Seluruh peristiwa yang menjadi latar belakang sejarah Idul Adha merujuk pada peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Beliau adalah seorang nabi yang berjuang dengan segala tenaga untuk menanamkan ajaran tauhid, memperkukuh nilai-nilai kemanusiaan universal dan membangkitkan semangat berqurban untuk menuju cita-cita luhur.

Momentum ibadah haji kali ini hendaknya dapat memberikan semangat agar kita menjadi orang-orang mukmin yang menang dalam perjuangan menghadapi tantangan, baik tantangan eksternal yang berupa lingkungan di sekitar kita maupun tantangan internal yang berada di dalam diri kita masing-masing.

Ibadah haji juga memberikan pesan tentang pentingnya persatuan. Perbedaan suku, bangsa, dan bahasa merupakan fitrah manusia, tetapi perbedaan itu haruslah menjadi sumber kekuatan dan bukan sumber konflik atau pertentangan. Sebab, Allah SWT menjadikan perbedaan itu agar kita semua saling mengenal dan kemudian membangun sesuatu yang konstruktif bagi kemaslahatan umat.

Saat ini jutaan kaum muslimin tengah menjalankan ibadah haji. Mereka tersebar di sekitar Mina untuk melempar jumrah dan tawaf di Ka’bah atau shalat di Masjid Madinah. Tanggal 9 Dzulhijah mereka wukuf di Padang Arafah. Wukuf berarti berhenti. Umat Islam sering menangis tersedu-sedu saat merenungkan masa lalunya, masa kini, dan masa yang akan datang yang penuh dengan ketidakpastian.

Padang Arafah yang merupakan padang pasir tandus yang kini makin menghijau adalah tempat pelaksanaan puncak-puncak ibadah haji. Alhajju ‘Arafah (haji itu di Arafah). Di Arafah calon-calon haji diwisuda. Orang sakit dibawa dengan ambulan supaya hajinya sah. Saat syahdu wukuf di Arafah, bacaan talbiyah terdengar bertalu-talu dari mulut yang kering. Wajah serta badan para jemaah berdebu, dibungkus kain-kain putih yang tak berjahit. “Ya, Allah, ini aku datang memenuhi panggilan-Mu, tak ada sekutu bagi-Mu dalam kuasa-Mu. Pujian dan nikmat hanya milik-Mu.”

Haji adalah ibadah yang telah diwariskan Nabi Ibrahim. Sejarah Nabi Ibrahim adalah cerita para rasulullah dalam memancangkan tauhid yang kukuh untuk mengesakan Allah SWT dalam kalbu manusia dengan menghancurkan berhala, patung-patung sesembahan orang musyrik. Dengan memancangkan keesaan Allah SWT, Ibrahim menjadi lawan dari ayah kandungnya sendiri yaitu Azar.

Tauhid yang bersih dari kalbu Ibrahim membawanya ke api yang menyala-nyala. Namun, Allah SWT telah menjadikan api yang menyala-nyala, dengan suhu yang begitu panas, menjadi “dingin” sehingga beliau (Nabi Ibrahim) menggigil kedinginan.

Haji adalah ibadah tua yang menggambarkan hubungan ayah yang sudah tua dengan anaknya, Ismail, putra yang harus diqurbankan atas perintah Allah SWT. Sang ayah, Ibrahim, patuh dan taat menerima perintah Allah SWT untuk mengqurbankan anak kesayangannya. Sang anak, Ismail, begitu pula, sabar, patuh, dan taat ketika perintah Allah SWT disampaikan oleh ayahnya, Ibrahim, untuk menyembelihnya. Cobaan besar dan berat melanda keluarga besar Ibrahim. Namun, dengan dilandasi iman yang kuat, semua itu diterima dengan sabar.

Allah mengganti Ismail dengan domba sebagai sembelihan. Mulai dari moyang kita, Adam, kepada Nabi Muhammad SAW, misi kenabian tidak berubah, yaitu mengesakan Allah SWT dalam iman dan ibadah, serta menjauhi taghut (berhala). Sejak dulu kala hingga era modern kini, kehidupan manusia tak pernah sepi dari godaan setan dalam bertauhid kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa putih rambutnya ketika membaca Surat Huud yang menggambarkan azab Allah SWT kepada umat Nabi Nuh, Luth, Syuaib, dan Musa, yang menyeleweng dari tauhid.

Prinsip dasar atau pokok agama adalah tauhid, mengesakan Allah SWT sendiri dalam iman dan ibadah. Akidah atau prinsip dasar yang kukuh dalam beragama akan menjadikan manusia berani, tidak ragu-ragu bahwa Allah SWT adalah penentu nasibnya, bukan yang lain-lain seperti keris, cincin, batu-batu, atau jimat-jimat. Tauhid yang kukuh akan melahirkan manusia sempurna yang dalam agama Islam disebut insan kamil.

Pesan yang ingin disampaikan lewat perjalanan Nabi Ibrahim pada ibadah haji adalah semangat untuk menegakkan tauhid yang ternyata menjadi kekuatan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Hal ini dapat kita rasakan dalam sejarah perjalanan masyarakat dan bangsa Indonesia.Pada awal perkembangan Islam di negara kita, mereka yang pulang dari haji menjadi guru-guru yang memperkenalkan budaya baca-tulis terhadap masyarakat yang masih buta huruf.

Pada zaman penjajahan, para haji itulah yang ikut mengobarkan api perlawanan terhadap penjajah. Karena itu, seorang orientalis Belanda yang bernama Snouck Hurgronje merasa perlu tinggal di Mekah untuk meneliti apa yang sesungguhnya menjadi sumber kekuatan penduduk Muslim untuk menentang penjajah itu.

Demikian pula pada awal kemerdekaan, banyak di antara founding fathers dari negara kita yang pernah menunaikan ibadah haji. Dengan demikian, dampak positif dari ibadah haji benar-benar kita rasakan bagi kemajuan umat dan bangsa Indonesia. Umat manusia sekarang sedang berada di tengah-tengah arus globalisasi.

Bagi umat Islam di Indonesia, keadaan ini akan sangat menentukan nasibnya. Karena itu, tingkat kesiapan mereka akan sangat menentukan apakah umat Islam akan menjadi kelompok penonton, pemain pinggiran, atau menjadi kekuatan yang secara positif menggerakkan dan sekaligus mengarahkan corak perkembangan yang akan terus bergulir tanpa henti pada masa yang akan datang.

Supaya pertolongan Allah datang kepada kita, kunci utamanya adalah keimanan, kerja keras, dan kejujuran. Hanya kepada manusia beriman pertolongan Allah akan datang. Yakinlah dengan iman yang kuat disertai segala upaya dan kerja keras kita tanpa putus asa. Setiap diri harus meningkatkan imannya sendiri, keluarga, dan masyarakat. Pertolongan Allah untuk melepaskan orang-orang yang menderita hanya datang kalau mereka benar-benar beriman

oleh:Tarmizi Taher
sumber:suara karya online