FLU babi meneror masyarakat Indonesia. Virus yang semula dikatakan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari tak akan bisa berkembang di negeri ini ternyata telah merasuk ke beberapa kota di Indonesia. Tidak hanya Bali-kota tujuan wisata utama di Nusantara ini-tetapi acaman virus itu telah menyebar ke berbagai penjuru. Rumah sakit di Jakarta, Bandung, Surabaya, Balikpapan, Makassar, Padang, Malang, Tangerang, dan beberapa kota lainnya disibukkan kehadiran pasien yang diduga mengidap flu babi.

Pasien suspect flu babi itu bukan hanya warga asing, tetapi juga warga negara Indonesia. Secara umum, mereka baru datang atau pulang dari luar negeri. Ada yang dari Singapura, Amerika Serikat, Hong Kong, dan ada pula yang datang dari Taiwan, Australia, Selandia Baru, serta beberapa kota lainnya di dunia. Namun, terdapat juga pasien yang bukan baru pulang dari luar negeri. Dalam penanganan di berbagai rumah sakit memang tidak seluruhnya positif, meski ada yang dikabarkan meninggal, sebab ada yang telah dipulangkan karena hasil pemeriksaannya negatif.

Imbauan yang pernah dilontarkan Menkes, dalam keterangan resmi kepada pers, pada April lalu, agar masyarakat tidak panik sepertinya tak mampu lagi menenangkan kita. Rasa was-was terhadap flu babi kini membayangi banyak orang. Ucapan yang pernah dilontarkan sang menteri bahwa penyakit influenza akibat infeksi virus H1N1 itu hanya dapat terjadi saat musim gugur dan dingin, dan tidak bisa hidup di musim panas, perlu dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Faktanya, di beberapa kota di Indonesia yang telah memasuki musim kemarau, masyarakatnya kini justru panik karena khawatir menjadi korban. Menkes boleh saja mengatakan tingkat kematian (case fatality rate) akibat flu babi hanya sekitar 6,4 persen, jauh di bawah tingkat kematian akibat flu burung yang hingga kini masih lebih dari 80 persen. Tapi merebaknya penyakit influenza babi yang disebabkan virus influenza tipe A subtipe H1N1 itu saat ini wajar menakutkan siapa pun.

Tiada pilihan lain, pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan (Depkes) harus bergerak cepat, memperlihatkan tindakan nyata. Pihak Depkes boleh saja berujar bahwa pemerintah memiliki stok obat antivirus Oseltamivir yang efektif untuk pengobatan flu burung dan flu babi dalam jumlah cukup. Namun, jika kenyataannya korban terus berjatuhan, bisa jadi banyak orang beranggapan bahwa Depkes hanya beretorika atau sibuk menjaga citra.

Ingat, flu babi tak boleh dianggap remeh sebab penyakit ini pernah menjadi pembunuh nomor satu di Spanyol ketika tahun 1918 puluhan juta rakyat negeri matador itu kehilangan nyawa. Pemerintah harus serius menghadapi kemungkinan terburuk dari ancaman virus mematikan itu, bukannya menganggap kecil penyakit yang awal tahun ini mewabah dan mengguncangkan rakyat dan pemerintah Meksiko.

Belajar dari pengalaman Meksiko, di mana flu babi mudah bermutasi, kemudian bisa menular dengan cepat dari manusia ke manusia, maka Pemerintah Indonesia harus kerja keras. Depkes jangan baru sibuk setelah penyakit ini memakan banyak korban. Masyarakat harus disadarkan agar esktra waspada, mengingat gejala pengidap virus H1N1 mirip influenza biasa, yakni demam, batuk, pilek, mual, dan diare.

Bukan saatnya lagi para petinggi yang bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan di negeri ini justru memberi keterangan yang membuat masyarakat lengah akan ancaman flu babi. Ingat, penyebaran virus influenza A subtipe H1N1 sudah meluas dan mengkhawatirkan. Di beberapa kota pasien flu babi yang dirawat telah mendekati angkat 100 orang (akhir pekan lalu telah mencapai 64 orang-Red), jadi sangat tidak pas bila Menkes masih berucap bahwa flu babi bukan ancaman bagi rakyat Indonesia.