Apakah pendidikan merupakan bagian dari CAFTA (China-ASEAN free trade Agreement)? Artinya, pendidikan merupakan sesuatu yang dapat diperdagangkan? Hal ini sampai sekarang masih menjadi perdebatan.

CAFTA merupakan sesuatu yang tidak mungkin kita hindarkan. Secara formal sejak Januari 2010 lalu, kita sudah ‘telanjur’ masuk di dalamnya. Bersama dengan negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia, Thailand dan Singapura, mau tak mau, suka tak suka, berani tak berani, kita harus menghadapi perdagangan bebas ‘melawan’ China.

Masuknya Indonesia dalam CAFTA tentu bukan tanpa perhitungan. Salah satunya, jumlah penduduk China terbesar dunia merupakan pangsa pasar yang memikat bagi produk-produk lokal masyarakat kita untuk memasarkannya. Sebut saja, ukir-ukiran, batik, kerajinan tangan dll. Pertumbuhan ekonomi China yang tinggi juga tak terlepas dari perhitungan ‘untung-rugi’ kita jauh hari sebelum kesepakatan ditandatangani.

Sekelompok orang berpendapat, pendidikan bukanlah komoditas yang bisa diperdagangkan sehingga jelas bukan merupakan bagian dari CAFTA. Kelompok ini berpendapat pendidikan merupakan kegiatan persemaian ilmu, pengetahuan dan teknologi yang luhur, nonkomersial dan bertujuan meningkatkan kualitas manusia.

Kelompok lain berpendapat, pendidikan adalah komoditas yang bisa diperdagangkan sehingga merupakan bagian dari CAFTA. Buktinya, untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu maka orang harus mengeluarkan biaya yang banyak. Lembaga pendidikan pun harus berani membayar mahal untuk ‘membeli’ manajer pendidikan seperti rektor yang profesional; bahkan untuk memilih dosen di perguruan tinggi pun diperlukan biaya yang tidak murah.

Terlepas dari pendidikan merupakan komoditas atau bukan, kompetisi pendidikan dengan China merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari saat ini. Artinya, Indonesia tidak hanya berkompetisi dengan pendidikan sesama negara ASEAN, akan tetapi sekarang harus berani berkompetisi dengan pen-didikan China.

China sendiri semakin terbuka sudah mengenalkan program-program pendidikannya kepada masyarakat Indonesia dengan mengundang civitas perguruan tinggi kita ke China, mengenalkan diri melalui situs-situs pendidikan, dan cara-cara lain. Belum lama ini, belasan ‘pendekar’ dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta diundang untuk mengunjungi Kota Nanjing, China dalam rangka menjalin kerja sama dengan Jiangsu Provincial Department of Education (JPDE), khususnya bidang bahasa dan kebudayaan.

Saya bersama teman-teman juga pernah diundang mengunjungi beberapa sekolah dan perguruan tinggi di China, di samping ke kantor Kementerian Pendidikan Nasional China; antara lain Renmin University of China (RUC) yang sebelumnya dikenal dengan sebutan People’s University of China atau Universitas Rakyat China yang berlokasi di pusat kota Beijing, Shang-hai Gezhi High School yang berlokasi di pusat kota Shanghai dan banyak menghasilkan pemimpin China seperti Yang Fujia, Wang Pinxian, Chen Xianshou, Wu Xueqian, Jin Shuping dan Zhu Rong Zi. Siapa tidak kenal Presiden Zhu Rong Zi?

Dari kunjungan saya ke berbagai lembaga pendidikan di China tersebut terkesan bahwa mereka jauh lebih siap berkompetisi dengan pendidikan Indonesia daripada kita berkompetisi dengan mereka.

Klasik dan Modern
Bersaing dengan pendidikan sesama negara ASEAN seperti Malaysia dan Singapura sudah berat, apalagi dengan China yang jauh lebih berat lagi. Kenapa? Karena pendidikan di China pandai memadukan antara unsur klasik yang dalam hal ini filsafat yang memang menjadi ciri khas Negara Panda tersebut dengan unsur modern yang dalam hal ini internet yang sedang digandrungi masyarakat dunia saat ini.

Masyarakat China sendiri sebenarnya kaya filsafat seperti Tao, Laozi, Zhengyi, Zhuangzi, Quanzhen, Shamanisme, Wuisme, Confucius, dan sebagainya. Di samping itu banyak tokoh seperti Lao Tse, Kung Fu Tse, Kong Hu Cu, Zhou, dan lain-lain. Ajaran yang dikembangkan pada dasarnya sama seperti kesederhanaan, pengorbanan, kesetiaan, pengabdian, penghormatan kepada sesama, dan sebagainya.

Masyarakat Eropa juga kaya filsafat seperti Arestocles Plato, Aristoteles, Imanuel Kant, Johan Gotlieb Fichte, Ames, Sandre Pierce, William James, Thomas Paine, dan lain-lain. Meskipun masyarakat Eropa juga kaya dengan filsafat akan tetapi masyarakat China memiliki kekhasan tersendiri; yaitu nilai-nilai filosofis yang dikembangkan oleh para pendahulu benar-benar diimplementasi dalam kehidupan sehari-hari.

Berbagai perguruan tinggi di China pun konsisten mengembangkan disiplin filsafat. Ada 9 perguruan tinggi di China yang paling konsisten serta diakui dunia dalam pengembangan kefilsafatan; yaitu Peking University (berdiri tahun 1914), Nanjing University (1920), Renmin University of China (1956), Wuhan University (1922), Fudan Universy, University of Tsinghua (1926), Beijing Normal University, Jilin University (1958), dan Shandong University. Kebetulan penulis pernah mengunjungi beberapa perguruan tinggi tersebut dan memang demikianlah kenyataannya.

Di samping hebat dalam soal-soal klasik kefilsafatan, pendidikan China juga hebat dalam soal-soal modern keinternetan. Sebagaimana dengan yang terjadi di negara-negara Barat, perguruan tinggi China banyak yang dilengkapi dengan aneka perangkat modern seperti aneka pemancar, hot spot, dan lain-lain, yang memungkinkan dosen dan mahasiswa mengakses internet secara bebas dan gratis. Itulah sebabnya dalam publikasi Webometrics, perguruan tinggi di China banyak yang menduduki posisi terhormat.

Di dalam publikasi mutakhir CINDOC edisi Januari 2010 lalu dinyatakan bahwa 10 dari 100 perguruan tinggi terbaik Asia berasal dari China; yaitu Peking University ranking ke-12, Tsinghua University China ke-20, Shanghai Jiao Tong University Ke-36, Zhejiang University ke-40, Fudan University ke-43, University of Hong Kong ke-4, Chinese University of Hong Kong ke-5, Hong Kong University of Science and Technology ke-28, City University of Hong Kong ke-39, dan Hong Kong Polytechnic University ke-41.

Melihat realitas ‘kokohnya’ pendidikan China tersebut rasanya sulit bagi Indonesia untuk berkompetisi; padahal kompetisi tersebut merupakan sesuatu yang tidak mungkin dielakkan.

oleh:Ki Supriyoko
sumber:suara karya online

Untuk sanggup bermain dalam CAFTA Pendidikan maka, mau tidak mau, kualitas pendidikan harus kita tingkatkan supaya mampu berkompetisi dengan China!