Peristiwa rusaknya lingkungan alam di dekat proyek pertambangan seperti di Pulau Komodo, dan lain-lain, sungguh memprihatinkan dan perlu empati terhadap alam dan bumi sebagai korban. Kita tak jua sadar bahwa selama beberapa tahun ini alam tidak bersahabat. Apa yang terjadi bukanlah bentuk kemarahan alam. Alam adalah alam dengan hukum-hukumnya sendiri. Melanggarnya berarti kita membuat alam bisa bertindak di luar perkiraan manusia. Manusialah yang seharusnya menghormati hukum alam karena ia tinggal dari, oleh, dan dalam lingkungan alam itu. Bukannya mengubah alam untuk menjadi peradaban manusia yang anti bahkan memberangus alam itu secara semena-mena.

Persoalan tambang yang memang tidak bisa tidak menggali bumi dan merusak alam di atasnya substansinya melanggar sifat alam sebagai ibu bumi (mother earth). Jika alam sebagai ibu sendiri kita hancurkan, tidakkah itu berarti manusia menjadi anak durhaka? Dari sudut alam, wilayah hutan atau konservasi keanekaragaman hayati adalah halaman permainannya yang menjadi hak-hak alam.

Kebijakan pertambangan bahkan moratorium pertambangan yang menempatkan kepentingan alam perlu diambil segera. Sedangkan berbagai kebijakan masa lalu yang menginjak-injak alam sudah waktunya dihentikan, agar hukum-hukum alam tidak berdampak buruk bagi manusia. Di samping kebijakan politik dan ekonomi yang melindungi alam, pelajaran menjiwai lingkungan alam juga bisa ditumbuhkan dan disosialisasikan terus-menerus. Theodore Rozak mengatakan bahwa ekopsikologis dibutuhkan sebagai suplemen untuk menjadi kompas nilai-nilai, perilaku, dan motivasi jiwa manusia dalam bersentuhan dengan lingkungan alam raya.

Ini semua merupakan jawaban atas ketidakpahaman manusia modern yang menafikan alam raya dengan tujuan membangun kesejahteraan lewat rasionalisasi brilian, namun menghancurkan pabrik “daya hidup alam”, di mana seluruh kehidupan kita tergantung padanya. Kebebalan ekologis (ecological ignorance) ini sebenarnya sudah disuarakan sekitar tahun enam puluhan di Paris. Ketika itu mahasiswa mencoret-coreti dinding-dinding dengan tulisan Dessous les paves la plage, yang artinya Beneath the pavement, the land! Di bawah jalan aspal (adalah) tanah/bumi/alam! Ibu bumi, ibu kehidupan manusia.

Ini baru protes kaum muda yang menolak pengaspalan dengan paving batu yang dirasakan telah mencabut kota dari dirinya sendiri, manusia dari pijakan alamnya. Dengan slogan mereka, The environmental crisis is a crisis of the city, menjadi afdol dengan fenomena perusakan alam karena keasingan manusia kota yang mengambil keputusan untuk mengeksploitasi alam. Kota-kota besar nan modern telah menjadi “glories” abad ini dan itu salah satu hasil pertambangan. Namun, kita membayar dengan harga yang sangat mahal dari vitalitas kultur ini, yakni kebebalan ekologis. Kedunguan itu dikatakan sebagai akses kematian kota dalam persinggungannya dengan alam, bumi.

Padahal, inilah tragedi maksimalisasi. Kebutuhan pertambangan dimaksimalkan untuk bisa dipenuhi tanpa batas. Dan, manusia berlomba-lomba untuknya. Alam menjadi terseret pada putaran peradaban maksimalisasi ini. Tak pelak lagi alam juga diposisikan sebagai modal yang harus bisa dimaksimalisasi. Nilai alam adalah nilai sejauh mana ia produktif, full capacity, disedot habis, dan digali sedalam mungkin. Maksimalisasi kebutuhan jelas didorong oleh maksimalisasi pikiran dan perasaan manusia yang anti-ekologis yang terus ingin dan lebih dari yang lain. Yang makin maksimal dalam memanifestasikan pikiran dan perasaannya, makin merasa fullfill sebagai manusia dalam peradaban modern.

Untuk itulah agar kita mempunyai kejiwaan atas alam dan bumi yang sehat dalam konteks pertambangan, beberapa prinsip perlu kita camkan. Pertama, membuang ketidaksadaran ekologis (ecological unconscious) yang merupakan akar terdalam dari ketagihan eksploitatif masyarakat industri modern. Pertambangan dengan amdal sekalipun tetap merusak alam. Jika pertambangan tak terelakkan, upaya pembaruan alam harus dilakukan dua kali lebih dari ketika alam masih perawan.

Kedua, ketidaksadaran tentang alam mewakili ketidaktanggapan mental manusia dalam hubungan dengan alam. Hal itu juga menyiratkan “rekaman kualitas kehidupan” yang makin menurun sepanjang waktu berjalan. Mental-mental eksploitasi yang dihiperbola dengan istilah development, progress, prosperity, growth, dan modern leisure telah membuat alam sebatas menjadi produk klangenan buatan. Bukannya menikmati klangenan alamiah yang telah disediakan alam dari sananya.

Ketiga, membangkitkan kesadaran bahwa lingkungan alam dan manusia merupakan eksistensi yang saling membutuhkan (prinsip resiprokal). Kebutuhan lingkungan alam ialah kebutuhan manusia, demikian pula sebaliknya.

Keempat, tahapan yang paling krusial ialah sosialisasi mencintai alam sebagai “agama kedua” (green religion) pada generasi muda dan anak-anak. Hal ini merupakan bekal saat mereka bersentuhan dengan alam kelak dan memungkinkan dicegahnya pendangkalan kualitas lingkungan alam yang lebih besar. Keberhasilan ini memungkinkan dilahirkannya generasi manusia yang memiliki ego ekologis (ecological ego). Ego yang dalam implementasi tindakan-tindakannya selalu memperhatikan kebutuhan, sifat, dan eksistensi alam dalam konteks ini eksistensi potensi gempa. Diharapkan, dari ego ekologis yang makin dewasa kelak akan lahir tanggung jawab etis terhadap planet kehidupan dan menjadi pengalaman hidup yang saling singgung.

Kelima, ekopsikologi mengingatkan akan sikap-sikap dan karakter maskulin yang kompulsif di mana dengan struktur kekuatan politik dan ekonomi telah mendorong kita untuk mendominasi alam. Tanpanya seolah-olah kita akan teralienasi dan jauh dari tujuan hidup yang benar. Dengan perasaan yang lebih sensitif terhadap alam, berarti akar maskulin akan digantikan dengan akar feminin yang lebih memelihara dan bersahabat. Siapakah yang menggali fondasi, memasang beton, tembok, dan genting? Namun, maskulinitas tidak hanya menyerang mereka yang berjenis kelamin laki-laki. Perempuan pun bisa menjadi maskulin yang merusak jika perangainya ketagihan dan tak peduli alam yang sebetulnya adalah “ibu perempuan, ibu bumi” (the mother earth). Kita sangat memerlukan green decision dan green commitment untuk pertambangan kita yang lebih aman dari perangai alam yang akan membalas jika disakiti.

sumber:http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=231491