Dalam perjalanan mengarungi kehidupan, manusia dapat digolongkan menjadi beberapa bagian. Di antara mereka ada yang menempuh safari hidupnya dengan membawa bekal berupa perkara-perkara yang mendekatkannya menuju negeri kebinasaan, yakni jalur kekufuran dan berbagai perilaku kemaksiatan.

Selain itu, ada juga sekelompok manusia yang teguh berjalan menuju Allah dan mengidamkan “kampung keselamatan” yang dijanjikan-Nya.

Wilayah yang diistilahkan sebagai zona keselamatan tersebut berupa bentangan waktu selama lebih kurang 30 hari yang disebut sebagai masa penuh berkah, ampunan, dan pembebasan. Masa-masa itulah yang bernama Ramadhan, bulan teristimewa dalam pandangan Allah. Apabila manusia ingin berteduh di bawah naungan hidayah dan ampunan-Nya, niscaya ia memanfaatkan Ramadhan sebagai ajang menghimpun pahala secara tulus dan optimal.

Ibnul Qayyim, salah seorang cendekiawan Muslim ternama, pernah memetakan karakter-karakter manusia pendamba kampung keselamatan menjadi tiga bagian. Pertama, para sabiqun, yaitu orang-orang yang lebih dahulu berbuat kebajikan. Mereka tekun menunaikan kewajiban (faridhah) serta gemar memperbanyak ibadah sunah (nafilah) dengan berbagai ragamnya. Kedekatan mereka dengan Allah membuat mereka tak sempat berbuat hal-hal yang makruh, mubah, dan apalagi haram.

Kedua, muqtashidun (orang-orang pertengahan). Kelompok ini melaksanakan kewajiban serta menghindari perbuatan yang diharamkan. Kekurangannya, mereka tidak terlalu tekun mengerjakan perkara sunah dan masih suka mempraktikkan hal-hal yang mubah dan makruh. Sedangkan ketiga, zhaalim linafsih (orang yang berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri), yaitu mereka yang suka mencampuradukkan amal saleh dan amal buruk. Artinya, kebaikan dan keburukan sama-sama dikerjakan silih berganti.

Berkaca pada kategorisasi karakter manusia tersebut, dapat disimpulkan bahwa hidup manusia amat bergantung pada amal keseharian yang dilakukannya. Dan, amal terkait erat dengan penggunaan waktu dalam mengisi kehidupan. Sudah seyogianya manusia melakukan introspeksi: sejauh mana ia memanfaatkan sebagian besar waktu dalam hidupnya.

Pada kerangka tersebut, Ramadhan sebagai bulan termulia di sisi Allah dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri. Bulan penuh berkah dengan hiasan lailatul qadr ini adalah “telaga kesejukan” yang dianugerahkan Allah bagi kehidupan manusia di dunia. Untuk menapak menuju kampung keselamatan yang sebenarnya, yakni surga di akhirat kelak, manusia bisa memanfaatkan Ramadhan dengan cara mengisinya dengan amal-amal saleh yang sarat pahala. Ramadhan adalah waktu terbaik guna mengisi rekening pahala seoptimal mungkin.

Dengan demikian, bulan diturunkannya kitab suci Al-Qur’an ini adalah kesempatan di mana manusia menjalankan sebuah ujian berat. Ujian tersebut berwujud godaan untuk menentukan pilihan, apakah kita lebih suka berpedoman kepada petunjuk Allah dan tuntunan rasul, ataukah sebaliknya lebih memilih memanjakan keinginan manusiawi (ego) dan hawa nafsunya. Pada titik ini, Ramadhan tak ubahnya umur yang pendek dan ajal yang terbatas. Ia memiliki permulaan yang dinanti serta akhir yang jelas diketahui (keberkahannya).

Tak bisa dimungkiri, Ramadhan merupakan contoh hidup dan miniatur bagi umur manusia yang penuh dengan taklif (tugas dari Allah). Karena itu, manusia mempunyai usia taklifi berupa umur yang ia pergunakan untuk melaksanakan perintah Allah. Selain itu, ia memiliki umur wazhifi (fungsional) yang dijadikan sebagai penunjang bagi umur taklifi. Umur wazhifi biasanya dipakai manusia guna melepas hajat naluriahnya, seperti tidur dan makan-minum.

Artinya, jika pada Ramadhan, umur taklifi kita sia-siakan dengan jalan lalai menuruti petunjuk agama, serta lebih cenderung mengisi Ramadhan dengan umur wazhifi, maka betapa tidak adilnya manusia terhadap kebutuhan rohaninya. Membiarkan Ramadhan tanpa amalan kebajikan sama halnya dengan menzalimi rohani dalam bentuk yang sejati.

Sabda Nabi, “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia merugi di dalamnya, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari). Secara medis, puasa terbukti menyehatkan. Sedangkan secara sosial, berpuasa mampu menajamkan kepekaan dan waktu untuk berbagi dengan banyak orang.

Apabila manusia mampu memaknai ritual puasa hingga dimensi yang paling subtil, bakal hadir ketegasan serta kemauan untuk berlomba menangkap roh spiritual yang dianugerahkan Allah hingga di pengujung bulan. Jika roh tersebut sudah bersemayam dalam diri, kesalehan individual, kecerdasan spiritual, serta kepekaan dan toleransi sosial akan senantiasa mekar dan memancar dalam hidup pelaku puasa dan menebar ke segala arah, menyapa sesama, menyejukkan semesta.

Oleh Mohamad Ali Hisyam
sumber;suara karya online