Kerukunan antarumat beragama di Amerika Serikat (AS) dan dunia umumnya kini kembali mendapatkan cobaan. Pasalnya, Dove World Outreach Center, sebuah gereja perjanjian baru nondenominasi di Florida, AS, berencana mengadakan event “hari pembakaran kitab suci agama tertentu” skala internasional untuk memperingati sembilan tahun tragedi 11 September 2001.

Rencana provokatif itu tidak hanya dipublikasikan via website-nya (www.doveworld.org), tetapi juga via situs jejaring sosial Facebook, Twitter dan Youtube. Dalam situs itu, mereka mengundang umat agama mayoritas di negeri itu untuk membakar kitab suci umat agama tertentu yang minoritas di negeri tersebut.

Adalah Terry Jones dari Dove World Outreach Center yang memelopori rencana gerakan tersebut di AS. Sebelumnya, Jones juga memprovokasi melalui buku karyanya. Inti isi buku itu juga menghujat ajaran agama tertentu.

Sesungguhnya, perbuatan menghujat agama lain, membakar buku dan sejenisnya dengan alasan apa pun adalah tindakan yang tidak bisa diterima lagi di dunia modern dewasa ini. Apalagi, hendak membakar kitab suci agama tertentu secara massal dan terbuka.

Apabila rencana itu nekat dilakukan, tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi? Lebih-lebih, pada 11 September 2010 ini bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri yang akan dirayakan oleh kaum Muslim sedunia. Entah bagaimana perasaan umat beragama di berbagai penjuru dunia apabila pembakaran kitab suci agama tertentu dilakukan.

Kemungkinan buruk bisa saja terjadi jika tidak segera diantisipasi sejak dini oleh semua pihak. Umat beragama di seluruh dunia, khususnya yang kitab sucinya dilecehkan, bisa merasa sangat tersinggung oleh rencana pembakaran kitab suci tersebut.

Bagaimanapun, kitab suci bagi umat beragama bukan saja merupakan sumber ajaran yang dijunjung tinggi, tetapi lebih dari itu, juga sebagai simbol ajaran yang wajib dihormati dan diamalkan (ways of life). Dapat dipastikan, umat agama apa pun akan tersinggung jika kitab suci mereka dilecehkan.

Oleh karena itu, rencana untuk membakar kitab suci agama tertentu pada hari peringatan Serangan 11 September di AS hanya akan meningkatkan ketegangan dan permusuhan dalam hubungan antaragama di seluruh dunia.

Di AS sendiri, saat ini rencana pembakaran kitab suci agama tertentu itu bukan tanpa penolakan dan perlawanan. Sebagaimana diberitakan BBC, Asosiasi Nasional Evangelis, kelompok evangelis terbesar di AS, mengeluarkan pernyataan mendesak untuk membatalkan acara tersebut. Demikian pula umat Muslim AS, menolak rencana antitoleransi agama tersebut.

Di Indonesia, sejumlah tokoh pluralis dan organisasi di Indonesia, baru-baru ini, juga menyampaikan sikap menentang gerakan “hari pembakaran kitab suci agama tertentu” tersebut di AS. Gerakan Peduli Pluralisme di Indonesia menyatakan, rencana aksi itu merupakan pelecehan terhadap agama tertentu dan pelanggaran terhadap kebebasan beragama.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Andreas Ayewangoe, ikut merespons bahwa perbuatan itu sangat tidak beradab. Sebab, yang mau dibakar adalah kitab suci sebuah agama, yang merupakan sumber iman dan diyakini oleh umat agama tersebut di muka bumi ini (SP, 5 Agustus 2010).

Ulama Nahdatul Ulama (NU), KH Nuril Arifin, yang biasa disapa Gus Nuril dan aktif bergabung dalam Gerakan Peduli Pluralisme, mengimbau agar umat Islam di Indonesia tidak terprovokasi dengan kampanye pembakaran kitab suci itu.

Gus Nuril menekankan, upaya tak beradab ini jangan sampai merusak persaudaraan antarumat beragama dan semangat pluralisme yang tumbuh di Indonesia. Aksi yang direncanakan oleh sekelompok kecil orang AS, menurut Gus Nuril, jangan dibalas dengan cara melampiaskannya kepada orang-orang yang tak bersalah di Tanah Air. Peristiwa ini dinilainya merupakan ujian bagi umat beragama di seluruh dunia. Dalam menyikapi “rencana gila” tersebut, umat Islam di Indonesia khususnya diimbau untuk menawarkan sikap perdamaian dan persaudaraan.

Hindari Konflik

Tentu kita setuju bahwa dunia dan kita semua harus mengecam tindakan pembakaran kitab suci agama tertentu tersebut di AS. Tetapi, sekaligus juga kita mesti menyeru agar umat manusia, termasuk kita di Indonesia, tidak terjebak dalam perbuatan-perbuatan yang justru tidak memperlihatkan sikap keadaban. Kita semua harus tetap menegakkan toleransi, perdamaian, dan menghargai pluralitas.

Dalam masalah ini, pemerintah juga diharapkan segera merespons rencana kelompok nondenominasi di AS itu, sebelum meluas dan mendapatkan reaksi dari masyarakat Muslim di seluruh penjuru Tanah Air.

Peran elemen lintas agama, media massa, kiai, dan pimpinan umat beragama di negeri ini tampaknya perlu terus mencari jalan keluar dan menyikapi masalah semacam ini dengan baik dan bijak. Ini penting agar kemungkinan datangnya konflik antarumat beragama dan semacamnya dapat dihindari.

Ala kulli hal, upaya untuk menjaga hubungan kepercayaan dan menghormati agama lain dalam masyarakat multireligi-kultural saat ini tidak bisa dianggap sepele dan cukup dikelola sesaat dan sepihak saja. Tapi, perlu upaya berkesinambungan dan sinergis antarelemen, umat dan bangsa. Salam damai.

oleh:Choirul Mahfud
sumber: suara karya online