Film kiamat 2012 yang sudah menyita perhatian besar dari penonton dan masyarakat negeri ini menceritakan hari kiamat menurut penanggalan kuno bangsa Maya pada 21 Desember 2012 yang ditandai dengan mahabencana alam pada skala global. Film ini digarap Roland Emmerich, sutradara spesialis film fiksi-sains seperti Stargate (1994), Independence Day (1996), Godzilla (1998), dan 10.000 BC (2008).

Film kiamat 2012 tersebut telah mengundang “kemarahan” sebagian elemen agama di negeri ini, yang dibuktikan dengan keluarnya fatwa haram dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Institusi keagamaan ini menyebut film kiamat 2012 sebagai produk budaya atau kreasi masyarakat yang tidak perlu ditonton. Pasalnya, film ini hanya berisi penyesatan teologis atau mengaburkan kehendak Tuhan (Allah). Sebagaimana disebutkan Ketua MUI Malang bahwa meski itu (2012) hanya karya seni, tetapi jika hasil karya seni itu memengaruhi dan mengubah keyakinan, hendaknya hal itu dilarang (Kompas, 17 November 2009).

Idealnya, memang kita tidak perlu tergesa-gesa marah atau reaktif terhadap film ini. Pasalnya, film yang mengisahkan kehancuran alam ini setidaknya dapat memberi pencerahan, bukan pada soal prediksi waktu kedatangan kiamatnya, tetapi pada akar masalah sikap dan perilaku manusia yang berhubungan dengan kehancuran alam.

Lingkungan fisik alam sudah terpolusi, terdegradasi, atau rusak parah akibat dikriminalisasi oleh predator. Adapun konstruksi komunitas sosial sedang rentan oleh perilaku yang suka membangkang (melanggar secara serius) atau menyelingkuhi sunnatullah. Lantas, apa yang masih membekas pada diri kita? Alexander Solzhenitsyn menjawab, “Tidak ada lagi, kecuali kenyataan bahwa status manusia telah turun, lebih rendah daripada status binatang.”

Ketika status kemanusiaan telah jatuh pada dimensi animalistik, layaknya seperti yang dilakukan oleh pola kebinatangan (al-bahamiyah) itu, Maurice Clavel, filsuf asal Prancis, maka manusia melupakan Tuhan. Tuhan tidak lagi menarik untuk disembah atau hanya tepat digunakan sebagai komoditas, termasuk melindungi industrialisasi jagat hiburan yang ditahbiskan masyarakat.

Sebut saja umat Nabi Luth dan Nabi Nuh yang lekat dengan budaya mesum, menanggalkan kaidah moral, gemar merusak sumber daya alam dan mengejek dakwah sunnah kenabian, akhirnya dihancurkan (dikiamatkan) oleh Allah.

Firman Allah SWT menegaskan, mereka yang mendustakan (mematikan) ayat-ayat-Nya akan ditarik secara berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang mereka tidak ketahui (Q.S. Al-A’raf: 82).

Penarikan orang secara gradualistik ini akan membuat masyarakat merasa seperti tidak terkena sanksi moral-keagamaan, dan boleh jadi akan makin menantang Tuhan, apabila mereka tidak belajar pada peristiwa yang menimpanya.

Keberadaan orang-orang saleh (al-muslihun) tidak bisa menghalangi dan menafikan azab (bencana) yang akan dijatuhkan oleh Allah ketika kejahatan dibudayakan, dibenarkan, dan mensistemik di tangan kaum cendekiawan dan politikus. Allah tidak menginginkan orang-orang saleh sebatas diposisikan dan diperankan sebagai pelindung atau tameng untuk menyelamatkan akumulasi kejahatan yang marak di sebuah negeri.

Kejahatan yang dilakukan dan dimarakkan manusia itu merupakan bentuk penghalang fundamental atau hambatan serius bagi setiap gerakan pembaruan yang bercita-cita luhur. Sebab, dalam kejahatan yang dilakukan dan dimarakkan tersimpan berbagai bentuk perilaku dan strategi yang dimaksudkan untuk menolak penegakan dan pemenangan kebenaran.

Beragam prahara nasional di republik ini, yang antara lain mengorbankan (menumbalkan) orang-orang tidak berdosa, tidak cukup ditangkal dengan mengandalkan dan meminta doa orang-orang saleh, tetapi menuntut amalan sejati (empiris) kesalehan nasional, ketakwaan publik atau kesadaran kumulatif dan sistemik, khususnya elite kekuasaan yang telah diangkat sebagai pemimpin bangsa untuk memberdayakan sunnatullah dalam setiap dinamika perilaku individu, kelompok, etnis, dan organisasinya.

F Nietszhe pernah mengatakan bahwa God is dead atau Tuhan telah mati. Ungkapan demikian bukan karena filsuf ini telah murtad atau jadi ateis, tetapi karena ia menggugat kondisi masyarakat yang sedang terlena dalam perilaku dan budaya yang antimoral, antinorma, dan antiagama. Masyarakatnya memang masih menyebut stigma beragama secara formal, namun dalam kenyataannya, mereka seolah telah ada kebulatan atau kebersamaan untuk melawan agama, beramai-ramai mengorup, menelanjangi, dan menanggalkan norma agama.

Masyarakat yang digugat filsuf itu merupakan cermin masyarakat yang terbius dan terhegemoni oleh pesona duniawi, tarikan kenikmatan hedonisme, atau terseret dalam arus kehidupan serbamateri, memberhalakan kesenangan dan perubahan gaya hidup. Kesemuanya ini dilakukan dengan cara memagari dan mengeliminasi peran sakral agama dalam kehidupannya.

Bagi masyarakat itu, agama tidak lebih dari penghalang yang hanya bisa melarang dan memerintahkan, tanpa memberikan kebebasan atau liberalitas kehidupan. Jadi, tidak sepantasnya dijadikan kiblat kehidupan manusia yang sudah menjalani kehidupan dengan takaran rasionalitas, materialistis, dan objektivitas.

Filsuf itu bermaksud mengkritik jalan salah yang ditempuh masyarakat agar kembali menghidupkan Tuhan di dalam diri, dalam berinteraksi, bernegosiasi, dan mengonstruksi kehidupan makronya. Tuhan adalah sandaran tunggal yang membuat keberlanjutan kehidupan tetap terjaga atau sejarah peradaban manusia tetap berjalan normal dan sakral.

Sayangnya, masyarakat sekarang pun layak dikritik dengan menggunakan ungkapan filsuf itu. Pasalnya, realitas buram atau bopengnya menunjukkan pembenaran bahwa misalnya stigma sebagai the biggest Moslem community in the world atau masyarakat Muslim terbesar di muka bumi, hanyalah sebutan di atas kertas. Sebab, dalam realitas empiriknya, masyarakat kita sedang terseret larut dalam pesona budaya atau pergeseran gaya hidup yang makin menjauh dan mendesakralisasi norma agama, seperti yang digelontorkan oleh tayangan sinetron remaja.

Film 2012 merupakan kritik keras untuk mengembalikan tatanan peradaban manusia yang terlalu materalistis dan hedonistik supaya kembali (menuju) ke jalan spiritualistik. Jalan ini harus melalui ancaman serius atau pesan dunia maya yang menghadirkan horor. Namun, bagi Tuhan, segala sesuatu yang mustahil bisa terjadi di muka bumi ini.

oleh:Abdul Wahid
sumber:suara karya online