Bulan Ramadhan disambut dengan rasa syukur bukan hanya oleh umat Muslim, melainkan juga mereka yang non-Muslim. Apa pasalnya? Sebab, puasa dikenal dan dijalankan oleh semua agama dan kepercayaan. Meski namanya mungkin berbeda, seperti puasa, pantang, bertapa, dan seterusnya.

Ibadah puasa yang menjadi wilayah privat bagi mereka yang menjalankannya, tanpa disadari, dari tahun ke tahun telah menjadi kultur baru pada wilayah publik. Jeda nafsu juga bagi mereka yang tidak berpuasa, tapi hidup di tengah-tengah masyarakat berpuasa.

Beruntung bangsa ini mempunyai agenda sebulan penuh berpuasa. Ia tidak hanya upaya menahan diri, tetapi bahkan lebih jauh menyangkal diri. Bukan hanya menahan rasa lapar, haus atau nafsu, tetapi menyangkali itu semua dan menggantikan bahwa ada rasa yang lebih kuat dan patut disyukuri di atas lapar, dahaga, dan nafsu, yakni rasa begitu dekat dengan Sang Pencipta-maharasa yang mengatasi dan melampaui rasa-rasa dunia yang tidak kekal. Dalam konteks teologi, inilah yang pernah dikatakan teolog Chip Brodgen sebagai he must increase and I must decrease, keberadaan Tuhan harus makin bertambah dalam hidup ini dan otoritas manusia makin berkurang. Puasa menambahkan lagi kehadiran dan kehendak-Nya dalam hidup manusia dan mengurangi egoisme manusia sendiri dengan mengembalikannya kepada kepentingan Tuhan, sesama, dan alam raya. Harapan kembali ke hati yang suci, pikiran nan lurus, hidup yang benar menjadi dambaan dalam menjalankan puasa.

Puasa pada bulan Ramadhan menjadi agenda spiritualitas kolosal bangsa kita. Dalam tataran pribadi, puasa individual menjaga agar spirit puasa nasional itu tetap eksis.

Puasa sering dikatakan sebagai upaya menahan lapar, haus, dan nafsu, sungguh puasa yang berat. Apalagi dalam konteks ekonomi rakyat yang sebenarnya “belum kenyang”. Jadi sudah terbiasa menahan lapar. Berpuasa dengan demikian-terlepas dari kewajiban agama-mengurangi apa yang sehari-hari sebenarnya sudah kekurangan. Dalam puasa nasional lebih dikuatkan oleh kolektivitas, kebersamaan, di mana keluarga, umat, bangsa berpuasa bersama.

Meski sejatinya dalam kebersamaan puasa itu tidak ada seorang pun tahu, kecuali kita yang berpuasa dengan Tuhan. Mereka yang berpuasa akan selalu menjadi musafir rohani, seorang diri dengan Tuhan-nya, untuk mengukuhkan nilai-nilai-Nya yang lebih utama daripada ego manusia dalam puasanya itu.

Untuk itulah patut disadari bahwa Ramadhan pada tahun 2009 menjadi bulan pertaruhan kualitas puasa kita. Apalagi, bangsa ini telah selesai dalam hajatan politik pemilu yang nirpuasa. Tujuannya agar bulan-bulan mendatang di saat tidak ada puasa nasional, kualitas puasa kita tetap membawa berkah. Yang ketika Ramadhan kita bisa menahan lapar, haus, dan nafsu, pada bulan-bulan pasca-Ramadhan kita tetap bisa menahan diri. Jangan sampai sebelas bulan mendatang menjadi bulan peluruhan kualitas puasa kita. Sebelas bulan ke depan mempunyai tantangan sendiri dan puasa sekarang menjadi modalnya.

Dengan demikian, mengupayakan puasa tetap menjadi jalan yang relevan dalam kondisi apa pun. Menjalankan puasa dari makan berlebih, hati buruk, perilaku korup, perilaku menyusahkan sesama, hedonisme dan seterusnya, tetap harus dilakukan sepanjang hayat. Dengan puasa menahan lapar dan haus, kita bersimpati atas mereka yang masih kekurangan.

Dalam konteks sosial, menahan lapar berarti menahan nafsu ekspansi-konsumsi dalam bentuk apa pun, yang melupakan sesama yang miskin. Dengan menahan nafsu, kita menggelar empati, melihat dari kacamata orang lain, bahkan ciptaan lain. Mereka yang kecil, papa, marginal itu jangankan mengumbar nafsu keinginannya, untuk memenuhi kebutuhannya secara minimal saja kini sulit.

Tantangan terbesar puasa ialah kesadaran untuk mencerahkan diri sendiri agar selalu menjaga kesucian hati, kelurusan pikiran, dan kebenaran langkah. Diri sendirilah yang pertama-tama harus terus sadar dan menjaganya. Puasa merupakan langkah mulai dari diri sendiri, mulai sekarang juga, dan langkah pertama yang akan terakumulasi pada waktu yang akan datang. Bahwa setelah dievaluasi, kualitas keberpuasaan kita menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Puasa pada tahun berikutnya disambut bukan dalam mekanisme “mesin cuci” dari kotoran hidup kita, melainkan mesti bisa diukur bahwa kualitas-kuantitas kotoran yang dicuci harus makin kecil dan berkurang. Inilah dambaan kita semua bahwa puasa membawa dampak positif, membuat bangsa ini makin bertakwa, manusiawi, antikorupsi, saleh sosial, mencintai alam raya, dst.

Puasa, dengan begitu, menjadi fokus transformasi bangsa karena tidak hanya mengandung unsur berpantang dan menyangkal saja, tetapi dalam puasa juga terdapat unsur mendekatkan. Yang paling utama kepada pencipta, lalu ke kedalaman hati sendiri yang bersih, lapang, ikhlas. Lalu mendekatkan diri ke dalam hubungan sesama saling menyapa, memperhatikan, menolong, dan bahkan juga dalam hubungan melestarikan alam raya ciptaan-Nya.

Jadi, dalam puasa ada unsur berpantang, menjauhkan, dan mengisolasi diri. Tetapi, dalam puasa juga terkandung upaya mendekatkan diri kepada Tuhan, agar citra Ilahi bisa tercermin dalam diri manusia dan terbawa dalam hubungan sesama dan lingkungannya melalui berbagai ritual puasa masing-masing.

Puasa mengosongkan yang fana (perut, kebutuhan hidup, dan lain-lain) untuk memperoleh sesuatu yang jauh lebih mengenyangkan, yakni spiritualitas dan Tuhan. Dari situ hubungan antarsesama dan alam raya bisa diharmoniskan kembali. Itulah sebabnya, puasa bisa dikatakan sebagai DNA-nya spiritualitas, di mana cetak biru spiritualitas kita perbarui untuk membawa rahmat bagi semua