Kiamat adalah sebuah peristiwa mengerikan. Dunia akan dihancurkan pada hari kiamat nanti. Seluruh isi dunia akan dimuntahkan. Peristiwa penghancuran dunia ini sudah pasti akan tiba, tetapi sejatinya manusia tidak diberi pengetahuan lebih tentang kapan waktunya. Semua masih dalam kuasa Allah SWT sebagai pemberi keputusan. Sebab, jika manusia diberi tahu, niscaya siklus kehidupan tidak akan seimbang, mengingat kehidupan makhluk di bumi tak lebih merupakan sebuah ujian. Pasalnya, manusia telah menyatakan diri akan sanggup mengelola segala isinya.

Tak sekadar itu, jangankan kita, manusia sekelas nabi (rasul) pun tidak diberi tahu kapan kiamat akan tiba. Orang-orang suci lainnya pun sama. Karena kiamat, sekali lagi, adalah kuasa Sang Pencipta. Meski begitu, hal yang mesti kita ingat bahwa Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan kepada umat manusia melalui hadits tentang tanda-tanda hari akhir (kiamat). Begitu juga di dalam Al-Qur’an, dijelaskan secara umum tentang kiamat itu.

Di dalam Al-Qur’an sangat banyak ayat yang menjelaskan keadaan atau kondisi hari kiamat. Salah satunya, seperti yang termaktub di dalam surat Al-Qori’ah ayat 6, bahwasanya pada hari kiamat gunung-gunung akan diletuskan dan berhamburan seperti kapas-kapas yang beterbangan.

Ada pula ayat yang menjelaskan pada hari itu (kiamat) planet-planet bertabrakan dengan matahari dan bulan, serta masih banyak lagi gambaran lainnya. Di samping itu, Al-Qur’an juga memberikan beberapa nama hari kiamat, seperti Al-Qori’ah, Al-Ghosyiah, Ath-Tho’ah, Al-Haqqoh, Ash-Shokhah, Yaumul Hisab, dan Yaumu-ddin.

Di sisi lain, Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 63 menyatakan, “Apabila manusia bertanya kepada kamu tentang kapan datangnya hari kiamat, maka katakanlah bahwa manusia itu tidak diberi ilmu pengetahuan lebih tentangnya, dan perlu diketahui bahwa kiamat sangatlah dekat.” Peringatan Allah SWT ini ditujukan kepada manusia agar tidak menggunakan kehidupan di muka bumi ini dengan perbuatan-perbuatan nista.

Begitulah beberapa penjelasan Al-Qur’an tentang hari kiamat. Nabi Muhammad SAW melalui hadisnya menjelaskan tanda-tanda hari kiamat. Di antaranya waktu berjalan terasa makin cepat berlalu, banyaknya manusia yang tak mau lagi beribadah atau beramal saleh, saling memfitnah, banyaknya peperangan atau aksi saling bunuh, maraknya perzinaan, serta lain-lainnya. Sedangkan tanda-tanda makin dekatnya kiamat adalah munculnya Dajjal (pembohong), turunnya Nabi Isa a.s. dan terbitnya matahari dari sebelah barat (hadis riwayat Bukhori dan Muslim dalam Shahih Bukhori dan Shahih Muslim). Demikianlah penjelasan secara tekstual dari hadis-hadis Nabi Muhammad SAW tentang tanda-tanda hari kiamat.

Terlepas dari hal itu, memercayai akan datangnya hari kiamat adalah salah satu rukun Iman. Artinya, setiap umat Muslim, khususnya, dan manusia umumnya, mesti memercayai bahwa kehidupan manusia di dunia sudah barang tentu ada akhirnya.

Seperti kata pepatah, ada awal sudah barang tentu ada pula akhirnya. Sebab, segala sesuatu di bumi ini bersifat sementara dan tidak kekal atau abadi. Pertanyaan ke manakah nanti kita akan melanjutkan kehidupan, itu persoalan lain. Artinya, manusia tak akan bisa menghindari serta memungkiri akan tibanya akhir zaman, meski beberapa filsuf masih mempertanyakan akan hal ini. Namun, suatu saat nanti pasti akan terjawab.

Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan sebuah film kiamat 2012 (Two Thousand and Twelve). Menurut ceritanya, film ini berdasarkan ramalan bangsa Maya bahwa pada tahun 2012, tepatnya 12/12/12 nanti, bumi akan mengalami kehancuran serius (kiamat), sesuai dengan kalender yang mereka ciptakan selama berabad-abad.

Awal mulanya, bangsa Maya terobsesi pada perjalanan waktu. Tanpa menggunakan peralatan seperti teleskop, para astronom Maya memperhitungkan lamanya waktu satu bulan, sehingga banyak orang lebih memercayai kalender Maya yang sudah berusia sekitar dua ribu tahun silam ketimbang kalender Gregorian yang berusia ratusan tahun dan kita gunakan saat ini.

Ramalan ini semestinya dijadikan sebuah pelajaran penting bagi manusia. Sebab, bukan tanpa alasan kalau ramalan ini mencuat ke permukaan. Lihat saja, betapa bumi tempat kita berpijak ini sudah mengalami kerusakan-kerusakan serius akibat ulah tangan manusia. Peristiwa-peristiwa alam yang mengerikan kerap kali terjadi, mulai dari tsunami, gempa bumi, tanah longsor, abrasi, pemanasan global, perang yang tak kunjung usai, hingga perilaku-perilaku amoral menjadi kebiasaan, pembunuhan merajalela, serta masih banyak lagi indikasi cukup kuat untuk dijadikan alasan logis.

Bukan bermaksud membenarkan film itu, tapi bagaimanapun, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia pun mampu memberikan prediksi-prediksi terhadap dinamika kehidupan manusia di bumi ini. Bukti-bukti empiris di atas cukup rasional dan logis untuk dijadikan penguat beberapa prediksi tersebut.

Namun, bukan lantas kita memercayainya tanpa sikap kritis. Sebab, persoalan kapan tibanya kiamat adalah rahasia Tuhan dan manusia hanya bisa mengira-ngira. Meski secara psikologis masyarakat terganggu, tapi alangkah lebih baik terlebih dahulu memberikan penjelasan secara normatif sebelum atau sesudah menyaksikan film yang fenomenal tersebut.

Sebab, kiamat adalah persoalan keyakinan yang sulit untuk dibuktikan atau dimaterialkan. Pungkasnya, menurut hemat penulis, sebaiknya film tersebut dijadikan pelajaran berharga bagi manusia agar sesegera mungkin meninggalkan praktik-praktik amoral serta perusakan terhadap alam, dan kembalilah kepada Sang Khaliq. Wallahu A’lam Bish-showab.

oleh: Erit Aswadi

sumber:suara karya online