Menjadi guru di abad 21 berbeda dengan guru di abad 20-an. Di era digital seperti sekarang ini, eksistensi guru tidak lagi dilihat dari kharismanya semata. Lebih dari itu, bagaimana seorang guru mampu berkomunikasi dan beradaptasi mengikuti arah tangan zaman. Guru di era digital dituntut mampu berinovasi dan berkreasi, karena sistem pembelajaran tahun 80-an sudah tidak diterima oleh anak didik zaman sekarang.
Kenyataan memilukan yang terjadi pada dunia pendidikan kita adalah kemajuan zaman tidak berbanding lurus dengan kemajuan guru. Kita pun masih menyaksikan realitas yang kontras antara guru dan murid. Murid sudah sedemikian maju dalam iklim digital, sementara guru masih berkutat pada tradisi tektual.
Guru sekarang masih banyak memakai produk 80-an, sementara muridnya sudah memakai produk kontemporer. Akibatnya, para murid berbeda secara radikal dengan para guru, karena banyak terjadi ketidaknyambungan di sana-sini.
Kita tahu bahwa murid sekarang tidak lagi cocok dengan sistem pendidikan abad 20. Namun, praksis di lapangan, para guru masih tidak memahami hal ini. Banyak guru kita yang lambat sekali mengejar laju modernisasi pendidikan.
Yang terjadi kemudian adalah murid sudah mampu menerima informasi secara cepat dari berbagai sumber multimedia, sementara banyak guru acapkali memberikan informasi dengan lambat dan dari sumber-sumber terbatas. Para murid suka melihat gambar, mendengarkan musik dan melihat vidio terlebih dahulu sebelum melihat teksnya, sementara guru memberikan teks terlebih dahulu. Para murid suka melakukan kegiatan berbarengaan sekaligus, seperti menyelesaikan tugas sambil mendengarkan musik dari iPod, sementara guru cenderung menghendaki untuk melakukan satu hal saja pada satu waktu.
Murid ingin mengakses informasi multimedia hyperlink secara acak, sedangkan guru lebih suka menyediakan informasi secara linear, logis, dan lempang. Murid menyukai intereksi simultan dengan banyak orang, sementara gurunya menginginkan muridnya bekerja secara independent. Murid menyukai pelajaran yang relevan, menarik, dan dapat langsung digunakan (instan), gurunya ingin mengikuti kurikulum dan memenuhi standarisasi.
Fenomena ini seolah menjadi pil pahit yang harus kita telan bersama. Geliat dunia virtual yang dewasa ini lebih digandrungi oleh anak didik kita menjadikan guru harus berpikir ulang untuk menata sistem mengajar yang relevan, inovatif dan adaptif.
Coba bayangkan, murid sekarang selain mengikuti materi secara face to face terhadap guru di sekolahan, mereka juga memiliki guru yang luar biasa ampuh di ruang virtual, yaitu “Mbah Google”. Mesin pencari Google ini mampu memfasilitasi pencarian ilmu pengetahuan dengan sangat cepat dan praktis. Google yang diciptakan oleh Larry Page dan Sergey Brin pada tahun 1995 seolah membalikkan sekat keterbatasan informasi. Para siswa dapat menggali informasi apa saja dari seluruh belahan dunia tanpa harus bercapek-capek. Cukup duduk manis, “klik”, dalam hitungan detik akan muncul apa yang diinginkan.
Apalagi fenomena jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Jejaring sosial yang sedang marak digandrungi masyarakat ini juga berpotensi besar menggeser peran guru sebagai seorang pendidik yang salah satu fungsinya adalah menyebarkan informasi dan ilmu pengetahuan. Betapa tidak, melalui dunia virtual, siswa mampu dengan mudah bergaul, berkonsultasi, bertegur dan bersapa ria, dan menggali relasi dari siapa saja lewat layanan catting yang tersedia.
Oleh karena itu, kondisi riil abad 21 ini akan menjadi tantangan atau bahkan ancaman tersendiri bagi guru. Sebab, guru yang datang dari dunia pra-digital akan sangat kualahan menghadapi murid era digital. Kenyataan yang terjadi guru akan menemui kesulitan dalam membangun komunikasi yang efektif dengan anak-anak. Karena kebiasaan dan cara belajar mereka sering berbeda. Hal inilah yang acapkali membuat kedua belah pihak, murid di satu pihak dan guru di lain pihak, sama-sama frustrasi.
Jembatan Revolusi

Oleh karenaa itu, sistem pendidikan yang masih terjebak pada otoritas struktural-birokratis harus segera dibenahi. Daya kreasi dan inovasi seorang guru harus segera dimunculkan. Guru era digital tidak boleh mengikuti kurikulum yang baku dan kaku. Sebab, kenyatan dari banyaknya sistem pembelajaran yang berlangsung, guru masih berkutat pada apa-apa yang tengah dicetuskan oleh pemerintah, di mana ketika guru mengajar hanya terpaku pada target kurikulum yang kaku dan mekanistis. Dengan demikian, banyak kita ditemukan tipe-tipe guru kurikulum, yakni guru yang melihat tolok ukur keberhasilan dipusatkan pada angka kuantitatif yang diperoleh dalam evaluasi saja.
Fenomena ini tentu memberikan pengertian bahwa eksistensi guru dari satu sisi akan mengalami ancaman, karena guru akan kehilangan pekerjaan dan ditinggalkan muridnya. Namun, di sisi lain, guru justru banyak sekali mendapat peluang apabila mampu meningkatkan profesionalitas dan kapabilitasnya.
Dengan kata lain, jika guru belum bisa sepenuhnya masuk di era digital, mereka bisa menjadi jembatan revolusi. Yakni, dengan cara menjadikan dirinya sebagai motivator, yang menggerakkan anak didik pada sumber belajar yang dapat diakses. Sebagai dinamisator, yakni memantau anak didik agar mengembangkan kreativitas dan imajinasinya. Dan, sebagai evaluator dan justifikator, yaitu dapat menilai dan memberi catatan, tambahan, pembendaharaan, dan sebagainya terhadap temuan siswa.
Dengan strategi ini, guru tidak akan ditinggalkan muridnya. Setidaknya guru masih mampu bertahan sembari membangun potensi dan profesionalitasnya. Harus diakui, di abad informasi dan digital seperti sekarang, sebagaimana dikatakan Daniel Bell, kehidupan akan ditandai lima kecenderungan.
Pertama, adanya kecenderungan penggunaan teknologi tinggi (high technology) khususnya teknologi komunikasi dan informasi. Kedua, kecenderungan interdependensi (kesalingtergantungan). Ketiga, kecenderungan munculnya penjajahan baru dalam bidang kebudayaan (new colonization in culture). Artinya, pola pikir (mindset) masyarakat pengguna pendidikan mengalami pergeseran. Keempat, kecenderungan untuk saling berintegrasi dalam kehidupan ekonomi dan kecenderungan untuk saling berpecah belah (fragmentasi) dalam bidang politik. Kelima, di tahun-tahun medatang sebagai akibatnya akan lahir gaya hidup baru yang mengundang akses-akses tertentu.

oleh :Ali Rif’an
sumber : Suara Karya online