Perputaran waktu terasa begitu cepat sehingga tak terasa bulan Ramadhan kembali hadir di tengah-tengah kita. Ramadhan adalah “tamu agung” yang istimewa. Keistimewaan itu tidak saja menunjukkan kesakralannya dibandingkan dengan bulan lain, tetapi juga mengandung pengertian yang lebih nyata. Makna yang lebih nyata itu ialah adanya peluang bagi pendidikan manusia secara lahir dan batin untuk meningkatkan kualitas baik rohani maupun jasmaninya.

Sebagai orang yang haus dengan ilmu pengetahuan, tentu kita tidak ingin “tamu agung” ini lewat dan berakhir begitu saja, tanpa ada nilai positif yang bisa kita raih. “Tamu agung” itulah yang akan kita jadikan sebagai momentum untuk menambah wawasan kita dalam mengarungi dunia pendidikan. Kita tahu, ilmu tidak datang dengan sendirinya. Ilmu itu harus dipertaruhkan dan diperjuangkan meskipun sampai berdarah-darah.

Said Al-Hawwa menuliskan dalam bukunya, Al-Islam, bahwa pada hakikatnya Ramadhan merupakan “madrasah”. Jika orang yang berpuasa pandai memanfaatkannya, mereka akan menjadi manusia baru, tidak seperti sebelumnya. Ramadhan adalah “madrasah” tempat seorang Muslim memperbarui ikatan-ikatan Islam pada dirinya dan mengambil bekal yang dapat menutupi segala kekurangan sebelumnya. Ramadhan merupakan syahru tarbiyah atau bulan pendidikan.

Bulan ini dikatakan sebagai bulan pendidikan karena Ramadhan merupakan waktu yang paling tepat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu, kita juga dibekali ritual ibadah puasa yang mampu mencerdaskan pikiran kita. Kalau kita kaji lebih dalam, pada keadaan lapar seperti ini (karena berpuasa), pikiran kita akan menjadi jernih.

Pada bulan ini umat Islam juga dididik untuk bisa berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, baik dalam konteks vertikal (hubungan dengan Al-Khalik) maupun horizontal (sesama makhluk). Dengan berbuat kebaikan pada dua konteks itu, diharapkan tidak hanya tercipta kesalehan religius, tetapi juga kesalehan sosial. Bagi yang berbuat kebaikan, disediakan hadiah (reward) berupa pahala, sedangkan bagi yang tidak, disediakan hukuman (punishment) dalam bentuk dosa. Jika dikaitkan dengan taksonomi pendidikan model Benjamin S. Bloom, jelas bahwa pendidikan Ramadhan masuk dalam “kapling” pendidikan afektif.

Yang menjadi wacana bagi kita sekarang, di Indonesia kini lebih dikedepankan masalah pengajaran dan bukan masalah pendidikan. Dari level paling bawah sampai perguruan tinggi, semuanya lebih condong pada masalah kognitif atau transfer of knowledge-nya saja. Sekarang yang dipraktikkan hanyalah sebatas pengajaran saja. Artinya, ilmu yang diajarkan bisa diamalkan atau tidak, itu menjadi urusan nomor kesekian kali bagi tujuan pembelajaran. Dan, masalah moral, akhlak, atau afektifnya menjadi nomor kesekian juga di dalam masalah pembelajaran saat ini.

Dalam hal pendidikin, penulis mengamati bahwa mutu pendidikan di Indonesia masih jauh ketinggalan apabila dibandingkan dengan negara-negara lain. Walaupun upaya meningkatkan mutu pendidikan sudah diperjuangkan oleh pemerintah dengan adanya pendidikan gratis sembilan tahun, tapi itu tidak menjadi barang jaminan bagi meningkatnya kualitas pendidikan di Indonesia. Itu hanya untuk meminimalisasi angka anak-anak putus sekolah saja.

Jika kita cermati, salah satu kelemahan pendidikan kita terletak pada aspek afektif. Hal itu dapat dibuktikan dengan menunjukkan banyaknya kasus negatif dalam bidang afektif yang mewarnai dunia pendidikan kita. Lantas, apa kontribusi pendidikan Ramadhan dalam kaitannya dengan penciptaan iklim pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai afektif?

Perlu disadari bahwa konsep pendidikan Ramadhan pada prinsipnya sederhana, tetapi mendasar, yakni berlaku mutlaknya suatu peraturan (syariat). Peraturan dalam pendidikan Ramadhan diberlakukan secara tegas, termasuk konsekuensinya, yakni ketaatan pada peraturan dihargai dengan hadiah dan pelanggaran direspons dengan hukuman.

Dalam dunia pendidikan kita, konsep seperti itu sebenarnya sudah ada, bahkan sudah lama ada, tetapi cenderung sebatas hanya konsep. Kalaupun direalisasikan, realisasinya tidak maksimal dan kadang-kadang terkesan diskriminatif.

Hal itu turut menjadi variabel penghalang yang menyebabkan perealisasian pendidikan afektif tidak sesuai harapan. Idealnya, kepada siswa yang taat dan berprestasi-tanpa memandang siapa, anak siapa dia, dan latar belakangnya-pihak sekolah mestinya memberikan hadiah, apa pun bentuknya. Bagi pelaku pelanggaran, sekecil apa pun kadar pelanggarannya, hukuman bersifat mendidik harus diberikan. Ini penting untuk mendukung tumbuhnya kesadaran siswa. Dalam hal ini, perlu mendapatkan pemahaman yang benar bahwa hadiah tidak harus diartikan materi dan hukuman tidak harus diartikan hukuman fisik.

Selain kelemahan pendidikan pada aspek afektif, kurangnya kepedulian terhadap proses mawas diri atau introspeksi diri juga perlu digarisbawahi untuk menata kehidupan. Jadi, bulan Ramadhan sesungguhnya bulan terbaik sebagai momentum mawas diri yang intensif. Dalam proses introspeksi diri, tentunya akan melibatkan evaluasi diri ke wilayah kedalaman jiwa untuk dinyatakan kembali dalam keseharian sebagai akhlak dan perilaku yang membumi.

Tentunya evaluasi ini didasarkan atas pengalaman hidup sebelumnya, yaitu pengalaman hidup selama sebelas bulan sebelumnya. Selain itu, evaluasi juga mencakup taksiran untuk kehidupan ke depan.

Lewat pendidikan Ramadhan ini, penulis berharap pendidikan di Indonesia dapat lebih berkualitas dibanding tahun-tahun kemarin, dan mampu menjadi bahan refleksi bagi negara lain. Ramadhan yang kita jalani sekarang hendaknya jauh bermakna bagi pendidikan diri dan bangsa kita.
Oleh Ahmad Mahfudz

sumber:suara karya online