Di tengah merebaknya pemutusan hubungan kerja (PHK), budaya berpikir kreatif bangsa ini tergolong rendah. Padahal, berpikir kreatif merupakan salah satu jalan bagaimana seseorang mampu menghadapi problem hidupnya, termasuk bagaimana menciptakan pekerjaan.

Lemahnya berpikir untuk kreatif menjadi salah satu penyebab mengapa bangsa ini tidak mampu bersaing dengan bangsa lain yang lebih maju. Alhasil, ketergantungan terhadap produk asing menjadi fenomena yang tak terhindarkan dalam kehidupan keseharian kita.

Akibatnya, kemandirian ekonomi kita menjadi lemah. Berpikir kreatif berarti belajar berpikir untuk menghasilkan sesuatu yang baru baik dalam bentuk konsep, penemuan maupun karya seni.

Di Indonesia, lemahnya berpikir kreatif acap kali menjadikan seseorang kehilangan arah dalam hidupnya untuk melangkah. Akibatnya, fenomena munculnya penganggur tak dapat terhindarkan, termasuk penganggur intelektual. Lemahnya pengembangan budaya kreatif oleh pemerintah pun menyebabkan bangsa kita sulit untuk menjadi bangsa kreatif.

Budaya tidak kreatif di negara ini sudah banyak melingkupi kehidupan remaja kita. Hal ini terlihat dari minimnya remaja yang mau intens melakukan usaha-usaha kreatif dalam mengisi kehidupan remajanya.

Belajar menjadi bangsa yang berpikir kreatif berarti kita belajar untuk bangkit mengejar ketertinggalan kita dari negara lain. Hanya bangsa yang berpikir kreatiflah yang akan menjadikan bangsa itu sebagai yang terbaik di dunia.

Sari M
Bumi Serpong Damai,
Tangerang, Banten
Sanksi Berat bagi
Pelaku KDRT

Dalam masyarakat yang namanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) selalu saja terjadi, baik kekerasan yang dilakukan suami kepada istrinya maupun yang dilakukan oleh ayah kepada anak-anaknya. Celakanya, KDRT itu sering terjadi berulang-ulang.

Istri yang telah mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga oleh suaminya cenderung kembali lagi mengalami kekerasan. Kenapa bisa begitu? Siklus kekerasan terhadap istri itu adalah suami melakukan kekerasan, kemudian meminta maaf, dan menyatakan menyesal atas perbuatannya.

Sang suami lalu bersikap mesra kepada istri. Istri pun berusaha menganggap bahwa kekerasan yang timbul hanya karena kekhilafan (sesaat). Ia berharap suaminya berubah menjadi baik. Namun, tatkala terjadi konflik, ternyata sang suami kembali melakukan kekerasan kepada istri.

Kekerasan pada istri bak lingkaran setan dan mengakibatkan perempuan sebagai sosok yang lumpuh tanpa daya mengalami berbagai siksaan: sakit fisik, tekanan mental, rasa percaya diri dan harga diri turun, tergantung pada suami, stres, bahkan timbul keinginan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Di mana pun, apalagi dalam rumah tangga, tidak dibenarkan adanya sikap sewenang-wenang dari laki-laki (suami) terhadap istri dan anak-anak. Karena itu, perlu diberlakukan sanksi berat bagi pelaku KDRT. Inilah tugas para penegak hukum untuk menerapkanny

sumber;suara karyaonline