Tinta sejarah bangsa Indonesia tidak pernah kering untuk menuliskan peran kaum muda dalam setiap momentum perjuangan kebangsaan. Nama-nama pemuda seperti Soekarno, Mohammad Natsir, Tan Malaka, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir telah menggoreskan sejarah negeri ini dengan tinta kehormatan dan pena kemuliaan. Pemikiran, gagasan, pengorbanan, dan aksi politik para pendiri bangsa tersebut telah membawa bangsa Indonesia pada gerbang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pena sejarah seolah enggan berhenti untuk mengisahkan keberanian para pemuda Indonesia. Setidaknya sejarah mencatat tiga momentum perubahan kekuasaan politik tidak dapat lepas dari kisah anak-anak muda, yaitu momentum Proklamasi Kemerdekaan 1945, kelahiran Orde Baru tahun 1966, dan gerakan reformasi 1998.

Seperti diutarakan oleh Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi, usia muda adalah masa-masa yang dinamis, penuh kekuatan, dan bertahtakan kemauan keras. Inilah masa di mana semangat seseorang menyala-nyala. Karakteristik pemuda seperti itu menempatkan pemuda pada kedudukan sebagai kekuatan perubahan. Dengan demikian, sangatlah wajar jika setiap momentum perubahan kekuasaan politik tidak dapat dilepaskan dari peran para kaum muda.

Ketiga momentum penting perubahan kekuasaan politik Indonesia tersebut memiliki sebuah benang merah. Ketiganya dilatarbelakangi oleh keprihatinan dan kepedulian terhadap kesengsaraan hidup rakyat. Keinginan terhadap kemerdekaan Indonesia dilahirkan oleh kesewenang-wenangan kekuasan imperialis Belanda yang telah melakukan berbagai penindasan sehingga menebarkan kesengsaraan di setiap penjuru negeri.

Kelahiran Orde Baru dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pemerintah terlalu berfokus pada persoalan politik dan menelantarkan kesejahteraan rakyat. Gerakan reformasi 1998 juga dilatarbelakangi oleh kenyataan makin lebarnya jurang ekonomi yang memisahkan antara segelintir orang dekat penguasa dan sebagian besar rakyat Indonesia.

Ketiganya sama-sama digerakkan oleh cita-cita bersama, yaitu kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Bukan ambisi pribadi yang menggerakkan anak-anak muda tersebut membangun gerakan perlawanan.

Bahkan terkadang mereka harus mengorbankan ego dan kepentingan pribadinya. Terkadang mereka juga rela menempuh jalan penderitaan, hidup dari penjara ke penjara, dan hidup dalam pengasingan guna memperjuangkan cita-cita mulia tersebut.

Namun, meskipun sudah tiga kali kaum muda menghadirkan momentum perubahan kekuasan politik, mengapa kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia masih jauh dari sejahtera? Masih banyak rakyat yang harus hidup di bawah garis kemiskinan, kesulitan memperoleh layanan kesehatan yang layak, dan berjarak terhadap layanan pendidikan berkualitas. Mengapa cita-cita yang melandasi perjuangan untuk menghadirkan ketiga momentum perubahan itu tak kunjung tercapai?

Persoalannya, pada saat para aktivis muda tersebut memperoleh kekuasaan setelah berhasil menumbangkan kekuasaan sebelumnya yang sewenang-wenang, biasanya mereka mulai lupa terhadap cita-cita perjuangannya. Rutinitas kekuasaan sering kali membuat mereka makin hari makin berjarak dengan cita-cita bersama. Kursi kekuasaan memang cenderung melenakan. Seolah-olah kursi kekuasaan memiliki kemampuan luar biasa dalam mencuci otak manusia yang duduk di atasnya. Kursi kekuasaan sering kali merampas jati diri orang yang berada di atasnya. Ego dan kepentingan pribadi yang dahulu berhasil mereka kalahkan demi kepentingan bangsa, kembali bertahta. Hal tersebutlah yang menyebabkan kesejahteraan rakyat tak kunjung meluas.

Lalu, apakah para aktivis muda gerakan reformasi 1998 akan mengulangi kesalahan yang telah dilakukan para pendahulunya, lupa pada idealisme dan cita-cita perjuangan?

Masyarakat menunggu konsistensi mereka terhadap gagasan dan pemikiran yang dahulu mereka agung-agungkan. Masyarakat menanti apakah mereka masih tetap lantang menyuarakan kepentingan rakyat. Pemerintah tetap membutuhkan kaum muda yang kritis dan berani untuk menjadi sparing partner dalam mengelola negara. Pemerintah butuh untuk terus dipantau agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu.

Konsistensi mereka terhadap upaya pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) menjadi harapan sebagian besar masyarakat. Jangan sampai para aktivis muda menjilat ludahnya sendiri. Mereka dahulu senantiasa mendengung-dengungkan anti terhadap KKN. Sungguh miris, jika terjadi, pada saat berada di panggung kekuasaan bukannya melanjutkan idealisme perjuangannya, melainkan mereka malah melakukan praktik-praktik kekuasaan yang dahulu diprotesnya.

Para aktivis muda, baik berada di lingkar kekuasaan maupun di tepi kekuasaan, harus mampu membangun komitmen agar setiap aktivitas dan langkah politiknya tetap digerakkan oleh idealisme dan tidak digerakkan oleh kepentingan terhadap materi. Para aktivis muda yang aktif di organisasi pemuda, orgasisasi mahasiswa, dan lembaga swadaya masyarakat juga perlu menjaga kesucian gerakannya. Gerakan yang dilakukan harus senantiasa diinspirasi oleh cita-cita dan idealisme perjuangan reformasi.

Memang setiap gerakan membutuhkan dana dan fasilitas, namun jangan sampai karena kebutuhan akan dana, gerakan idealisme digadaikan. Gerakan kaum muda harus konsisten terhadap agenda idealisme, sedangkan pembiayaan gerakan kita cari pada para dermawan yang memiliki idealisme sama. Tentukan agendanya terlebih dahulu, baru mencari sumber-sumber pendanaan. Jangan terbalik, jangan sampai gerakan kaum muda digerakkan oleh kepentingan terhadap materi.

Peringatan Sumpah Pemuda kali ini harus dijadikan momentum oleh segenap kaum muda untuk kembali memperbarui komitmen terhadap idealisme dan cita-cita perjuangan reformasi. Sumpah Pemuda bukan sekadar deklarasi komitmen untuk bertanah air, berbangsa, dan berbahasa Indonesia. Sumpah Pemuda adalah sebuah semangat bahwa kepentingan nasional dan kepentingan bangsa harus diletakkan di atas kepentingan pribadi, golongan, dan kelompok.

Revitalisasi semangat kaum muda untuk bersatu melawan kejahatan korupsi menjadi agenda yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Seluruh potensi kaum muda perlu disatukan kembali guna memperkukuh agenda reformasi menghadirkan Indonesia baru yang bebas dari praktik KKN dan praktik kekuasaan yang tidak berpihak pada rakyat banyak.

oleh:Miftah Arief

sumber:suara karyaonline