Peringatan Hari Pahlawan telah berlalu. Namun, sebagai bagian dari penghormatan dan mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang jiwa, raga dan hartanya untuk meraih kemerdekaan, peringatan tersebut tetap relevan untuk dicerna dalam keseharian. Kemerdekaan yang kita nikmati sebagai bangsa, selain merupakan pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, juga merupakan perjuangan dan pengorbanan para pahlawan. Kita dapat hidup bebas dari penjajahan, menikmati kedamaian dan keamanan, itu karena ikhtiar yang sungguh-sungguh dari para pahlawan kita.
Dalam konteks ini jasa para pahlawan sangat luar biasa, karena dapat mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang dapat menentukan hidupnya sendiri. Para pahlawan dulu adalah figur-figur yang rela berkorban dan mengabdi dengan tulus untuk kepentingan bangsa dan negara. Mereka ada yang memanggul senjata dan ada yang melakukan diplomasi dengan satu cita-cita dan tujuan: Indonesia merdeka.
Pada saat perjuangan kemerdekaan, kita mengenal, misalnya, Bung Tomo, yang mampu menyalakan semangat perjuangan rakyat lewat siaran-siarannya radionya. Masih banyak tokoh lainnya yang berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia.
Setelah 65 tahun bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan berkat jasa dan perjuangan para pahlawan, peringatan 10 November sepertinya hanya bermakna seremoni saja. Artinya, nilai-nilai kepahlawanan yang heroik dan penuh pengabdian tulus tidak dijadikan sebagai proses pembelajaran sosial oleh bangsa ini untuk mengisi kemerdekaan. Bangsa ini cenderung lupa akan nilai kepahlawanan, yakni kesiapan untuk berkorban demi kepentingan bangsa, watak ksatria untuk membela yang benar dan semangat perjuangan yang gigih dalam membangun bangsa.
Di saat bangsa ini sudah merdeka, di saat itu pula bangsa ini menghadapi kompleksitas masalah: kemiskinan, pengangguran dan lapangan kerja yang sedikit, kerusakan lingkungan, penyakit korupsi, pendidikan yang belum merata pada setiap lapisan masyarakat, dan lain sebagainya. Untuk mengatasi segenap problematika yang dihadapi bangsa ini diperlukan banyak individu atau figur-figur pahlawan. Bangsa ini memerlukan sosok-sosok pahlawan baru untuk memperbaiki dan meningkat kesejahteraan bangsa.
Definisi Ulang

Dalam konteks ini, perlu mendefinisikan ulang makna kepahlawanan baru tersebut. Dulu, mungkin para pahlawan memanggul senjata dan melakukan diplomasi untuk meraih kemerdekaan dari penjajah. Sekarang ini, makna pahlawan adalah figur-figur, baik dengan kontribusi pemikiran (baca; gagasan-gagasannya kreatif dan inovatif), jiwa dan raga serta hartanya mampu mengubah daya kinerja masyarakat, baik di bidang sosial, budaya, hukum, ekonomi, lingkungan, pendidikan, kesehatan dan teknologi ke arah kehidupan yang adil dan makmur. Pahlawan adalah figur yang tulus bekerja untuk memberdayakan masyarakat dan mengangkat mereka dari lubang keterpurukan dari segenap aspek sosial.
Figur pahlawan yang dimaksud adalah mereka yang mendedikasikan dirinya untuk kepentingan masyarakat. Mereka yang bekerja dengan ikhlas dan tulus untuk kepentingan sesama. Jejak-jejak pahlawan model ini sebenarnya banyak dan mereka inilah yang merawat bangsa ini tidak lantas terpuruk atau jatuh karena kegagalan negara mengurusi hak-hak warga negara.
Figur seperti Erwan, seorang yang tinggal di Desa Baun Bango, Kalimantan Tengah, melalui radio yang didirikan secara swadaya dapat memberdayakan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Melalui radio yang dinamakan “Asbun”, seorang Erwan dapat memberikan hiburan, menjaga kerukunan antar-warga dan mengajak masyarakat untuk mengetahui potensinya, dan membangun ekonominya melalui sumber daya alam (SDA) yang ada dengan penyuluhan-penyuluhan pertanian yang disiarkan radio tersebut. Erwan telah mengubah desa yang gelap gulita menjadi ramai dengan hiburan dan kegiatan ekonomi.
Sosok Percut, kepala dusun di pedalaman Kalimantan Barat, dengan kerja keras telah membuka akses transportasi bagi masyarakat di daerah terisolasi dan terpencil. (Rifwan Hendri, Jejak Pemberdaya, terbitan Tim Info Tempo bekerjasama dengan Bank Danamon, Cetakan I, Mei 2008)
Sosok-sosok inilah figur pahlawan sejati. Mereka telah bekerja dan membawa manfaat bagi kemaslahatan kepada masyarakat. Nilai-nilai kepahlawanan yang dulu dilakukan oleh founding fathers telah mereka hayati dan diimplementasikan dalam kehidupan nyata untuk perbaikan kehidupan masyarakatnya.
Masyarakat pun merasakan dari kepeloporan mereka. Namun, problem mereka sering tidak ter-cover oleh media dan sunyi dari pemberitaan. Padahal kinerja mereka ini telah “meramaikan” kehidupan masyarakatnya. Sosok-sosok ini masih banyak dan terus bekerja di masyarakat. Mereka tidak peduli selebrasi dan kepopuleran, pokoknya mereka bekerja dan bekerja untuk peningkatan taraf hidup masyarakatnya.
Mereka inilah yang dalam konteks sekarang ini sering disebut dengan wirausahawan sosial. Mereka adalah orang-orang yang mendedikasikan dirinya untuk mengabdi kepada masyarakatnya serta mengadakan perubahan radikal dalam rangka membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik. Peter F Drucker, seorang ahli manajemen dari Amerika Serikat (AS), mengatakan bahwa para wirausahawan sosial mengubah daya kinerja masyarakat.
Mereka yang disebut wirausahawan sosial ini layak disebut sebagai pahlawan. Mereka telah melakukan proses internalisasi mengenai nilai-nilai kepahlawanan pada dirinya, kemudian diimplementasikan secara nyata untuk melakukan perubahan.
Dengan demikian, peringatan Hari Pahlawan yang telah berlalu dan di masa-masa mendatang, tidak boleh kehilangan makna. Selain melaksanakan prosesi seremonial untuk memperingati hari bersejarah, tak lupa pula nilai-nilai yang terkandungnya dihayati dan diikuti sebagai panduan untuk menata pembangunan masyarakat.

oleh: Muhtadi
sumber :suara karya online