Setiap negara di muka bumi ini mempunyai kekayaan yang diandalkan atau dibanggakan. Kebanggaan ini menjadi substansi jiwa nasionalisme yang harus dihormati. Penahbisan atas apa yang dimiliki sebuah negara di depan orang atau negara lain merupakan bukti kecintaan terhadap jati diri negeri itu sendiri. Masalahnya, bagaimana jika sebagai bangsa besar, ternyata kita tidak mampu menceritakan atau mendongengkan segala kebesaran yang pernah kita miliki?
Tidak sedikit bangsa-bangsa besar hanya tercatat dalam agenda sejarah akibat kebesarannya telah musnah atau dihancurleburkan oleh berbagai bentuk bencana alam atau tragedi ekologis. Mereka ini hanya bisa bernostalgia setelah kekayaan yang dimiliki dan menopang keberadaban serta kemakmurannya lenyap atau tidak lagi menunjukkan fungsi memberi, membesarkan, dan menguatkan keberlanjutan hidup mereka.
Di negeri ini kita sudah terbiasa berucap kalau segala jenis kekayaan atau sumber daya fundamental tersedia. Bahkan di antara beberapa sumber daya ini terbilang yang terbesar di muka bumi. Sayangnya, ucapan ini ternyata tidak lebih dari upaya menghibur diri atau membangun nostalgia kalau negeri ini pernah dikaruniai Tuhan kekayaan alam yang berlimpah ruah.
Sebagai salah satu negara yang memiliki hutan tropis terluas di dunia, kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam konferensi internasional tentang perubahan iklim dan hutan yang dilaksanakan di Oslo, Norwegia, baru-baru ini sangat strategis. Dalam konferensi yang diikuti lebih dari 40 negara itulah, kita bisa mengajak komunitas internasional-terutama negara-negara maju-untuk tidak hanya pandai mengkritik negara berkembang.
Sebagai bukti, misalnya, dilaporkan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Umar Anggara Jenie bahwa sejak 2008 hingga saat ini, Indonesia mencatat rekor di Guinness Book of World Record sebagai negara dengan kerusakan hutan terbesar di dunia. Angkanya sekitar dua persen setiap tahun atau setara dengan 51 kilometer persegi per hari (sekitar 1,8 juta hektare hutan per tahun). Khusus Pulau Jawa dan Bali, sekitar 91 persen hutan telah musnah dan beralih fungsi (Zaini, 2010).
Memang, kita harus menjadikan penjahat hutan Indonesia sebagai musuh utama. Pasalnya, penjahat hutan, khususnya kalangan yang terlibat pembalakan hutan (illegal logging) bukan hanya terdiri dari beberapa gelintir orang lapangan yang mencari untung sambil menggadaikan (menyewakan) dirinya untuk membalak, tetapi juga kalangan pemilik modal dan pemilik korporasi di tingkat lokal dan nasional hingga kalangan bandit global.
Negara-negara lain yang menjadi bandit-bandit global memang selayaknya kita jadikan sebagai “proyek” kritik atau lawan utama. Pasalnya, apa yang mereka lakukan terhadap kekayaan hutan negeri ini benar-benar tidak manusiawi. Mereka bekerja sama dengan beberapa oportunis (pembalak) tingkat lokal yang mau dibayar dan dijadikan budaknya, yang kemudian dari budak-budak ini, mereka bisa menjalankan pembalakan hutan dengan lebih mulus.
Kalau kekayaan besar yang menjadi kebanggaan negeri ini terus-menerus dihabisi atau dijadikan objek jarahan secara kriminalistik-eksplosif, maka generasi sekarang dan mendatang tidak perlu lagi optimistis bisa menjalani kehidupan lebih baik, menyejahterakan, dan menyelamatkan. Mereka ini harus selalu bersiap diri menjadi bagian dari cerita sebuah negeri yang mengalami kepunahan akibat kekayaan terbesarnya dihabisi secara terorganisasi dan sistemik.
Sebagai refleksi, misalnya, kalau kita jalan-jalan di berbagai daerah yang punya kekayaan (sumber daya) hutan, tentulah kita akan geleng-geleng kepala. Pasalnya, mudah kita lihat kondisi hutan yang gundul atau rusak berat akibat pembalakan. Bahkan kondisi hutan kita ini layak disebut sedang mengidap kanker ganas akibat terkena “virus” mematikan yang dilancarkan secara gencar dan brutal oleh manusia-manusia serakah atau mengabdikan ambisinya pada keuntungan kapitalistik yang tidak kenal titik nadir.
Sumber daya hutan kita sedang dilahap oleh manusia-manusia yang sibuk mengemas keserakahan atau ambisi-ambisi tak terbatasnya. Mereka tidak peduli dengan apa yang telah diperbuatnya yang jelas-jelas bisa mendatangkan kehancuran secara masif.
Dengan kondisi tersebut, society without forest atau masyarakat tanpa hutan merupakan suatu stigma yang tepat untuk menggambarkan dan menjabarkan keadaan hutan di negeri yang sedang dalam kondisi memprihatinkan dan mengenaskan ini. Keadaan itu akibat ulah liar manusia-manusia tidak bertanggung jawab yang mengeksploitasi, membakar, menggunduli, membalak, dan menebangi hutan seenaknya.
Sorotan negatif akan terus dialamatkan terhadap negara ini jika ulah tidak ramah dan tidak berkeadaban terhadap hutan terus berlangsung dari waktu ke waktu. Sementara upaya rehabilitasi hutan tidak pernah dilakukan atau kalah dibanding cepatnya kekuatan kaum perusak, seperti pembalak lokal dan bandit-bandit global yang menghancurkan kawasan hutan.
Kekayaan hutan Indonesia sebenarnya merupakan sumber daya bangsa ini yang diandalkan untuk menyangga atau melindungi atmosfer lingkungan hidup, sehingga menjadi ekologi yang ramah, dan bukan ekologi yang sarat ancaman mematikan atau menghancurkan (memunahkan).
Dari kekayaan hutan tersebut, kita bisa bercerita kepada anak cucu dan masyarakat mancanegara bahwa sumber daya alam di negeri adalah cermin bangsa makmur dan subur di dunia. Sayangnya, kekayaan hutan ini cenderung akan tinggal jadi cerita, legenda, dan untaian kata manis di buku-buku pelajaran sekolah, atau sebatas dikenal oleh kalangan pembelajar sebagai simbol kekuatan bangsa di atas kertas. Sementara dalam realitasnya sudah sampai pada nihilitas nyaris total.
Musim bencana atau bencana tiap musim yang bersahabat (akrab) menimpa kita merupakan cermin kalau kita selama ini akrab membinatangkan atau menganimalismekan ekologi yang berimplikasi dalam memproduksi atau menghadirkan musim bencana kepada alam atau ekologi kita.
Selama manusia masih tetap menjadikan kekayaan hutan sebagai ajang eksploitasi, komoditas, atau animalisasi atas nama kepentingan politik dan uang, jangan diharapkan negeri ini bisa mewujudkan ekologi yang bersahabat, ramah, atau memanusiakan dirinya. Ekologi negeri ini masih akan sarat dengan atmosfer yang membahayakan kesehatan dan keselamatan hidup manusia, termasuk memunahkan keberlanjutan hidup negeri, manakala manusia tidak berusaha maksimal merehabilitasi sikap dan perilakunya yang bersahabat dengan keserakahan, kriminalisasi, dan kapitalisme kekayaan hutan.

Oleh Mohammad Faisol
sumber:suara karya online