Membincang tentang peristiwa Isra’ Mi’raj secara tidak langsung dapat mengingatkan kita pada konflik berkepanjangan antara sains dan agama.Pasalnya, momentum bercorak supranatural semacam Isra’ Mi’raj ini merupakan salah satu titik persinggungan signifikan yang potensial menyeret sains dan agama ke dalam perbedaan paradigma yang kerap berujung pada makin runcingnya persinggungan antara sains dan agama. Sulitnya peristiwa supranatural semacam Isra’ Mi’raj dijelaskan dan dipertanggungjawabkan secara rasional-empiris merupakan pemicu atas hal itu.

Jika diteropong dengan paradigma ala Abad Pertengahan yang cenderung mistisistis-spiritualis, peristiwa Isra’ Mi’raj sejatinya bukanlah sesuatu yang sulit untuk dipahami dan diterima secara objektif. Nyaris tak ada sesuatu yang layak dipertanyakan, apalagi diragukan, dari momentum sakral tersebut. Apalagi, perjalanan suci dalam sejarah peradaban Islam tersebut itu dilakukan oleh sosok manusia suci. Kenabian serta ketinggian posisi spiritual Nabi Muhammad ternilai cukup untuk melegitimasi secara objektif peristiwa sakral tersebut.

Namun, memasuki era Renaisans, ketika peradaban manusia didominasi oleh paradigma modernis yang cenderung rasionalis-positifis, objektivitas peristiwa “langit” semacam Isra’ Mi’raj tersebut dinilai relatif tergoyah. Bahkan, momentum-momentum “langit” semacam itu digusur oleh paradigma modernis yang tersohor kala itu. Pasalnya, manusia modernis hanya menerima objektivitas realitas ketika dapat dipertanggungjawabkan secara rasionalis-positifis.

Memasuki abad ke-20, Albert Einstein kemudian melakukan revolusi paradigma sains. Ia memberikan toleransi serta ruang bagi otoritas agama dalam ranah sains. Dengan demikian, momentum “langit” semacam Isra’ Mi’raj secara tidak langsung kemudian relatif mulai dibincangkan dalam ranah sains.

Dalam pandangan Einstein, keyakinan akan peristiwa-peristiwa supranatural semacam itu terletak pada suatu ranah yang belum dapat dijustifikasi oleh sains. Sebab, baginya, pengetahuan aktual para saintis tentang hukum-hukum alam hanyalah sepotong karya yang belum utuh (unvollkommenes stuckwerk) (Max Jammer, 2009).

Berbeda dengan paradigma modernis khas Renaisans yang ternilai menegasikan objektivitas sesuatu yang supranatural, paradigma saintis ala Einstein tampak masih memberikan ruang justifikasi bagi objektivitas sesuatu yang supranatural semacam peristiwa Isra’ Mi’raj. Dalam paradigma ala Einstein, ketidakmampuan sesuatu yang supranatural dipertanggungjawabkan secara rasionalis-positifis justru disebabkan karena dinamika sains yang belum menjangkau dan memahami sesuatu yang supranatural tersebut. Akibatnya, tampak bahwa Einstein masih relatif mengakui objektivitas sesuatu yang supranatural tersebut.

Namun, lebih mendasar dari pandangan Einstein, sejatinya problem dasarnya terletak pada tatanan epistemologis. Artinya, upaya memahami dan menjustifikasi objektivitas sesuatu yang supranatural tidak dapat dilakukan dengan epistemologi ala manusia modernis yang berlandaskan pada basis empiris-rasionalis semata. Namun, upaya memahami dan menjustifikasi sesuatu yang supranatural tersebut patut dilakukan dengan landasan epistemologi berbasis intuitif.

Dengan begitu, objektivitas sesuatu yang supranatural kemudian tidak hanya sebatas diyakini. Namun, dapat dipertanggungjawabkan dengan landasan epistemologi berbasis intuitif. Selain itu, dengan epistemologi berbasis intuitif, nilai-nilai transenden yang terkandung di balik sesuatu yang supranatural semacam Isra’ Mi’raj tidak tereduksi dalam tatanan pada pemahaman rasional-empiris semata. Namun, nilai-nilai transenden yang terkandung di dalamnya dapat dipahami secara komprehensif dan mendasar.

Bertolak dari sini, dalam konteks momentum Isra’ Mi’raj, epistemologi berbasis intuitif itulah yang diharapkan digunakan untuk memahami kedalaman makna transendensi Isra’ Mi’raj secara utuh. Pasalnya, mencoba meneropong Isra’ Mi’raj dengan perspektif paradigma modernis yang cenderung rasionalis-positifis, secara tidak langsung akan mereduksi nilai-nilai transenden yang terkandung di balik momentum supranatural tersebut.

Namun, paradigma bercorak sains harus tetap dipertahankan guna selalu melindungi sesuatu yang supranatural, termasuk Isra’ Mi’raj-dalam agama (Islam) dari mitos-mitos yang kerap “menggelantungi” sesuatu yang supranatural dalam agama (Islam). Dengan demikian, paradigma sains akan membawa umat beragama pada corak keberagamaan yang cenderung lebih rasional, tanpa harus menyingkirkan nilai-nilai transenden sakral yang menjadi salah satu fondasi agama (Islam)

sumber:suara karya online