Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas merupakan langkah penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. Hal ini diselenggarakan melalui pengendalian penduduk dan peningkatan kualitas insani dan sumber daya manusia. Karakteristik pembangunan antara lain dilaksanakan melalui pengendalian pertumbuhan penduduk, melalui perwujudan keluarga kecil berkualitas (Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2004-2009).

Permasalahan peledakan dan pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali memang menjadi satu tantangan yang sangat akut dalam rangka menekan laju pertumbuhan penduduk Indonesia. Berdasarkan hasil sensus penduduk (SP) 1990 dan 2000, jumlah penduduk Indonesia 179,4 juta jiwa dan 206,3 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk 1,49 persen per tahun pada periode 1990-2000 atau lebih rendah dari laju pertumbuhan penduduk periode 1980-1990 (1,97 persen). Sedangkan tahun ini, jumlah penduduk Indonesia berkisar 250 jutaan.

Masalah yang dihadapi antara lain masih tingginya pertambahan jumlah penduduk secara absolut. Meski telah terjadi penurunan fertilitas, namun secara absolut pertambahan penduduk Indonesia meningkat sekitar 3 juta sampai 4 juta jiwa per tahun.

Faktor utama yang memengaruhi laju pertumbuhan penduduk adalah tingkat kelahiran. Berdasarkan sensus penduduk tahun 1971, angka kelahiran total (TFR) diperkirakan 5,6 anak per wanita usia reproduksi. Dan, saat ini telah turun lebih 50 persen menjadi 2,6 anak per wanita (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia-SDKI, 2002-2003).

Penurunan TFR antara lain sebagai akibat dari meningkatnya pemakaian alat kontrasepsi (prevalensi) pada pasangan usia subur. Pada tahun 1971 angka prevalensi kurang dari 5 persen, meningkat menjadi 26 persen pada tahun 1980, 48 persen pada tahun 1987, 57 persen tahun 1997, dan tahun 2002 sebesar 60 persen (SDKI, 2002-2003).

Ledakan dan pertumbuhan penduduk Indonesia bukan berarti akan mampu meningkatkan kualitas bangsa. Sebab, pertumbuhan penduduk tidak menjadi jaminan ideal terbangunnya anak Indonesia yang berkualitas. Justru, pertumbuhan itu akan makin mempersulit dan memperlancar kesenjangan, pengangguran, dan kemiskinan yang menjadi problem neurosis bagi masa depan bangsa ke depan.

Salah satu cara yang paling efektif untuk mengatasi persoalan tingginya pertumbuhan penduduk, tingkat kelahiran dan kematian yang tidak seimbang, dan rendahnya kualitas reproduksi remaja adalah dengan penguatan program keluarga berencana (KB). Program ini diyakini dapat memberikan angin segar bagi setiap keluarga yang mendambakan tatanan keluarga sejahtera dan bahagia.

Dari segi kualitas, kondisi bangsa Indonesia cukup memprihatinkan. Ini tercermin dari human development index (HDI) negara Indonesia yang makin menurun kualitasnya. Pada tahun 1999 HDI Indonesia berada pada peringkat 102 dari 162 negara, pada 2004 ada di peringkat ketiga, dan pada 2005 diperkirakan pada peringkat ke-117 dari 175 negara.

Di sisi lain, perubahan lingkungan strategis, termasuk era globalisasi, telah menyebabkan terjadinya perubahan nilai-nilai dalam keluarga dan masyarakat. Untuk membangun ketahanan keluarga dan ketahanan bangsa diperlukan pembangunan yang dimulai dari karakter individu yang sangat ditentukan oleh pengasuhan keluarga sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan.

Keluarga yang fungsional ditandai dengan saling memperhatikan dan mencintai, bersikap terbuka dan jujur, ada berbagi masalah di antara anggota keluarga, orangtua melindungi anak, keluarga memenuhi kebutuhan psikososial anak dan mewariskan nilai-nilai budaya, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Mengingat pentingnya keluarga sejahtera, maka sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat, kita perlu membangun komitmen untuk bersama-sama mewujudkan kehidupan sejahtera bagi masyarakat secara luas.

Selanjutnya, mengapa kita perlu membina keluarga sejahtera dan berkualitas? Sebabnya, keluarga adalah bagian terkecil dari kehidupan masyarakat sehingga jika keluarga kecil itu berkualitas, masyarakat pun akan turut berkualitas. Kalau masyarakat berkualitas, negara pun akan makin berkembang dan maju secara besar-besaran.

Itulah sebabnya, kita harus menjadikan keluarga kecil sejahtera sebagai kumpulan keluarga yang tangguh, maju, dan mandiri di masa depan. Moto “keluarga tangguh, bangsa tangguh”, seperti yang pernah disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, harus kita gelorakan karena keluarga yang tangguh akan dapat mewujudkan bangsa yang tangguh pula. Keluarga kita akan menjadi tangguh apabila menerapkan nilai-nilai luhur dengan jiwa dan kepribadian bangsa.

Sebagai tulang punggung pembangunan bangsa, keluarga menempati posisi yang amat strategis dalam struktur kehidupan masyarakat. Generasi berkualitas terbentuk dari pembinaan keluarga yang merupakan struktur terkecil dan terbawah. Namun disadari bahwa melalui pembinaan keluarga cerdas, kita memiliki banyak harapan agar generasi yang terbentuk dapat menjadi pelopor pembangunan bangsa ke depan.

Pada titik inilah keluarga, dalam arti sebagai lembaga sosial kemasyarakatan, mempunyai fungsi-fungsi utama yang berlandaskan kehidupan sejahtera dan bahagia. Pertama, pemberian afeksi, motivasi, sinergi, dan persahabatan. Kedua, mengembangkan kepribadian sebagai cermin masyarakat gotong royong. Ketiga, membagi dan melaksanakan tugas-tugas dalam keluarga. Keempat, memelihara norma, kebudayaan, agama, dan moral.

Mengacu pada keperluan pokok untuk meningkatkan mutu manusia Indonesia, pemberdayaan sebaiknya diarahkan secara tepat dan pragmatis, yaitu secara sadar dilakukan dengan menempatkan manusia dan keluarga yang mampu menjemput bola; mampu mengakses berbagai prasyarat utama yang menjadikannya sumber daya yang mumpuni, yaitu sehat, cerdas, terampil, kreatif, dan mandiri. Untuk itulah, pertama-tama setiap penduduk harus mempunyai pengetahuan yang luas tentang syarat-syarat yang dibutuhkan, mampu memanfaatkan fasilitas untuk hidup sehat, cerdas, dan mandiri.

Oleh Mohammad Takdir Ilah
sumber;suara katya online