Ibadah dalam Islam seperti shalat, zakat, puasa, naik haji termasuk berqurban dan lain-lainnya mengandung nilai-nilai humanis tinggi dan efek-efek spiritual yang memesona. Orang yang melakukan shalat dengan khusyuk, pastilah tingkat ketakwaannya kepada Allah terjaga. Dan pasti pula, apabila ia seorang birokrat atau pejabat negara, tidak akan melakukan korupsi, tidak akan merugikan negara ataupun orang lain. Dengan demikian, terlaksanalah tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan terwujudlah pemerintahan yang bersih (clean government.

Pada pelaksanaan ibadah haji di Mekah tahun ini sekitar 2,5 juta umat Islam akan wukuf di Arafah pada 26-30 November. Peristiwa ini merupakan momentum berskala internasional yang menumbuhkan rasa persaudaraan serta solidaritas sesama Muslim di seluruh dunia. Ketika itu semua jemaah memakai pakaian yang sama, yaitu pakaian ihram putih-putih, baik raja, presiden maupun pejabat lainnya.

Ini merupakan pendidikan kesetaraan (equity yang tiada tandingannya. Setiap jemaah juga berqurban satu ekor kambing atau domba yang penyelenggaraannya diserahkan kepada petugas yang telah ditentukan. Daging kambing qurban ini dibagikan kepada fakir miskin, mualaf, orang sedang berjuang di jalan Allah dan lainnya, sesuai Surat At-Taubah ayat 60.

Shalat adalah tiang agama. Siapa yang tidak shalat berarti orang yang bersangkutan perlu meningkatkan imannya dan melakukan amal saleh. Shalat juga mencegah manusia dari melakukan pekerjaan keji dan mungkar (inna shalaata tanha anil fahsyai wal munkar). Pejabat menemui penjahat dalam bentuk melawan hukum adalah perbuatan mungkar dan perbuatan keji.

Makna zakat, di samping melakukan perintah Allah, adalah untuk membantu orang-orang yang tak punya, orang-orang miskin, dan lainnya yang menimbulkan kepedulian sosial yang Islami. Begitu juga halnya berpuasa, telah banyak ditulis secara ilmiah betapa efek puasa itu baik untuk kesehatan, mengendalikan gula darah, mengurangi lemak jahat, memperkuat mesin pencernaan, membuat awet muda, dan sebagainya. Orang yang berpuasa dapat merasakan bagaimana rasa lapar seperti yang sering dirasakan oleh orang yang tak punya. Menjalankan ibadah puasa dapat meningkatkan ketakwaan kepada Allah dan menumbuhkan kepedulian kepada sesama.

Khusus ibadah qurban, juga mempunyai nilai ilahiah dan insaniah. Ibadah qurban merupakan perintah Allah mengikuti jejak perjalanan sejarah Nabi Ibrahim AS. Melalui mimpi yang berupa wahyu, Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah “mengorbankan” anaknya, Ismail, untuk menguji keimanannya.

Namun, ketika pisau didekatkan ke leher Ismail, dengan kekuasaan Allah diganti dengan domba. Akhirnya, dombalah yang tersembelih dan Ismail selamat.

Surat Al-Kautsar (nikmat yang banyak) yang terdiri atas tiga ayat, tergolong surat yang diturunkan di Mekah, yang pokok isinya menyatakan bahwa Allah SWT telah melimpahkan nikmat yang banyak. Karena itu, bershalatlah dan berqurbanlah sebagai tanda bersyukur atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Orang-orang yang membenci Rasulullah akan terputus nikmat Allah baginya.

Dalam Islam tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai atau menyayangi saudara-saudaranya sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri. Bagi umat Islam yang berpunya, sesuai perintah Allah SWT, ia harus berqurban, menyembelih hewan qurban untuk dibagi-bagikan kepada fakir miskin, para mualaf dan sebagainya, sesuai dengan ketentuan dari Allah (Surat At-Tabah ayat 60).

Ibadah qurban mempunyai dimensi-dimensi yang dalam. Di samping punya makna hubungan dengan Allah (hablum minallah), juga mengandung hablum minnanaas, yaitu kepedulian dalam hubungan dengan manusia. Ibadah qurban menumbuhkan kesetiakawanan, solidaritas sosial, dan kepedulian kepada sesama. Dengan demikian, teraplikasi sosialisme Islam yang dilindungi Allah dan rahmatan lil ‘alamin.

Banyak orang Islam yang kaya, mampu untuk berqurban, tetapi mereka tidak berqurban. Hal ini sangat memprihatinkan. Sekarang kita menyaksikan banyak terjadi krisis kepercayaan, yang bermula dari krisis diri. Ini dapat mengakibatkan krisis ideologi, krisis agama, dan ini memengaruhi pandangan hidup yang menjurus pada krisis karakter.

Terjadinya korupsi, merajalelanya “markus”, tawar-menawar perkara, pejabat menemui penjahat yang berskala melanggar hukum, ini sungguh menyedikan kita semua. Masalah ini terjadi karena krisis kepercayaan, karena ketiadaan semangat untuk berkorban bagi kepentingan yang lebih besar: kepentingan bangsa dan tanah air.

oleh:Syofyan Saad

sumber:suara karya online