Reformasi Indonesia berangkat dari ketidakpuasan rakyat Indonesia terhadap kinerja pemerintahan Orde Baru. Sebab, tanpa harus menutupi-nutupi kesalahan, hampir semua kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah selalu menguntungkan para penguasa Orde Baru. Rakyat kecil ditindas, nepotisme terjadi di semua lini, kolusi selalu mewarnai kebijakan yang dibuat pemerintah.

Baru pada tahun 1998 muncul keberanian dari beberapa kelompok untuk melepaskan diri dari kediktatoran rezim Orde Baru yang dipelopori oleh mahasiswa. Hampir seluruh rakyat Indonesia berduyun-duyun menyuarakan kebebasan (freedom) di seluruh pelosok Ibu Pertiwi. Reformasi mencoba mengusung beberapa agenda dasar untuk menuju perubahan Indonesia pada masa yang akan datang. Reformasi tidak hanya terjadi pada dataran politik, tapi hampir semua lini mengalami reformasi, baik ekonomi, pendidikan, maupun budaya.

Harapan-harapan menuju kehidupan yang lebih baik mulai digantungkan, seolah-olah reformasi bisa mengubah nasib ribuan rakyat Indonesia ke depan. Tapi, hasil yang didapat berbanding terbalik dengan yang diharapkan oleh rakyat Indonesia. Di sini kita juga harus menyadari bahwa reformasi bukanlah sebuah barang jadi yang siap pakai. Tapi, reformasi adalah langkah awal menuju jalan kebenaran dan kemerdekaan sesungguhnya. Untuk itu, masih diperlukan perdebatan yang panjang guna merumuskan arah dan warna Indonesia ke depan.

Sungguh sangat menyakitkan kalau kita kembali melihat perjalanan sejarah kelam bangsa Indonesia. Ketika itu bangsa Indonesia mencoba melepaskan diri dari pemerintahan otoriter Presiden Soeharto yang lebih dikenal dengan sebutan gerakan reformasi. Hal ini dibuktikan dengan lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaannya pada 21 Mei 1998.

Namun, reformasi harus dibayar mahal oleh rakyat Indonesia. Tidak sedikit nyawa yang tidak berdosa jadi korban keganasan politik bangsa kita, kerugian harta benda sudah tak terhitung lagi. Tapi, yang lebih menyakitkan lagi ketika reformasi mulai berjalan beberapa dekade, tiba-tiba kembali dinodai dengan kebijakan politis para penguasa yang lebih bersifat merugikan rakyat kecil.

Sejak prakemerdekaan, mahasiswa sudah menempatkan dirinya sebagai agen perubahan dengan idealisme dan moral force yang dimilikinya. Bersama-sama masyarakat, mahasiswa selalu ada di garda terdepan untuk melakukan perubahan, mendobrak kesewenang-wenangan rezim demi menegakkan kebenaran dan keadilan. Sebab, dibanding yang lain, mahasiswa masih relatif bebas dari interes politik, seperti kedudukan, jabatan, dan kekayaan.

Berapa banyak rentetan sejarah bertinta emas yang telah ditorehkan oleh mahasiswa Indonesia. Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, Revolusi Pemuda 1945, gerakan mahasiswa angkatan 66, 74, 78, 80-an, 90-an adalah fakta-fakta sejarah yang tidak bisa dimungkiri oleh siapa pun. Warisan sejarah inilah yang kelak senantiasa menjadi idealisasi bagi kaum muda, khususnya mahasiswa pada generasi setelahnya itu, menjadi semacam “panggilan sejarah” dari generasi ke generasi, dan sekaligus pembangkit menuju kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebenarnya, kita mahasiswa sekarang ini secara tidak langsung telah dibebani oleh suatu tanggung jawab moral yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya. Tapi, sekarang ini kita sering lupa akan tanggung jawab dan pelabelan yang diberikan oleh masyarakat kepada kita mahasiswa. Sebenarnya apa yang terjadi pada kita, mahasiswa, apa penyebab kemandulan pergerakan mahasiswa sekarang ini? Permasalahan ini adalah sebuah ironi yang harus kita pecahkan dan kita cari solusinya secara bersama.

Rasanya tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa mahasiswa sekarang ini diumpamakan sebagai “macan ompong” yang kehilangan taringnya. Teriakan mahasiswa sekarang ini hampir tidak didengarkan lagi. Kita sering melihat mahasiswa turun ke jalan-jalan untuk mengusung isu nasional yang berhubungan dengan keadilan sosial, penegakan hak asasi manusia, tapi itu semua hanya berakhir sebagai wacana dan tanpa ada tindak lanjutnya. Dalam hal ini, kita tidak bisa menyalahkan siapa pun, tapi ini adalah sebuah pelajaran bagi kita mahasiswa untuk berbenah diri, dan belajar dari kesalahan.

Pergerakan mahasiswa sekarang ini sangat jauh berbeda dari pergerakan mahasiswa yang terjadi pada era 1998, ketika penggulingan rezim otoriter Orde Baru. Kalau kita cermati secara saksama, pergerakan mahasiswa yang terjadi pada era 1998 tersebut bisa dibilang berhasil karena semua elemen mahasiswa bersatu demi satu tujuan yang dikenal dengan istilah “reformasi”, tanpa melihat perbedaan yang ada. Kalau kita menariknya ke dalam konteks sekarang ini, maka perjuangan mahasiswa bisa digolongkan hanya sebatas wacana dalam kepala tanpa direalisasikan dalam dataran praksisnya.

Sejauh pengamatan penulis, sebenarnya kunci dari keberhasilan perjuangan mahasiswa pada era 1998 adalah karena adanya figur sentral yang memelopori dari pergerakan mahasiswa tersebut, sebutlah yang menjadi figur dari pergerakan mahasiswa pada waktu itu adalah Amien Rais, Gus Dur, dan masih banyak lagi tanpa harus disebutkan satu per satu. Sekarang ini tampaknya mahasiswa kehilangan sosok figur yang bisa mereka percayai dan dielu-elukan untuk menjadi panutan dan basis dari ideologi perjuangan pergerakan mahasiswa tersebut. Seolah mahasiswa sekarang ini sudah bosan dikibuli dan dikhianati kepercayaan mereka oleh sosok figur yang pernah dielukannya.

Dengan kehilangan figur yang dapat mereka jadikan sebagai penggerak dari perjuangan mereka tersebut, maka dampaknya sangat besar sekali bagi pergeakan mahasiswa, di mana terjadinya ketumpulan dan kepekaan mahasiswa untuk membaca kesenjangan yang terjadi di ranah sosial masyarakat, pelanggaran HAM dan sebagainya.

Di samping mahasiswa kehilangan sosok yang mereka dambakan, sekarang ini mahasiswa juga mengalami krisis dalam batang tubuh pergerakan mahasiswa sendiri. Krisis ini wajib kita benahi secara serius. Sekarang ini mahasiswa seolah-olah kehilangan moral yang menjadi basis dari pergerakan mereka. Gerakan moral (moral force) istilah yang sangat memesona dan menarik sekali karena, berbicara tentang moral, berarti berbicara tentang suara hati yang senantiasa merefleksikan kebenaran universal, menolak segala bentuk penindasan, kesewenang-wenangan, dan otoritarianisme kekuasaan. Kekuatan moral (moral force) adalah kekuatan abadi yang tak akan pernah mati selama ada manusia yang jujur dengan nuraninya.

Tampaknya pergerakan mahasiswa sekarang ini tidak lagi mengutamakan kepentingan rakyat, tapi lebih pada kepentingan individu dan kelompok. Tidak bisa kita mungkiri bahwa kebanyakan mahasiswa sekarang ini lebih cenderung ber-happy-happy, hidup bergaya hedonisme, dan lebih mengutamakan emosi daripada rasio. Secara tidak langsung, kita telah melupakan tanggung jawab yang telah diamanatkan kepada kita oleh generasi sebelumnya.

sumber:suara karya online