Dewasa ini kehidupan umat manusia laksana kendaraan yang melaju kencang, sulit direm. Tujuannya hanyalah satu, yakni mendapatkan harta sebanyak mungkin tanpa peduli apakah dengan jalan merusak alam atau mengambil hak orang lain. Bahkan menikam sesama pun akan dilakukan kalau itu diperlukan. Hal ini terlihat ketika berita kriminalitas seperti penebangan liar, perampokan, korupsi, dan penjualan anak di bawah umur menjadi santapan berita harian kita.

Dunia kejam! Itulah kesimpulan sebagian besar masyarakat modern dalam melihat sisi kehidupan dunia. Tuhan menciptakan manusia sebagai khalifatullah (wakil Tuhan) yang bertugas merawat dan memelihara bumi, tapi kini malah berlomba mengangkangi alam untuk menumpuk kekayaan.

Alam tidak lagi dlihatnya sebagai kawan untuk bersama-sama menyenandungkan puja dan puji terhadap Sang Pencipta. Pujiannya bisa berbentuk pemeliharaan kelestarian alam, berbentuk nyanyian untuk sesama, atau bahkan lebih spesifik dengan menyucikan jiwa demi mendapat pancaran sinar Tuhan.

Meskipun usaha manusia menumpuk kekayaan sulit dihadang, sesekali alam memberikan pelajaran dengan melakukan perlawanan. Hal ini terlihat dari munculnya bencana banjir, longsor, dan pemanasan global. Walaupun demikian, Tuhan masih selalu memberikan kesempatan kepada kita dengan memberi harapan baru seperti masih diedarkannya matahari bagi pemenuhan energi untuk aktivitas hidup manusia.

Di negara kita yang penduduknya mayoritas beragama, fenomena manusia angkuh dan serakah banyak kita temukan. Kaum kapitalis, yang seharusnya mendorong surplus modalnya bagi kaum papa untuk dikelola, malah dengan gencar bersekongkol dengan penguasa dalam merampok sumber daya alam (SDA) negara. Akibatnya, kemiskinan sistematis menjadi fenomena keseharian rakyat kita.

Akibat kecintaan terhadap dunia yang berlebihan (materialis), manusia kehilangan kontrol dirinya sebagai makhluk berakal. Artinya, ia menggunakan nafsu sebagai panglima untuk memiliki dunia tapa pernah mau berbagi dengan sesama.

Agama yang sejatinya mengarahkan manusia untuk hidup wajar (tidak serakah dan sederhana) malah dianggap sebagai doktrin ketinggalan zaman. Ajaran agama yang lebih mengutamakan sisi harmoni manusia-alam, kini ditinggalkan dengan penuh kebencian-meskipun secara formal mereka menggunakan agama sebagai pelarian ketika ditimpa kesusahan.

Meski dunia keagamaan pernah dikotori oleh tangan agamawan sebagaimana ketika gereja menguasai seluruh sisi kehidupan manusia di Barat (era kegelapan), namun bukan berarti nilai agama itu sendiri yang membuat kemunduran umat manusia di Barat waktu itu. Artinya, pendangkalan terhadap nilai agama oleh agamawan pada era itulah yang menggiring agama kemudian menjadi komoditas politik.

Sebagai ajaran yang langsung diturunkan Tuhan kepada rasulnya di dunia, sejatinya agama merupakan nilai hidup dalam mempertemukan nilai harmoni antara manusia dan alam, termasuk juga antarsesama. Dan, hal ini terlihat dalam penjelasan Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa manusia yang jahat adalah mereka yang melakukan kerusakan di muka bumi (QS Al-Baqarah: 60).

Itu artinya, apa pun agama yang kita anut, selama ajarannya tidak mengacaukan harmoni manusia-alam dan antarsesama, sejatinya ia telah mengikatkan diri dalam ajaran Tuhan semesta alam. Dengan demikian, perbedaan agama tidak lagi menjadi hal yang penting untuk selalu kita perdebatkan. Sebab, keterbatasan manusia dalam membahas benar-salah menyangkut sistem teologi tidak bisa kita nafikan.

Untuk itu, yang terpenting bagi kita adalah bagaimana menyelaraskan diri dengan kehidupan alam sehingga tercipta harmoni di antara keduanya. Dalam doktrin ajaran agama, Tuhan berali-kali mengecam manusia yang sukanya hanya menumpuk harta kekayaan, sehingga harta itu hanya berputar di kalangan kelompok mereka sendiri. Begitu juga Tuhan mengecam manusia yang sukanya merusak alam dengan mengeksploitasinya.

Ajaran agama menganjurkan manusia untuk hidup bersahaja. Sebab, kehidupan bersahaja akan menjadikan manusia tidak terjebak pada perilaku adigang adigung adiguna (merasa paling kuat, paling berkuasa, paling mempunyai peran). Dengan begitu tumbuhlah solidaritas antarsesama.

Pada zaman ini, doktrin agama yang menekankan kesederhanaan hidup sangat bertentangan erat dengan etika ekonomi modern yang menekankan kesejahteraan sebagai jalan hidup penuh kemewahan. Yakni, usaha memenuhi segala nafsu manusia meski acap kali bertentangan dengan kodrat manusia sebagai makhluk spiritual.

Untuk itu, hanya dengan kita kembali mengakui diri kita sebagai hamba Tuhan dan melakukan apa yang diperintahnya dalam mengelola alam dunia ini, kita akan menemukan kesejatian kita sebagai manusia. Tanpa adanya usaha menuju arah yang ditunjukkan Tuhan melalui ajaran agama, selamanya kita hanya akan menjadi duri bagi perbaikan dunia.

Dalam ajaran agama, manusia yang menjadi duri bagi sesamanya dikatakan sebagai “kafir”. Hal ini sejalan dengan makna kafir sendiri yang artinya menutup, yakni menutup terciptanya keselarasan hidup antara manusia-alam dan antarsesama.

Untuk itu, hanya dengan menjauhkan sifat kafir dalam diri kitalah, kita akan mampu menemukan kesejatian hidup, sehingga kedamaian dan ketenteraman mampu tercipta di alam ini. Memang, untuk mencapai hal itu, acap kali kita harus berperang dengan sekuat tenaga melawan kekafiran yang bisa merasuk dalam diri kita sendiri atau bahkan yang dilakukan orang lain. Hal ini tak lain demi terselamatkannya dunia dari kerusakan yang lebih parah. Dengan demikian, generasi yang lahir setelah kita tidak mendapati bumi di ambang kehancuran

sumber:suara karya online