Apa kata dunia kalau kita tak membayar pajak? Demikian bunyi sebuah iklan yang kerap muncul di layar kaca dan banyak terpampang di beberapa sudut jalan.

Dalam pandangan penulis, kata-kata itu lebih dari sekadar sebuah iklan. Namun, secara tersirat kata-kata itu menjelaskan tentang budaya kita: budaya Indonesia. Secara filosofis, kata-kata itu menjelaskan tentang budaya bangsa ini yang masih cenderung berbasis norma, bukan nilai. Dalam artian, kita masih cenderung mengembangkan budaya yang dilandaskan pada norma-norma tertentu, tanpa mempertimbangkan nilai-nilainya.

Budaya norma itu nyaris telah menyelimuti seluruh aspek kehidupan masyarakat kita hingga yang terkecil sekalipun. Dengan demikian, begitu banyak masyarakat sebuah kampung di negeri ini yang tidak mempermasalahkan dan tidak menghiraukau seorang pencuri yang mencuri di kampung tetangga, selama ia tak mencuri di kampungnya. Mereka mengatakan, “Dia mau mencuri terserah dia. Yang penting jangan mencuri di kampung kita.”

Dalam ruang lingkup yang lebih kecil dan sederhana, seorang ibu kerap menasihati anaknya yang nakal dengan berkata, “Kalau mau melakukan sesuatu, dipikir terlebih dahulu. Kan, tak enak dilihat tetangga kalau kelakuanmu seperti ini!” Inilah realitas masyarakat yang berdiri di atas budaya norma.

Budaya norma cenderung bersifat pragmatis, berbasis kepentingan. Di situ nilai-nilai tak lagi diperhitungkan. Masyarakat tidak peduli pada sesuatu yang tak bernilai, bahkan buruk sekalipun, selama sesuatu itu tidak mengganggu kepentingannya. Mereka juga memiliki kecenderungan melakukan sesuatu yang buruk sekalipun jika dituntut oleh kepentingan. Singkatnya, di sana kepentingan menjadi berkuasa layaknya Tuhan.

Ketika budaya suatu masyarakat telah berdiri di atas basis budaya norma, maka hukuman tidak akan menimbulkan efek jera, tetapi efek kehati-hatian. Dengan demikian, seorang koruptor yang telah keluar dari penjara bukan cenderung berpikir untuk bertobat tidak korupsi lagi. Namun, efek yang mereka dapatkan adalah, “Jika nanti korupsi, harus sangat hati-hati, jangan sampai tertangkap lagi.”

Dengan demikian, penjara sebagai sebuah manajemen untuk menimbulkan efek jera bagi para pelaku kejahatan menjadi mandul. Malah, penjara justru menjadi semacam “guru” yang mendidik para pelaku kejahatan agar lebih terampil dan hati-hati dalam melakukan aktivitas kejahatannya di kemudian hari. Itulah salah satu efek terburuk yang ditimbulkan oleh budaya norma.

Selain itu, ketika budaya norma telah benar-benar mengakar dalam tradisi suatu bangsa, maka akan terjadi suatu fenomena yang mengerikan: norma “bermetamorfosis” menjadi nilai. Dengan begitu, sesuatu yang sebenarnya merupakan norma yang tak memiliki basis nilai, bahkan cenderung berbasis negatif, kemudian dipahami seolah-olah sebagai sebuah nilai.

Ketika budaya norma yang ada dan berkembang dalam suatu bangsa sampai pada titik ini, maka dekadensi akan segera terjadi di sana. Pasalnya, mereka yang baik justru akan tersingkir oleh kekuatan norma yang berbasis kepentingan (negatif) itu. Mereka yang baik harus berhadapan dengan dua pilihan yang sama-sama mematikan: ikut hanyut dalam norma (negatif) yang telah membudaya atau tersingkir.

Fenomena mengerikan itu kian mulai hinggap di negeri tercinta ini. Mereka yang berniat memberantas “borok” yang hinggap di tubuh bangsa ini justru harus berhadapan dengan dua pilihan yang sama-sama mematikan itu: berpihak dan ikut berpesta bersama para koruptor atau terkriminalisasi.

Akhirnya, kini bangsa ini dituntut untuk melakukan reformasi pada tatanan tradisi budaya masyarakatnya, dengan bertolak dari satu premis, yaitu kebiasaan belum tentu benar, namun kebenaran perlu dibiasakan.

Dalam artian, bangsa ini patut mulai meninggikan nilai dan membangun norma di atas fondasi nilai-nilai. Dengan demikian, secara perlahan bangsa ini akan mulai menjauh dari jurang dekadensi yang makin dalam.

oleh:Husein Ja’far Al Hadar
sumber;suara karya online