Wacana dan pendidikan pesantren sekarang ini kurang diminati, bahkan enggan anaknya untuk dimasukkan pada lembaga pendidikan yang berbasis pesantren. Karena pesantren sekarang ini tidak jauh beda dengan lembaga pendidikan pada umumnya. Inilah yang menjadikan pesantren kurang diminati. Karena hampir semua orang mengatakan bahawa lembaga pendidikan pesantren dan pendidikan umum yang membedakan adalah statusnya. Yakni, pesantren bertempat tinggal dalam satu tempat dan didalamnya meliputi santri dan Kyai sebagai pengajar sekaligus pengasuh pesantrennya. Sedangkan pendidikan umum lebih menuju pada keluarga dan sebagai Kyainya adalah orang tua kita sendiri.
Â
Dimana pendidikan pesantren yang bersimbolkan banyak pendidikan agamanya kini semakin luntur karena menganggap pendidikan umum juga ada pelajaran agama. Apalagi sekarang ini, sebagai pendidikan pesantren sudah dimasuki para politik, yang lebih celakanya Kyainya yang langsung terjun bahkan ikut mencalon sebagai kadernya. Bagaimana pun juga peran Kyai terhadap dunia politik akan berdampak pada pesantrennya. Karena panggung politik sekarang sudah tidak murni lagi, artinya politik sekarang cenderung mementingkan dirinya sendiri yang inti dasarnya adalah mencari kekuasaan. Padahal dampak dari semua ini sangat besar karena menyangkut nama dan harga diri yang mereka miliki.
Â
Sebagai santri seharusnya punya landasan dan komitmen terhadap pengsuhnya agar pesantren kita tetap bisa maju dan eksis, dimana pesantren sesungguhnya lembaga pendidikan yang bisa membawa perbaikan suatu bangsa. Karena bangsa kita berbagai kasus yang terjadi di Negara Indonesia yang paling sidnifikan adalah korupsi. Inilah sebagai potret bangsa kita, tentunya di dalam ajaran agama perbuatan dan tindakan semacam ini dilarang. Semacam ini pendidikan pesantren telah diajarkan bahwa ini perbuatan yang diharamkan. Juga tidak menutup kemungkinan ini mempengaruhi pada pesantren pada era sekarang ini yang tidak lain Kyai sekarang ikut-ikutan dalam panggung politik bangsa.
Â
Dimana kharismatik Kyai sekarang jauh berbeda dengan Kyai-kayi sebelumnya. Kalau kita menengok Kyai tempo dulu seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, dan Kyai-kyai lain pada zamannya, yang sekiranya tidak bisa sebutkan satu persatu. Hal ini benar-benar telah memperjuangkan demi bangsa dan rakyatnya. Sehingga sampai sekarang pun nama belaiu masih harum dan terkenang. Ini tidak lain karena jasa beliau yang telah memperjuangkan bangsa dan rakyatnya guna kepentingan bersama, dimana pada masanya rakyat kita bisa hidup damai dan sejahtera. Berbagai persoalan yang telah terjadi pada masa itu yang namanya panggung politik memang ada. Namun hal semacam itu tidak semena-mena mencari kesempatan untuk mencari kekuasan
Â
Kita bisa mengatakan Kyai sekarang telah hilang nilai kekharismatikannya. Dimana Kyai sekarang telah termasuki nafsu yang sangat besar. Jabatan yang selalu dikejar-kejar serta panggung politik yang selalu diidamkan. Sedangkan santrinya sendiri kurang terawat dan terurus yang akhirnya kebebasan yang kita dapat. Pesantren sekarang cenderung bebas walaupun toh ada aturan dan tatatertibnya itupun hanya simbolis saja. Cobalah apakah pesantren sekarang ini masih ada yang murni terhadap dunia politik, saya yakin hampir semuanya dunia pesantren terlibat dalam politik, walaupun ada yang murni itupun hanya segelintir saja atau satu banding seribu.
Â
Realitas inilah yang seharusnya sebagai wacana utama dimana sangat memerlukan kajian yang secara khusus. Karena hal ini menyangkut masa depan dan citra suatu bangsa. Dimana nilai peasantren dimata umum merupakan pendidikan yang bisa membawa dan merubah dari berbagai karakter. Artinya pendidikan pesantren adalah wadahnya orang bodoh dan nakal, guna mencetak orang yang cerdas namun mempunyai pegangan yang dinamakan agama. Agama disini mengatur pada perilaku dan perbuatan terhadap dirinya, apakah semua yang dilakukannya merupakan larangan atau kewajiban yang harus kita jalankan. Tujuan dari pada pesantren inilah tidak lain menyelamatkan umatnya.
Â
Namun, yang menjadikan pertanyaan apakah Kyai pantas untuk terjun pada dunia politik? Sedangkan santrinya sendiri kurang terurus. Mungkin pertanyaan ini yang kelihatannya tidak menjadi sebuah persoalan. Padahal pertanyaan ini menyangkut dari pada nilai suatu pesantren itu sendiri. Atau kyai dilarang terjun secara langsung terhadap dunia politik. Karena peran kyai lebih baik mengurus santri-santrinya yang mereka bina. Dimana kyai sangat dipengaruhi oleh santri juga akan selalu dinilai dan dihormati. Dari berbagai perilaku dan keseharian beliau akan selalu terpandang dimata santri-santrinya. Keselamatan santri yang mungkin paling diuatamakan dari pada yang lain. Karena hal ini menyangkut generasi bangsa yang lebih baik (rakhmatal lil’alamin).
Â
Kini, yang sudah terlanjur basa bagi Kyai yang terlibat dalam percaturan politik untuk bisa menimbang ulang pada dirinya sendiri. Apakah kiranya pantas masuk dalam wilayah ini? Padahal, dunia politik sekarang bisa dikatakan membahayakan bagi semua. Karena dunia politik yang dimainkan adalah akal bukan hati. Maka peran Kyai untuk menimbang ulang yang sesungguhnya. Sebagai dasarnya adalah semua sudah ada pada wilayah-wilayahnya sendiri. Artinya kyai juga punya wilayahnya sendiri dimana peran kyai yang paling utama dan sebagai politik juga ada tempatnya, dimana sebagai politik seharusnya bisa menjalankan yang sebenar-benarnya. Hal yang paling urgen disini antara kyai dengan politik bisa saling melengkapi guna menyempurnakan dari bangsa ini.
Â
Sampai kapan bangsa kita benar-benar hilang dari percaturan politik yang kotor. karena selama ini bangsa kita tidak kunjung berubah dan setiap persoalan yang menyangkut pada hukum juga tidak pernah terselesaikan. Setiap kali ada kasus pasti yang difungsikan tidak lain adalah politik. Karena nyatanya setiap kasus yang terjadi di bangsa kita tidak pernah selesai dalam hukum. Namun justru yang muncul kasus lagi dan kasus sebelumya redup atau anggap saja sudah selesai. Inilah realitas yang sudah berjalan pada bangsa kita ini. Sampai kapan pun bangsa kita akan selalu dihantui dunia politik yang kotor. Padahal politik yang sesungguhnya telah diajarkan Rusulullah Saw.
Â
Banyak sekali yang dicontohkan Rosulullah Saw, salah satunya melalui riwayatnya—bahwa beliau dalam menghadapi kaum Quraisy (kaum kafir) tidak secara arogan—namun menghadapi dengan kehati-hatian dimana politik Rosulullah Saw selalu menunjukan kebaikan yang membawakan pada keselamatan. Bangsa kita ini adalah warisan, maka patutlah sekarang untuk membenahi dan membangun kembali spirit politik yang sebenarnya serta menempatkan pada wilayah masing-masing. Karena bangsa kita tidak kunjung berakhir dalam menata dan perbaikan bangsa, juga tidak lain karena tidak melihat pada dirinya sendiri.
Â
Oleh karena itu, apakah kita menduduki tempat yang semestinya atau sebaliknya. Karena semua ini menyangkut pekerjaan yang tepat pada wilayahnya sehingga tahu apa yang menjadikan problemnya. Sedangkan peran Kyai dalam dunia politik juga sangat diperlukan. Namun bukan berarti Kyai terjun langsung dalam panggung politik, karena saya yakin Kyai tidak bisa mengurus dan menyelesaikan persoalan yang ada pada pemerinyahan. Hal ini bukan wilayahnya bagi Kyai. Namun peran kyai sendiri sebagai dakwah yang bisa mengajak dan mengingatkan pada kita semua.