Adalah aktivitas ‘ibadah haji’ yang dulu sangat ditakuti oleh Pemerintah Belanda. Pada abad ke-19, haji-phobia telah menjadi bagian dari Islam-phobia. Pemerintah Belanda mengeluarkan berbagai kebijakan politik yang intinya melarang umat Islam Indonesia untuk melaksanakan ibadah haji.

Kebijakan itu menuai kritik keras dari seorang ahli Islam (Islam-wetenschap) Christian Snouck Hurgronje. “Kekerasan, pencegahan, dan pengawasan yang ketat terhadap jamaah haji selama ini tidak akan berhasil, karena melanggar prinsip kebebasan beragama,” begitu tulisnya dalam Het Mekkaansche Feest.

Sikap pemerintah Belanda berubah. Pada awal abad ke-20, ibadah haji tidak lagi dilarang. Meski demikian, ibadah haji tidak serta-merta dibiarkan tanpa pengawasan. Melalui konsulatnya di Jeddah, Pemerintah Belanda memantau secara ketat semua aktivitas orang-orang penting yang melaksanakan ibadah haji. Ketakutan Pemerintah Belanda terhadap ibadah haji belum sama sekali hilang. Mengapa demikian?

Dalam catatan sejarah, ibadah haji telah menumbuhkan semangat nasionalisme yang begitu dahsyat. Tidak sedikit para haji (disebut ulama-haji), sepulang dari Makkah, menjadi pejuang-pejuang Islam yang begitu gigih melawan penjajahan Belanda. Inilah kekuatan yang dianggap bisa mengancam kekuasaan Pemerintah Belanda.

Bermula dari persaudaraan antar-umat Islam, pada urutannya menjadi persaudaraan antar-bangsa. Ini dapat dilihat dalam pemberontakan Cilegon (1888), misalnya. Peran ulama-haji di situ sangat menonjol. Sejumlah ulama-haji seperti Haji Abdul Karim, Haji Marjuki, Kiai Haji Tubagus Ismail, dan Haji Wasid menjadi otak utama pemberontakan itu. Pemerintahan Belanda, bagi mereka, adalah pemerintahan yang ilegal, sehingga perlu dijawab dengan jihad fi sabilillah.

Ulama-haji, terutama dari Minangkabau, yang aktif dalam politik juga menentang kebijakan Pemerintah Belanda tentang guru dan sekolah, yang dianggap tidak adil dan memusuhi Islam. Pelopor penentang kebijakan itu adalah Haji Abdul Karim Amrullah (dikenal dengan sebutan Haji Rasul) dan Syaikh Djamil Djambek.

Sementara itu, di perkotaan Minangkabau, beberapa intelektual muda yang baru pulang dari Mesir dan Mekkah mendirikan Persatuan Muslim Indonesia (Permi). Organisasi yang dinyatakan dalam kongresnya pada 20-21 Mei 1930 itu diketuai oleh Haji Abdul Madjid dan beranggotakan Haji Ilyas Yacub, Haji Mukhtar Lutfi, Haji Mansur Daud, dan Haji Rasul Hamidi.

Bertambah tahun, bertambah pula jumlah jamaah haji Indonesia. Spirit nasionalisme yang berujung pada perlawanan terhadap Pemerintah Belanda semakin sulit terbantahkan. Meski jamaah haji dari luar Jawa amat dominan, bukan berarti jamaah haji dari Jawa tidak mempunyai peran signifikan. Mereka yang kebanyakan dari kelompok santri lebih senang bergelut di jalur pendidikan. Sedikit dari mereka yang mempunyai peran penting dalam partai politik, terutama Sarekat Islam (SI). Mereka itu, misalnya, Haji Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto.

KH Ahmad Dahlan (1868-1923) tercatat sebagai ulama-haji yang sangat berpengaruh dalam perubahan pendidikan dan kehidupan keagamaan di Indonesia. Sepulang melaksanakan ibadah haji yang kedua (1912), Dahlan mendirikan organisasi bernama Muhammadiyah. Organisasi ini bertujuan, menyebarkan pendidikan Islam di kalangan penduduk pribumi di daerah Yogyakarta dan memajukan kehidupan keagamaan untuk para anggotanya.

Dengan organisasi itu, Dahlan berhasil mendirikan Pondok Muhammadiyah (1921). Pada 1923, berdirilah empat sekolah kelas II, yaitu Hollandsch Inlandsche School dan sekolah guru (kweekschool). Dahlan juga mendirikan Al-Madrasatul Wutsqo.

Ulama-haji lain yang juga mempunyai peran sangat besar dalam jalur pendidikan adalah KH Hasyim Asy’ari. Pada 1899, Hasyim mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang. Jika pendidikan karya Dahlan memakai sistem klasikal, maka Pesantren Tebuireng memakai sistem non-klasikal dengan metode sorogan dan bandongan. Baru atas inisiatif Maksum, seorang menantu Hasyim, Pesantren Tebuireng memakai sistem klasikal dan menambah pelajaran sekuler (bahasa Melayu, Matematika, dan Ilmu Bumi). Dari pesantren ini, berdirilah organisasi bernama Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926.

Masih di daerah Jawa, tepatnya di Gontor, Mlarak, Ponorogo, berdiri pula sebuah lembaga pendidikan bernama Tarbiyatul Athfal pada 1926. Adalah tiga bersaudara, yaitu Ahmad Sahal, Zainuddin Fanani, dan Imam Zarkasyi yang membidani kelahiran lembaga pendidikan yang kelak popular dengan sebutan Pesantren Gontor ini.

Seiring perjalanannya, Pesantren Gontor semakin dilirik masyarakat. Selain mengajarkan ilmu umum dan agama, Pesantren Gontor memiliki ciri khas, bahasa Inggris dan bahasa Arab sebagai lingua franca santri. Tidak sedikit tokoh bangsa ini lahir dari rahim Pesantren Gontor.

Ibadah haji harus melahirkan efek dahsyat bagi peradaban bangsa. Allah tidak mungkin mewajibkan haji kalau itu hanya sebatas tamasya atau pariwisata. Nah, jika tahun ini ada sekitar 224 ribu jamaah haji dari Indonesia, efek apa yang nanti lahir dari para haji itu? Mari kita tunggu hasilnya.

oleh:M Husnaini
sumber: suara karya online