Pada zaman awal-awal kemerdekaan, Bung Karno pernah mencanangkan olahraga menjadi salah satu pendorong dalam rangka pembangunan rasa nasionalisme atau kebangsaan (nation building) dan membentuk karakter bangsa (character building). Karena itu, kegiatan keolahragaan lantas menjadi aktivitas yang dinamis dan menjadi alat perjuangan bangsa. Beberapa sarana olahraga yang lengkap dibangun, seperti kompleks olahraga Senayan (sekarang Gelora Bung Karno). Dengan segala keterbatasan kemampuan negara saat itu, Indonesia telah mampu menyelenggarakan sejumlah event olahraga penting berskala dunia.

Contohnya Asian Games tahun 1962 di Jakarta. Di samping dinilai cukup sukses dalam penyelenggaraan, Indonesia juga sukses dalam prestasi, yakni berada di urutan kedua dengan hanya kalah dari Jepang dalam pengumpulan medali. Setelah itu, tahun 1963 diadakan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) yang betul-betul berskala dunia. Dimaksudkan sebagai tandingan Olimpiade, event ini diikuti tidak kurang dari 50 negara, mayoritas negara-negara yang baru merdeka. Pada dekade ini prestasi atlet Indonesia pun cukup disegani di dunia internasional. Bahkan, Bung Karno mencanangkan Indonesia menjadi 10 besar dunia di bidang olahraga.

Untuk aktivitas olahraga masyarakat umum pun saat itu mendapat perhatian serius. Untuk aktivitas olahraga di rumah-rumah diluncurkan program yang dinamai Orhiba (olahraga hidup baru). Di tingkat sekolah diselenggarakan Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (POPSI) yang kerap kali juga dipakai sebagai sarana mencari bibit-bibit unggul calon atlet nasional. Tak mengherankanlah kalau saat itu prestasi atlet-atlet kita masih sangat diperhitungkan, terutama di tingkat regional. Sampai dekade 1970-1980-an, sejak pertama kali ikut SEA Games, Indonesia masih merajai sebagai “superpower” olahraga di Asia Tenggara.

Namun, kini prestasi Indonesia terus merosot dari tahun ke tahun. Di tingkat Asia Tenggara pun kita sudah tertinggal dari negara tetangga. Ini kemerosotan yang amat sungguh memprihatinkan. Di tengah-tengah kemajuan negara lain kita seakan-akan berjalan di tempat. Termasuk untuk cabang-cabang yang selama ini menjadi tradisi juara yang membanggakan semisal bulutangkis pun, kita sudah terpuruk, tidak lagi menjadi yang terbaik.

Bung Karno telah memberikan contoh kepada kita bahwa dengan tekad, motivasi, dan semangat juang yang tinggi, hal-hal besar akan bisa dicapai. Termasuk dalam hal ini untuk mengejar prestasi dan memasyarakatkan olahraga kepada segenap rakyat dalam rangka membentuk bangsa yang sehat dan berkarakter. Tentu saja dalam hal ini kita harus berlari lebih cepat untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain yang telah mendahului kita.

Untuk itulah, peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September ini hendaknya dapat kita jadikan momentum untuk membangkitkan kembali kehidupan keolahragaan nasional. Sesuai dengan semboyan Haornas yang telah cukup populer, yakni “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat”, maka upaya-upaya sistematis dan terprogram hendaknya terus dilakukan untuk mencapai kehidupan masyarakat yang menggemari dan melakukan aktivitas olahraga.

Bangsa yang gemar berolahraga akan menjadi bangsa yang sehat, berkarakter, dan juga menonjol dalam prestasi olahraga. Sebab, dari aktivitas olahraga masyarakatlah akan muncul bibit-bibit unggul yang telah terasah sedari kecil.

Selain untuk prestasi, hidupnya aktivitas olahraga di masyarakat juga akan dapat membentuk karakter bangsa seperti yang dulu pernah didengung-dengungkan Bung Karno. Banyak bangsa di dunia, seperti China, Korea, dan negara-negara Eropa, menggunakan olahraga untuk membentuk karakter bangsanya.

Jiwa sportivitas, nilai-nilai kejujuran, keuletan, semangat baja, dan pantang menyerah yang ada dalam kegiatan olahraga memang sangat pas untuk membentuk karakter bangsa. Masyarakat yang memiliki karakter seperti itu akan sangat mudah untuk berpartisipasi dan menjadi bagian penting untuk pembangunan bangsa secara keseluruhan.

Untuk itulah, pada masa krisis multidimensi yang kita alami ini, yang belum kunjung usai, peningkatan kegiatan keolahragaan menjadi lebih penting lagi artinya. Ini untuk menumbuhkan sifat-sifat kejujuran, keuletan dan sikap pantang menyerah di segenap lapisan masyarakat untuk berupaya mengatasi krisis yang masih melanda negara kita.

Pertama, untuk dapat berlangsungnya aktivitas olahraga secara optimal, tentu membutuhkan sarana olahraga yang memadai. Tidak saja di ibu kota negara Jakarta atau di kota-kota besar saja, namun fasilitas yang memadai mestinya dibangun di seluruh kota di Indonesia. Sebab, faktanya kerap kali atlet-atlet berprestasi muncul dari kota-kota kecil.

Untuk publik, perlu disediakan sarana olahraga umum yang memasyarakat seperti jalan kaki dan joging. Untuk itu, citywalk dan jogging track perlu dibangun di lokasi-lokasi strategis di dalam kota, sehingga keluarga bisa memanfaatkannya terutama untuk anak-anak yang masih kecil.

Kedua, kompetisi mulai dari tingkat sekolah (POPSI) sampai tingkat nasional (PON) perlu diperbaiki pelaksanaannya. Saat ini POPSI yang mulai hilang perlu digalakkan lagi karena dari sinilah akan muncul bibit-bibit muda yang unggul. Sedangkan untuk PON, betul-betul dilaksanakan untuk meraih prestasi dalam rangka prestasi yang lebih tinggi lagi di tingkat internasional. Pelaksanaannya yang ditengarai masih bermasalah, semisal jual-beli atlet antardaerah, segera harus diatasi karena hal ini sangat berpotensi menurunkan semangat pembinaan, yang berujung pada anjloknya prestasi para atlet. Bonus yang besar untuk atlet sah-sah saja, namun jiwa sportivitas dan kebanggaan untuk berprestasi harus selalu menjadi tujuan utama.

Ketiga, yang juga sangat penting adalah sosialisasi ke masyarakat tentang pentingnya olahraga haruslah dilaksanakan secara lebih terarah dan sistematis. Seperti pelaksanaan Haornas yang sangat kurang gaungnya di masyarakat, ke depan harus dilaksanakan dengan melibatkan sebesar-besarnya partisipasi masyarakat. Dengan demikian, masyarakat akan tergugah untuk menggemari olahraga dan menjadikannya bagian dari aktivitas kehidupannya, sehingga dapat menjalani kehidupan yang berkualitas baik jasmani maupun rohani. Seperti slogan kuno yang sangat populer, mens sana in corpore sano, bahwa di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

Oleh A Agung Shusena
sumber:suara karya online