Tepatnya 17 Agustus 2009 lalu, Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke-64. Hari ulang tahun (HUT) Republik Indonesia yang memang digelar setiap tahun ini merupakan momen penting bagi sejarah Indonesia. Pasalnya, saat itulah Indonesia menggapai kemerdekaan dari para penjajah. Misalnya, Belanda yang telah menjajah Indonesia selama kurang lebih tiga setengah abad.

Pada bulan yang sama pula, tepatnya 22 Agustus 2009, umat Islam juga melakukan ibadah puasa. Ini suatu ibadah yang dinanti-nanti umat Islam. Ibadah puasa ini dilaksanakan setahun sekali selama satu bulan penuh, yaitu pada bulan suci Ramadhan. Perintah untuk melaksanakan puasa ini telah diabadikan dalam Al-Qur’an. “Hai, orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa (di bulan Ramadhan) sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Satu hal yang sangat menakjubkan bagi Indonesia adalah dua peristiwa besar, yaitu HUT kemerdekaan dan bulan Ramadhan (bulan puasa) sama-sama bertepatan pada bulan Agustus 2009. Bagi Muslim di Indonesia, hal ini merupakan peristiwa yang sangat luar biasa. Pasalnya, bulan puasa juga merupakan bulan kemerdekaan bagi umat Islam, yakni kemerdekaan dari hawa nafsu dan perbuatan-perbuatan dosa.

Secara bahasa, makna puasa berasal dari bahasa Arab yakni shiyam yang berarti al-imsaak (menahan). Secara istilah, menurut Sayyid Sabiq dalam bukunya, Fiqhus Sunnah, menahan dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari yang disertai dengan niat. Menahan di sini juga berarti membebaskan diri atau memerdekakan diri kita dari segala hal yang dapat merusak dan menghilangkan nilai-nilai puasa tersebut.

Dalam potongan hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Puasa itu tameng seperti tameng kalian saat berperang.” Itu artinya bahwa dengan puasa yang sungguh-sungguh, kita benar-benar akan bebas dan merdeka dari segala perbuatan yang dilarang, seperti minum minuman keras, mencuri, melakukan aksi kekerasan, perkosaan dan sebagainya.

Maka kalau boleh saya katakan bahwa bulan puasa merupakan bulan kemerdekaan. Pasalnya, pada bulan tersebut kita benar-benar diberi peluang untuk memerdekakan diri dari segala perbuatan yang tidak baik, dari segala perbuatan yang dapat menyakiti orang lain, serta dari perbuatan yang merusak diri sendiri.

Makna kemerdekaan tidak hanya berkisar pada aspek fisik saja, tetapi lebih dari itu, makna merdeka juga mencakup kemerdekaan diri seseorang dari segala sesuatu yang mengikat dan menjerumuskan dirinya pada kerusakan dan kehancuran (merdeka maknawi). Kemerdekaan yang pertama secara historis, Indonesia benar telah merdeka dari penjajahan Belanda, Jepang, dan Sekutu. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah benarkah Indonesia telah merdeka secara maknawi? Artinya, secara moral telah benar-benar jauh dari hal-hal yang merusak dan menghancurkan moral bangsa.

Puasa merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap penjajah yang bernama hawa nafsu. Upaya perlawanan ini merupakan salah satu pengantar diri kita agar benar-benar menjadi orang yang merdeka dan tidak diperbudak oleh hawa nafsu. Pasalnya, telah banyak bukti menunjukkan bahwa hawa nafsu telah menghancurkan manusia dan menjerumuskan manusia pada derajat yang rendah.

Hal ini terbukti pada manusia pertama yang diciptakan Allah SWT yakni Adam as. Nabi Adam beserta istrinya, Hawa, dilarang oleh Allah SWT untuk memakan buah khuldi, tetapi terkena bujukan setan. Setan merayu dengan mengatakan pohon itu akan dapat mengekalkannya di dalam surga-Nya. Karena keinginan atau hawa nafsu Adam dan Hawa untuk mendapatkan kekekalan di surga, akhirnya mereka berdua memakan buah yang dilarang tersebut. Akibatnya, mereka malah dikeluarkan dari surga-Nya kemudian diturunkan ke bumi.

Bukti yang lain bahwa hawa nafsu dapat mengantarkan pada kehancuran adalah kisah Qarun. Qarun adalah seorang saudagar kaya raya yang kemudian dibenamkan ke dalam bumi oleh Allah bersama hartanya dikarenakan kesombongannya.

Puasa, yang dapat diartikan menahan, merupakan upaya untuk membebaskan diri kita dari segala bentuk kerusakan dan kehancuran, baik kehancuran individu maupun masyarakat. Kehancuran individu yang dimaksud adalah kehancuran diri kita sendiri dengan perbuatan-perbuatan dosa yang kita kerjakan. Sebab, diri kita sebenarnya masih dijajah oleh keinginan-keinginan jahat yang dapat mengantarkan diri kita kepada kehancuran dan penyesalan.

Dengan demikian, ada juga yang menyebut bulan puasa sebagai bulan tazkiyatun nafs (bulan penyucian jiwa). Penyucian jiwa kita dari segala bentuk perbuatan dosa yang telah kita lakukan sebelum dan sesudah bulan puasa. Artinya, bagi kita yang mengerjakan puasa dengan sungguh-sungguh dan penuh ikhlas kepada Allah dan tidak mengharap pujian dari orang lain, maka kita benar-benar akan menjadi orang-orang yang merdeka dan kembali ke fitrah (suci) seperti bayi yang baru lahir. Hal ini sesuai dengan tujuan puasa sendiri untuk menjadikan orang yang bertakwa sebagaimana yang telah dijelaskan pada ayat Al-Qur’an sebelumnya.

Sedangkan kehancuran sosial yang dimaksud adalah kehancuran hubungan masyarakat. Hawa nafsu jelek kita selalu ingin mengajak diri kita untuk berbuat yang mungkar dan ingin merusak hubungan sosial dengan masyarakat. Misalnya, sifat pelit, serakah, sombong, mengejek, menghina, dan merendahkan orang lain. Sifat-sifat tersebut semuanya bisa dikendalikan dengan puasa. Sebab, orang yang berpuasa dilarang untuk melakukan sikap buruk tersebut. Bahkan, di dalam puasa dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, infak kepada orang lain, terutama orang-orang yang membutuhkan. Itu artinya, puasa juga merupakan suatu upaya untuk merdeka dalam aspek sosial.

Dengan demikian, kemerdekaan yang baru saja dirayakan oleh bangsa Indonesia sebenarnya hanya menyentuh aspek fisik saja. Soalnya, masih banyak penjajah yang menyelinap dalam diri dan masyarakat kita, seperti hawa nafsu untuk berbuat jahat dan merusak tatanan sosial. Puasa sebagai bulan kemerdekaan merupakan salah satu upaya untuk melawan penjajah yang nonfisik tersebut. Maka, bulan puasa yang kebetulan jatuh pada bulan Agustus ini merupakan momen terpenting bagi Indonesia untuk lebih memaknai bahwa kemerdekaan hakikatnya bukan hanya kemerdekaan dari penjajah secara fisik saja, melainkan juga merdeka dari penjajah nonfisik.

Oleh Muhammad Rajab
sumber:suara karya online