Tanggal 22-25 Januari 2010 bertempat di Balikpapan, Kalimantan Timur, berkumpul sekitar 700-an perwakilan guru dari seluruh Indonesia. Mereka membahas berbagai permasalahan pendidikan, terutama yang berkait dengan profesi guru dalam forum Konferensi Kerja Nasional atau Konkernas.

Konkernas yang hanya dilaksanakan sekali dalam setahun merupakan instansi tertinggi di bawah kongres PGRI. Forum ini sangat penting dan strategis karena merupakan forum resmi untuk menetapkan garis kebijakan yang belum ada dalam keputusan kongres selama masa antara kongres. Para perwakilan guru dari seluruh pelosok Nusantara bebas mengajukan pendapat untuk dibahas dalam forum sebelum akhirnya diambil keputusan resmi.

Menurut Pasal 56 Anggaran Rumah Tangga PGRI, Konkernas diikuti oleh pengurus besar, badan penasihat pengurus besar, pengurus anak lembaga tingkat nasional, pengurus badan khusus tingkat nasional, pengurus himpunan/ikatan/asosiasi profesi dan keahlian sejenis tingkat nasional, utusan pengurus provinsi, peninjau serta undangan lain yang ditetapkan oleh pengurus besar. Jadi, angka peserta yang mencapai 700-an orang kiranya bukan angka yang besar untuk organisasi PGRI itu sendiri.

Teknologi Informasi

Salah satu permasalahan yang perlu mendapat perhatian dalam Konkernas PGRI adalah bagaimana guru masa depan kita terkait dengan makin majunya teknologi informasi yang sudah diaplikasi di sekolah.

Kalau kita bertandang ke kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Medan, akan kita temukan tidak sedikit guru kita yang pandai mengaplikasi teknologi informasi untuk pembelajaran. Mereka tidak kalah berkualitas apabila dibandingkan dengan guru-guru di sekolah terbaik di negara maju seperti Thomas Jefferson High School (TJHS) yang tahun 2009 dinobatkan sebagai SMA terbaik di Amerika Serikat (AS).

Banyak sekolah kita yang mulai menerapkan metode learning based internet (LBS) dalam pembelajarannya. Dalam metode ini referensi yang digunakan adalah referensi internet dan materi pelajarannya pun banyak yang di-download dari internet. Lebih daripada itu, pengembangan kurikulum dan silabusnya pun didasarkan pada perkembangan internet itu sendiri. Dalam keadaan seperti ini, sudah tentu guru dituntut menguasai internet kalau tidak ingin diolok-olok oleh siswanya. Ternyata guru kita pun dengan cakap dan terampil mampu menguasainya.

Siapa bilang guru Indonesia kalah cerdas dan kalah terampil dibanding guru AS, khususnya guru-guru TJHS sebagai sekolah terbaik dan bernilai tertinggi di AS.

Memang benar guru kita banyak yang sekualitas guru AS, namun sayangnya, jumlah guru yang seperti itu relatif sangat terbatas. Kalau kita bertandang ke daerah pedesaan atau daerah pelosok lainnya, banyak guru yang belum akrab dan merasa asing dengan internet. Jangankan menguasai internet, guru yang rumahnya belum terjangkau aliran listrik pun tidak kecil jumlahnya. Bagaimana mungkin mereka akrab dengan internet kalau listrik saja belum diakrabinya.

Sesekali pergilah ke Papua, Papua Barat, Maluku Utara, dan NTT. Kita tidak perlu heran kalau untuk berjalan ke sekolah dari ibu kota kabupaten, diperlukan waktu 2 hari 2 malam. Lalu bertandanglah ke Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, dan NTB. Kita tidak perlu heran kalau untuk bersampan ke sekolah dari ibu kota kabupaten, diperlukan waktu berjam-jam. Bagaimana mungkin guru di sekolah tersebut akrab dengan internet kalau sekolahnya terisolasi?

Apabila kita kuantifikasi, jumlah guru kita yang menguasai internet barangkali jauh lebih sedikit dibanding para guru yang belum familiar dengan internet; termasuk yang belum pernah menyentuh komputer.

Guru Masa Depan

Tidak bisa tidak, guru Indonesia masa depan adalah guru yang dapat menguasai internet. Relevan dengan Moore’s Law yang diciptakan oleh Gordon E Moore bahwa ke depan setiap orang hendaknya akrab dengan “peralatan mikro” (baca: internet) supaya mampu mengikuti perkembangan informasi.

Guru Indonesia masa depan harus mampu menguasai internet serta siap mengaplikasikannya baik dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari. Nantinya pasti akan terasa lucu kalau ada guru yang tidak mengenal komputer dan internet. Kalau guru kita tidak mengenal internet, nanti akan makin tertinggal oleh guru-guru di negara maju. Bahkan, dengan guru-guru Malaysia yang dulu pernah berguru di Indonesia pun, guru-guru kita akan makin tertinggal.

Penguasaan internet para guru secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan nasional. Dengan menguasai internet, maka pengetahuan, ilmu, dan teknologi yang ditransfer kepada siswa akan lebih menarik, lebih cepat, dan lebih aktual.

Memang harus disadari bahwa internet bukanlah segala-galanya. Guru Indonesia masa depan memang harus menguasai internet, tetapi di sisi yang lain harus tetap memahami kultur, sikap, dan nilai keindonesiaan. Hal ini pun merupakan hal yang tidak bisa ditawar pula. Jadi, guru Indonesia masa depan adalah guru yang tetap memahami kultur, sikap, dan nilai keindonesiaan di satu sisi dan menguasai teknologi informasi di sisi lain.

Semoga masalah guru masa depan Indonesia tersebut tidak terlewatkan dalam Konkernas PGRI kali ini. Selamat berkonkernas

oleh:Prof Dr Ki Supriyoko, SDU, MPd
sumber:suara karya online