Aksi bunuh diri, terutama dengan cara meloncat dari ketinggian, kini menjadi tren baru di kalangan masyarakat. Problem hidup yang kian rumit serta tuntutan sosial yang akrobatik dan karut-marut membuat sebagian orang suka berpikir sempit dan cenderung cepat menempuh jalan pintas guna menyelesaikan masalah. Padahal, jalan pintas bukan menyelesaikan persoalan, melainkan menyisakan aneka soal baru yang butuh solusi.

Mengapa fenomena serupa ini kerap terjadi berulang? Salah satu ihwal yang bisa diungkap adalah kuatnya gejala kian menipisnya jati diri serta kecenderungan mengukur kesuksesan dengan cara selalu melihat orang lain dan hanya dari segi materi (fisik) belaka. Sebagai umat Muslim, kita telah diajari untuk tidak silau dengan keadaan orang lain serta senantiasa menengok ke dalam diri guna introspeksi. Inilah yang disebut dengan permenungan (muhasabah).

Momentum tahun baru Hijriah saat ini menjadi wahana aktual guna memaknai ulang (reaktualisasi) arti penting sebuah introspeksi. Muhammad Saw, sang pelopor, tidak hanya sukses memancang fondasi ketauhidan bagi umatnya.

Napak tilas Nabi ketika ia mengajak kaum Mekah untuk hijrah ke Madinah tak ubahnya jejak sejarah yang menguar-uarkan pesan kemanusiaan bahwa manusia harus selalu berikhtiar untuk bisa berhijrah: dari kemungkaran menuju kebaikan; dari gemerlap duniawi menuju hakikat kesejatian diri.

Ritus hijrah pada aspek yang lain juga mengabadikan keagungan Ilahi berupa karunia potensi insani yang berwujud, antara lain, kesempatan melakukan koreksi dan kemampuan berintrospeksi. Di atas semua itu, serangkum potensi tersebut akan kian sempurna jika manusia sudi mengemasnya dalam bentuk kekuatan visi, aksi, dan akhirnya aktualisasi yang nyata.

Pada lingkup paling minimal, dalam konteks hijrah, Muhammad Saw telah mewariskan “pusaka” kembar berupa kekuatan taubat dan syukur. Taubat pada dimensi ini bisa dimaknai sebagai komitmen untuk melakukan perubahan. Tentu saja, sesuai visi hijrah, itu adalah perubahan ke arah yang positif dan lebih baik. Sedangkan dimensi syukur, sepatutnya ditafsirkan dalam bingkai kreatif, yaitu kesudian untuk senantiasa mengoptimalkan segenap talenta diri serta potensi sosial.

Pada sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban, baginda Rasul pernah menularkan sejurus resep mujarab ihwal membagi waktu. Menurut ayahanda Fatimah ini, mengatur waktu bisa diwujudkan melalui pemetaan terhadap empat kategori.

Pertama, waktu untuk Tuhan. Sebagai makhluk beragama, setiap Muslim tentu harus mengalokasikan sebagian waktunya khusus untuk berhubungan dengan Sang Khaliq. Sebagai contoh adalah saat seorang hamba berzikir dan mengingat Tuhan, dalam bentuk berdoa (munajat) ataupun menunaikan ritual agama (ibadah).

Kedua, waktu untuk introspeksi (muhasabah). Aktivitas permenungan bukan berarti melamun dan mengkhayal tanpa guna, namun lebih pada wujud refleksi, melihat sedekat mungkin gerak hati dengan jalan menghitung-hitung kesalahan yang telah dilakukan seraya berupaya memperbaikinya. Islam menitahkan kepada pemeluknya agar menghitung kesalahan dan dosa serta melupakan amal dan kebaikan. Hal ini berguna untuk menepis rasa riya dan sombong serta memompa semangat untuk selalu berbuat kebajikan.

Dalam buku Laa Tahzan, Aidh al-Qarny pernah menceritakan seorang ilmuwan yang setiap hari memiliki pekerjaan rutin berupa menulis buku harian yang berisi daftar kesalahan dan dosa dalam sehari. Catatan itu ia gunakan sebagai rujukan agar tak mengulanginya pada keesokan hari.

Ketiga, waktu khusus untuk alam semesta. Pada bingkai ini adalah memberikan waktu tersendiri untuk melakukan sosialisasi dan transformasi dengan dunia luar. Tercakup dalam poros ini adalah kegiatan berpikir atau mengolah rasa, akal, dan nurani, dalam berbagai bentuknya.

Keempat, waktu untuk hidup (ma’iesyah). Titik tuju yang menjadi sasaran di sini adalah aktivitas mencari nafkah (bekerja). Sebagai realisasi dari konsep ikhtiar, hal ini menjadi jembatan yang mutlak dilewati sebagai syarat survival seorang manusia (baca: makhluk hidup). Sebelum akhirnya dipungkas dengan sikap tawakal, bekerja merupakan kewajiban bagi siapa pun.

Yang jelas, kiat-kiat yang ditawarkan Nabi hanya akan menjadi pepesan kosong manakala umat Islam kini tak lagi menempatkan Nabi dengan segenap senarai biografinya sebagai teladan yang layak dipanuti.

Hijrah di titik ini tak ubahnya pintu masuk guna meneropong lorong sejarah hingga di mana Muhammad Saw dengan para sahabatnya telah memeras keringat menegakkan fondasi kemanusiaan dan mengibarkan panji keislaman dan bisa kita nikmati sampai hari ini.

Tahun baru Hijriah bukan sekadar noktah kalender yang beku dan bisu. Sebaliknya, Hijriah adalah “napas” yang dapat dijadikan ransum semangat bagi manusia sekarang untuk mengarungi rimba kehidupan. Hijrah Muhammad Saw, yang lebih karena dorongan etos dan elan vital untuk berdakwah menebar rahmat dan kedamaian, mesti dieja sebagai sindiran pengobar spirit bagi umatnya di zaman modern.

Jika Nabi dahulu hanya bersenjatakan pedang dan unta betina, mengapa komunitas Muslim yang kini jauh lebih bergelimang fasilitas dan kesempatan justru melemah dan tersungkur mundur?

Pada akhirnya kita selayaknya sadar bahwa perintah Allah dalam surah Al-‘Ashr lebih kerap kita abaikan. Integritas kepribadian yang diwarnai dengan keimanan, semangat beramal saleh, berbagi dengan sesama dalam kebenaran (ilmu) dan berbagi dalam kesabaran (sikap), menjadi pesan hampa yang terbawa angin. Padahal, pesan surah ini adalah jantung dari pemaknaan kita terhadap arti hakiki hijrah Nabi.

Manusia yang mampu menangkap dan menerjemahkan makna hijrah akan senantiasa memiliki sikap dan kepribadian yang penuh nilai positif dan bekerja secara cerdas dan produktif. Merekalah generasi yang selalu berpegang pada tali-tali keislaman yang menatap masa depannya dengan pandangan yang kreatif, inklusif, dan optimistis.

Merekalah simbol dari pribadi yang gigih di segala medan: walaupun mungkin telah mati, tapi ia senantiasa “hidup” (Q.S. 3: 169), dan bukan sebaliknya, ia masih hidup tapi sebenarnya ia “mati” dan tak berarti (Q.S. 35: 22). Tahun baru Hijriah bukan sekadar event, tapi merupakan momentum, bukan semata simbol, tapi spirit, dan bukan berbentuk ritualisasi, namun sejatinya ia butuh aksi dan reaktualisasi.

sumber:suara karya online