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yakni Boediono. Cawapres ini dituduh berpaham neoliberal.

Soalnya, tentang kata ini konon banyak yang belum tahu dengan persis. Bahkan, dalam suatu wawancara dengan Rosihan Anwar, wartawan tiga zaman itu menggambarkan ketidaktahuan itu dengan mengibaratkan bangsa ini sudah berada dalam satu pot basah, tapi tidak disadari kalau air itu adalah neoliberal.

Liberalisme itu adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham ini menolak adanya pembatasan, khususnya oleh pemerintah dan agama.

Liberalisme menghendaki adanya pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh karena itu, paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme. Dalam masyarakat modern, liberalisme dapat tumbuh dalam sistem demokrasi dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan pada kebebasan mayoritas.

Dari sini, dapat ditarik kesimpulan paling penting bahwa neoliberal mengandung pengertian yang kuat pada kata “kebebasan”, sampai-sampai kebebasan itu menjadi tujuan tersendiri. Menurut penganut paham ini, tanpa kebebasan manusia tidak dapat hidup dan masyarakat tidak dapat berfungsi.

Hanya saja, menarik pengidentifikasian neoliberal oleh Faisal Basri dengan membuat paradoksal antara neoliberal dan sosialis (komunis). Pemahaman tentang neoliberal, oleh pengamat ekonomi ini, dibawa ke pemahaman empiris bangsa Indonesia tentang sosialis bahwa bukan liberal ya.. sosialis. Kedua paham ini memang sangat bertolak belakang: di satu sisi paham yang mengandung kebebasan kuat bagi masyarakat, di sisi lain adalah paham yang menghendaki semua harus diatur oleh negara.

sumber:suara karya online